Cakrawala

Wakaf, Diperhitungkan Tapi Nyaris Terabaikan

Wacana wakaf, menguliknya dari rujukan non-Arab, tepatnya dari khazanah kekhilafahan Turki khususnya dinasti Usmani. Dari sana kita tahu, wakaf yang eksis – dari segi praktik dan hukum, telah melintasi  rentang panjang masa pemerintahan Bani Umayah, Abbasiyah, Mamalik, Seljuk, hingga menemukan bentuknya paling dinamis di era Usmani  sebagai pemerintahan Islam terakhir yang paling dekat dengan masa kita. Era Usmani memiliki  urgensi khusus bahkan demikian mendasar dalam struktur politik, kultural, ekonomi dan sosial Islam. Betapa dalam sejarahnya, pernah ada puluhan ribu institusi wakaf berkembang dalam berbagai wujudnya.  

Arsip pemerintah (khususnya kekhilafahan Usmani) sampai tahun 1926 saja – mencatat 29.000 wakaf di Turki. Menurut banyak pakar sejarah Usmani, bahkan lebih dari jumlah itu. Tidak kurang dari 50.000 wakaf (Nazif Ozturk, 1983). Sebagian menyebut angka 60.000 dan 75.000. Begitu berkembang masyarakat Islam ketika itu (pada era ini), sehingga beberapa penjelajah Barat menyebut Imperium Usmani sebagai “surga wakaf” (Turan Yazgan, 1977). Hanya saja, sentralisasi yang hadir bersama sistem negara modern menyebabkan wakaf ditepikan, dan di awal Republik ada usaha sistematis melemahkan wakaf lewat stigmatisasi wakaf sebagai bentuk monopoli aset dan melahirkan mental pengemis dalam masyarakat Turki, sehingga wakaf yang diwariskan ke masa kini hanya sebagian kecil. Lalu jumlah tersebut terus berkurang bersamaan berbagai kudeta yang mengekang gerakan dan peran sipil. Saat ini, tercatat sekitar 4500 institusi wakaf, di samping 80 ribu asosiasi di Kementerian Dalam Negeri Turki. Sebagian besarnya baru muncul dalam lima belas tahun terakhir.

Sebelum lahirnya sistem negara modern, wakaf memiliki peran mendasar mengurus seluruh kebutuhan sipil masyarakat. Hukum dan keamanan baik dalam maupun luar menjadi tugas negara, sedangkan keagamaan, pendidikan, kesehatan, layanan pekerjaan umum, jalan, air, penerangan, wc umum, dan layanan sosial lainnya dikelola oleh wakaf, baik yang merupakan insiatif masyarakt maupun yang didirikan personel pemerintahan. Lebih dari itu, wakaf juga mengambil peran dalam melayani para musafir, menebus tawanan, melakukan kegiatan hiburan bagi anak-anak yatim, anak-anak sekolah, membantu fakir miskin, mengurus binatang, bantuan bencana, pengembangan masyarakat, hingga isu lingkungan.

Esat Arsebuk mengungkap bagaimana wakaf pada era Usmani. Katanya, dengan lembaga wakaf yang berperan besar di masa Usmani, seseorang lahir di rumah wakaf, tidur di ayunan wakaf, makan dan minum dari harta wakaf, belajar dengan buku-buku wakaf, kemudian mengajar di madrasah wakaf dan menerima gaji dari lembaga wakaf, ketika meninggal, ia diusung di keranda wakaf dan dimakamkan di pemakaman wakaf. Sebuah potensi yang begitu besar, di mana wakaf melingkupi berbagai segi kehidupan (Esat Arsebuk, 1938). Dengan demikian, wakaf menjadi sendi utama kehidupan  masyarakat. Dalam kelembagaan wakaf sendiri sangatlah dinamis, melibatkan ribuan orang, memberikan penghidupan ribuan lainnya. Dengan fungsi seluas itu, wajar jika wakaf mengelola omset yang sangat besar. Pada masa Usmani, 15-20 persen perekonomian dikelola wakaf (Armagan, 2006),  misalnya, di wilayah Anatolia, pada tahun 1530-1540, sebesar 17 persen GDP (79.784.960 akce) adalah milik wakaf. Dan ini hanya omzet di sektor pertanian, belum termasuk sektor lainnya. Pada abad 17, 15.97 persen, di abad 18, 26.80 persen, dan pada abad 19, 15.77 persen perekonomian diputar oleh instansi wakaf. Sebagian sejarawan bahkan memperkirakan sekitar sepertiga perekonomian diputar oleh instansi wakaf. 

Lebih jauh dari sekadar fenomena kemasyarakatan,  wakaf pada era Usmani menjadi struktur inti pemukiman dan tata kota, bahkan merupakan prototype perencanaan kota. Kita bisa melihat pola ini menjadi pola dasar tata ruang dalam perbandaran masyarakat muslim. Ini dicirikan dengan: masjid berikut berbagai institusinya dibangun di tengah kota (pemukiman) dan menjadi pusat dan nadi kehidupan masyarakat. Wakaf dalam konsep Usmani adalah konsep pusat kehidupan masyarakat yang menyeluruh mencakup masjid, madrasah, pustaka, rumahsakit, pertokoan dan sebagainya. Pada era ini, keberadaan institusi wakaf dan seluruh perlengkapannya menjadi unsur kategorik menentukan sebuah pemukiman berstatus kota atau bukan.  

Distrik Fatih misalnya, dibangun dan berkembang setelah Muhammad Alfatih membangun “Fatih Kulliyesi” (Kompleks Fatih), pada tahun 1463 (867 H), berupa masjid, Mesjid, disertai dengan madrasah (institusi pendidikan tinggi), maktab (pendidikan rendah), pustaka, darus-syifa (rumah sakit yang juga merupakan tempat belajar dan praktek pelajar medis), imaret (tempat memasak makanan seluruh personal wakaf, dan memberikan makanan gratis kepada fakir miskin dan para musafir), kervansaray (tempat istirahat kafilah dagang, mengistirahatkan hewan dan kebutuhan lainnya), rumah inap, rumah jompo, tekke, abdesthane, hammam (sarana MCK/tempat mandi dan wc umum), dan pemakaman. Juga terdapat pelengkap seperti muwakkithane (kantor petugas penjaga waktu), sadirvan (tempat wudhu), cesme (bak penampung air), sebil (kran untuk minuman para musafir), dan lainnya. Pada kompleks yang lain, kadang dilengkapi dengan tekke/zawiyah, yakni tempat pembelajaran nilai-nilai tasawuf dan seni Islam seperti sastra, musik dan seni keindahan.

Era Usmani menjejakkan manajemen wakaf yang berjalan sedemikian rapi, bahkan memberi prototipe standar institusi wakaf yang dibangun oleh Sultan. Prototipe ini menjejakkan dua  kategori struktural, pertama, muessesat-I hayriyye atau yayasan karitatif berupa masjid, madrasah, pustaka, rumahsakit dan lainnya yang bergerak di bidang sosial-budaya. Kedua, akarat-I mevkufe alias real-estate wakaf, yang wujudnya aset yang dikelola profesional sebagai sumber pendapatan, dan pada waktu yang sama merupakan infrastruktur kegiatan perdagangan, manufaktur, kesehatan semacam pasar, blok (pasar khusus), bazar, ruko, wc.  Selain itu, juga terdapat real estate berupa sawah, kebun atau perumahan yang disewakan. Tradisi Usmani ini diawali Orhan Gazi, putra Usman Gazi, pendiri dinasti Usmaniyah, dengan membangun madrasah dan masjid di Iznik (Nicea),  dibarengi pembangunan real estate yang dikomersialkan. Real estate dibangun dan diwakafkan untuk membayar para guru, biaya hidup para pelajar, imam, khatib, juru masak, pelayan, kuli angkut, dan sebagainya. Begitu juga ketika ibukota pindah ke Bursa, sebuah komplek waqaf dibangun dan disertai dengan real estate lainnya.. Saat Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel dan memindahkan ibukota ke Istanbul, yang pertama dibangun oleh sang Fatih adalah wakaf. Ayashofiya dibeli dan diwakafkan untuk ummat, disusul Bedestan dan Kapalicarsi dibangun sebagai bagian dari wakaf Ayashofia. Pendapatan dari pasar ini dialirkan untuk pembiayaan wakaf tersebut, sebagaimana dipaparkan Halil Inalcik (1990) dalam buku Istanbul an Islamic City.

Komplek Fatih yang dibangun oleh Muhammad Al-Fatih, terdiri dari masjid, maktab (sekolah rendah), madrasah, sekolah tinggi, pustaka, muvakkithane (kantor petugas jam), pemakaman, darussyifa (rumah sakit sekaligus tempat belajar dan praktek paramedis), imaret (rumah inap), kervansaray (tempat singgah karavan dagang), pertokoan, dan dapur umum. Untuk membiayai wakaf ini, Muhammad al-Fatih memilah aset dan alokasi dari pertanian, real-estate dan pajak. Di Galata, terdapat 4250 kedai, tiga ishane, empat hammam, empat kosk (villa), sembilan bidang kebun, pertokoan perhiasan dan 1130 rumah. Pada akhir abad ke18, imaratimarat (dapur sosial) Istanbul memberi makan kepada sekitar 30 ribu fakir miskin.

Bezmi Alem dan Wakaf Ghuraba, sebuah rumah sakit (beserta akademi kedokteran) dan panti jompo yang diwakafkan oleh Valide sultan, dan dibiayai dari kebun zaitun yang diwakafkan bersamaan di Ayvalik. Wakaf  real estate dan perkebunannya ini masih terus dikelola dan memberi manfaat hingga sekarang. Selain itu, waqaf juga menerima dana pajak dari negara. Sistem wakaf menjadi politik negara, diayomi, didukung, dan digalakkan dengan alokasi bujet yang jelas. Disebutkan bahwa sebagian daerah, terkadang peruntukan wakaf dari pendapatan pajak hingga angka 17 %. Pada masa Seljuk, pajak dari sebagian wilayah, 14 persennya dialokasikan untuk wakaf. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa wakaf dikelola dengan dana yang didapat dari kegiatan perekonomian yang dikelola secara profesional, berupa: tanah dan pertanian,termasuk pajak yang diterima dari tanah dan hasil tersebut; real-estate: GrandBazar, Bedestan (pasar khusus emas dan perhiasan), ruko, tempat mandi dan wc umum, rumah yang disewakan; uang tunai yang diputar, baik itu yang dikelola sebagai institusi keuangan maupun dalam bentuk modal usaha secara langsung, serta lain-lain seperti kapal yang disewakan, kuda, peralatan pertanian, dan sebagainya.

Turki era Usmani meneladankan manajemen wakaf yang kompleks – sedemikian rupa sehingga menghidupkan kota bahkan negara. Layanan wakaf mencakup dari urusan keagamaan hingga masalah lingkungan. Tentunya semuanya berazas memberi manfaat kepada makhluk hidup. Di ranah keagamaan dan sosial-budaya, demikian banyak ragamnya mencakup jenis wakaf yang umum dan lazim dikenal di seluruh bagian dunia Islam. Pada ranah bantuan sosial, ada dapur umum (imaret), setiap harinya memberikan dua kali makan gratis. Imaret biasanya terdiri dari dapur, ruang makan, lumbung, (gudang), ruang inap musafir, dan kandang hewan. Di Istanbul, pada abad ke-18, termasuk para pekerja di yayasan, guru, pelajar, sufi yang hidup di dergah, fakir miskin sekitar, dan para musafir, Imaret di Istanbul memberi makanan sampai sekitar 30 ribu orang setiap harinya.  Pada ranah layanan kesehatan, tercatat bahwa setiap wakaf yang dibangun dalam bentuk komplek pasti memiliki rumah sakit. Pada zaman Usmani, tidak ada satu pun rumah sakit yang dibangun oleh pemerintah, dan seluruh personal rumah sakit digaji dari yayasan wakaf. Di ranah layanan perbandaran/layanan publik: pemerintah kota mulai dikenal dalam pemerintahan Usmani pada 1856 di Istanbul. Sebelumnya seluruh layanan perbandaran dikelola oleh wakaf.  Pembangunan jalan, jembatan, kanal, bendungan, sumur air, rumah singgah, mercusuar, trotoar, penerangan jalan, kebersihan jalan dan kota, dan lainnya ditangani oleh wakaf. Begitu juga rumah potong, warehouse, dan kebutuhan lain masyarakat perkotaan, dibangun sebagai bagian waqaf. Pada abad ke 16, Sultan Sulaiman yang memandang pembangunan sistem air sebagai kewajiban agama, melakukan perbaikan besar-besaran untuk sistem air kota Istanbul yang saat itu berpenduduk 250 ribu jiwa. Dan membangun hal yang sama di berbagai kota penting selain Istanbul, seperti Makkah, Madinah dan Qudus.

Praktik manajemen wakaf era Usmani, menjadi jejak yang bukan saja fenomenal. Ia memberi pijakan pengembangan di masa depan. Khazanah manajemen wakaf era Usmani, bagai mata air inspirasi bukan saja bagi dunia Islam, tetapi bagi dunia. Jejak manajerial ini ikut melahirkan intelektual profesional dan praktisi, mengisi perpustakaan berbagai bidang ilmu, di mana wakaf secara signifikan merekamkan jejak berpikir yang dilandasi kemauan kuat melestarikan kesalehan.

——

Rujukan:

Nazif Ozturk, Osmanli Doneminde Vakiflar, 1983

Turan Yazgan, Gorusler, Istanbul 1977

Esat Arsebük, Medeni Hukuk, Başlangıç ve Şahsın Hukuku I, İstanbul 1938, s.298.

Aydin Alcin, Turkiye Iktisat tarihi, Ankara 1979

Mehmet Maksudoglu, Osmanli History and institutions, Ensar Nesriyat, Istanbul (2011)

Halil Inalcik, Istanbul an Islamic City, İstanbul, 1990

Ibrahim Erol Kozak, Bir Sosyal muessesesi olarak vakif, Istanbul 1885

About the author

Andika Rahman Nasution

Penulis sedang mengikuti program doktoral di Istanbul Sahabattin Zaim University, program Kajian Sejarah dan Peradaban. Saat ini bergelar MA (Master of Arts) bidang Sosiologi Agama.

Tinggalkan Komentar Anda