Tafsir

Tafsir Tematik: Biara, Gereja, Sinagog, dan Masjid (2)

Written by Panji Masyarakat

Diizinkan bagi mereka yang diperangi, karena mereka sudah dianiaya, dan bahwa Allah untuk menolong mereka mahakuasa. Mereka yang diusir dari kampung halaman mereka sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami, Allah. Dan kalaulah bukan karena Allah menolak (keganasan) manusia, sebagiannya dengan yang sebagian, sudah dihancurkanlah biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid yang di dalamnya disebut nama Allah banyak sekali. Allah akan pasti menolong siapa yang menolong Dia. Allah mahakuat Mahaperkasa.” (Q. 22:   39-40).        

Menyombong di Depan Allah

Berkata Adh-Dhahhak r.a.: para sahabat Rasulillah s.a.w. memohon izin untuk memerangi para kafir yang mengganggu mereka di Mekah. Allah kemudian menurunkan, “Allah tidak menyukai setiap penghianat dan pengingat ni’mat’ (Q.22:38). Maka ketika Rasul berhijrah, diturunkan: “Diizinkan (berperang) bagi mereka yang diperangi, karena mereka sudah dianiaya.” Ini, menurut Ad-Dhahhak, “menghapus semua (anjuran untuk) sikap menghindar, meninggalkan, dan memaafkan (kaum kafir, dalam periode Mekah) yang dalam Alquran.”

Berkata Ibn Abbas dan Ibn Jubair r.a.: ayat ini diturunkan waktu hijrah Rasulillah s.a.w. ke Madinah. Menurut Ibn Abbas, dalam riwayat Nasa’i dan Turmudzi, ketika Nabi s.a.w. dikeluarkan dari Mekah, berkata Abu Bakar r.a., “Mereka mengusir nabi mereka agar beliau benar-benar menghancurkan mereka.” Aku sudah tahu nantinya akan terjadi perang.” (Qurthubi, XII: 62).

Berkata Ibnul Arabi: Sebelum Baiat Aqabah (janji prasetia penduduk Madinah yang datang ke Makkah untuk memberikan jaminan perlindungan kepada Nabi bila beliau berhijrah ke kota mereka), perang dan pertumpahan darah tidak diizinkan untuk beliau. Beliau hanya diperintahkan mengajak kepada Allah, bersabar terhadap gangguan dan memaafkan orang-orang bodoh itu, dalam jangka 10 tahun. Itu demi menegakkan hujjah Allah pada mereka dan memenuhi janji-Nya yang telah dianugerahkan-Nya dengan firman-Nya, “Dan tidaklah kami menurunkan azab sebelum kami mengutus seorang rasul” (Q. 17:15).

Tetapi kemudian orang-orang berketerusan melampaui batas, tidak mengambil petunjuk dengan keterangan yang jelas. Kaum Quraisy menindas orang-orang mereka yang mengikut beliau,  para muhajirin itu, dan memberikan percobaan besar kepada mereka dalam hal agama mereka dan mengusir mereka dari negeri mereka. Ada yang lari ke Habsyi; ada yang ke Madinah; ada pula yang bertahan di tengah segala gangguan.

Kemudian, ketika Quraisy begitu menyombong di hadapan Allah, menolak titah-Nya, mendustakan nabi-Nya ‘alaihis salam, dan menyiksa mereka yang beriman kepada-Nya, mereka yang mengesakan-Nya dan menyembah-Nya dan membenarkan nabi-Nya a.s. dan berpegang kepada agama-Nya, Allah pun mengizinkan rasul-Nya  berperang dan melindungi diri dan mencari kemenangan terhadap yang menzalimi mereka, dan menurunkan: “Diizinkan (berperang) bagi mereka yang diperangi, karena mereka sudah dianiaya” (Qurthubi, XII: 69).

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 14 April 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda