Tasawuf

Antara Takut dan Harap

Dalam hidup kita mesti punya keinginan, dan merasa optimistis bahwa keinginan itu bakal tercapai. Bahkan di saat yang muskil pun kita tidak boleh kehilangan harapan. Dalam dunia tasawuf inilah yang disebut raja’.

Ini kisah yang diceritakan  Rasulullah s.a.w. kepada para sahabat tentang tiga laki-laki yang melakukan perjalanan. Kisah ini direkam dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

“Mereka adalah dari orang-orang terdahulu, sebelum kalian,” kata Nabi memulai ceritanya. Setelah seharian menempuh perjalanan, mereka akhirnya harus menginap di satu tempat, yang tak lain sebuah gua. Begitu mereka masuk, tiba-tiba sebuah batu besar menggelinding dari atas bukit dan menutup pintu gua. Kata Nabi, mereka berkata, “Demi Allah, kita tak bakal selamat dari batu besar ini, kecuali kita berdoa kepada Allah lantaran amal-amal kita yang saleh.” Lalu berceritalah  seorang dari mereka:

“Aku punya orangtua yang sudah renta kedua-duanya. Suatu hari aku teramat sibuk oleh suatu pekerjaan, sampai-sampai aku terlambat pulang, di waktu sore seperti biasanya. Mereka sudah tertidur waktu aku sampai di rumah. Lantas aku membuatkan  susu untuk minum sore mereka. Tetapi waktu aku akan gidangkan mereka sudah benar-benar pulas. Aku merasa bersalah jika harus membangunkan mereka, dan aku tidak ingin meminumnya sebelum mereka minum. Aku hanya bisa berdiri, sementara tempat minum ada di tanganku, sambil menunggu mereka bangun, hingga fajar tiba. Keduanya pun bangun, lalu meminum susu-sore itu. Ya Allah, jika yang aku lakukan itu semata hanya untuk Diri-Mu, maka bukakanlah kami dari kesulitan dalam gua.”

Kata Nabi, “Lalu natu itu pun bergeser sedikit. Namun belum memungkinkan mereka untuk keluar.”

Dan inilah penuturan laki-laki yang kedua: “Ya Allah, aku punya adik sepupu yang sangat aku cintai. Suatu ketika aku merayunya tapi dia menolak, sampai akhirnya aku merasa sedih selama setahun. Suatu hari ia datang kepadaku, dan aku beri dia 120 dinar, dengan syarat ia mau untuk berdua-duaan denganku. Maka kami pun berduaan. Tatkala aku menguasai dirinya, dia berkata, ‘Tidak hahal bagimu memecah cincin, kecuali yang berhak.’ Maka aku merasa berdosa untuk menyetubuhinya, dan aku pergi meninggalkannya. Padahal dia gadis yang paling kucintai. Sementara aku tinggalkan uang yang sudah aku berikan padanya. Ya Allah, bila yang kulakukan itu semata demi Diri-Mu, maka bukakanlah kami dari kesulitan di dalam gua ini.”

Nabi berkata, ”Lalu gua itu bergeser lagi. Tetapi mereka belum juga bisa keluar.”

“Ya Allah, sesungguhnya aku memperkerjakan para buruh, kemudian aku telah memberikan upah mereka semua, kecuali seseorang di antara mereka yang pergi begitu saja. Namun upah itu aku simpan dan aku kembangkan. Suatu saat dia datang kepadaku, sambil berkata, ‘Hai Abdullah, mana upahku dulu?’ Kujawab, ‘Upahmu itu adalah semua yang kau lihat ini, antara lain unta, kambing, sapi, dan budak itu.’ Dia berkata, ‘Hai Abdullah, jangan menghinaku.’ Aku katakan, ‘Aku tidak menghinamu.’ Lantas kuceritakan kisahnya, dan akhirnya semuanya diambil, digiringnya, tidak disisakan sama sekali. Ya Allah, apabila yang kulakukan itu semata demi-Mui, maka bukakanlah kami dari kesulitan di dalam gua ini.”

Itulah cerita lak-laki yang ketiga. “Batu itu bergeser lagi. Mereka pun akhirnya keluar dari gua,” kata Nabi, mengakhiri kisahnya tentang tiga laki-laki di zaman dahulu kala itu.

Bolehlah kita memetik hikmah dari kisah tiga laki-laki sebelum zaman Rasul itu. Yakni orang-orang yang beramal saleh, hidup di zaman kapan pun, sepertinya tak pernah kehilangan harapan. Bahkan dalam situasi muskil, atau dalam keadaan menakutkan, mencemaskan, seperti dihadapi tiga laki-laki yang diceritakan Rasulullah tadi.

Berkata Ahmad ibn Muhammad Ar-Rudzbari, sufi yang wafat pada 322 H/934 M, “Takut dan harap (raja’) adalah seperti sepasang sayap seekor burung. Manakala kedua belah sayap itu seimbang, burung itu pun akan terbang dengan sempurna. Tetapi ketika salah satunya tidak berfungsi, hal itu akan menjadi si burung kehilangan kemampuan terbangnya. Apabila takut dan harap kedua-duanya tidak ada, maka si burung akan terlempar ke jurang kematiannya.”     

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda