Jejak Islam

Di Turki, “Masjid Tua” Bukan Museum!

Masjid, menjadi sentra peradaban yang signifikan di Turki, khususnya pada masa pemerintahan Islam (kekhilafahan). Dengan kekhasannya, coba simak masjid-masjid ini, yang menjadi ikon wakaf pada bangunan peribadatan yang merumur sangat lama, dan pada zaman ini – jauh setelah kekhilafahan berakhir, masjid-masjid itu masih digunakan, bukan menjadi bangunan museum! Berikut ini beberapa masjid yang masih digunakan untuk aktivitas peribadahan.

Kuşkonmaz Camii (Masjid Burung Tak Hinggap)

Jika anda menyinggahi beberapa masjid besar seperti Fatih, Beyazit, Suleymaniye, Yeni Camii, atau Sultanahmet (Bluemosque), Anda akan ditemani ramai burung yang seolah sudah menjadi empunya ruang halaman dalam dan luar masjid tersebut. Tapi beda dengan yang satu ini, sebuah masjid di pinggiran tebing Uskudar. Namanya Şemşi Paşa Camii, karena dibangun oleh Pasha tersebut. Namun di kalangan masyarakat dikenal dengan nama Kuşkonmaz Camii, artinya Masjid Burung tak Hinggap. Arsiteknya Mimar Sinan. Arsitek legendaris Usmani yang telah dikenal luas kehebatannya. Jika Anda bersiar ke Uskudar, anda bisa mendapati masjid ini tidak jauh dari perhentian Marmaray. Jika Anda berhelat disana, mungkin Anda hanya akan melihat satu, dua atau tiga burung yang hinggap, kemudian berlalu.

Kisahnya begini. Menurut cerita rakyat, pada masa itu, masa pemerintahan sultan Murat ke-3, di akhir tahun 1500-an, ada dua teman, ahli negara yang selalu dalam persaingan. Şemşi Paşa dan perdana Menteri saat itu Sokullu Mehmet Paşa. Paşa adalah gelar kebangsawanan tertinggi dalam tradisi Usmani yang diberikan oleh Sultan, semacam Tuan atau Datuk. Sang perdana menteri telah membangun sebuah madrasah. Suatu hari, dalam cengkerama mereka sang jenderal, Şemşi Pasha menyindir: “Bagus kamu bangun madrasah, tapi sayang habis dikotori burung”. Perdana menteri hanya menjawab: “Lumrah. Makhluk Allah, semua yang terbuka bisa ia kotori”.

Suatu hari, Şemşi Pasha ingin berwakaf, meninggalkan amal jariah yang akan terus mengalirkan pahala. Ia ingin membangun masjid, tapi teringat kata yang pernah ia ucap. Jangan sampai ludah terkena muka sendiri, ia pun berfikir mencari solusi. Ia mendatangi Mimar Sinan yang tersohor tersebut. Ia kemukakan niatnya dan ia sebutkan juga bahwa ia ingin membangun masjid yang tidak akan dikotori burung. Ada tidak tempat yang tidak disinggahi burung, tanyanya. Mimar sinan yang sudah tungkus lumus dalam dunia arsitek, memperhatikan banyak fenomena alam, atas dasar pengalamannya tersebut pun menjawab: Ada. Ia menunjuk sebuah tempat di tepian tebing kota kecil Uskudar. Menurutnya, tepian ini merupakan tempat pertembungan angin utara yang berhembus dari Laut hitam, dan angin selatan yang berhebus dari laut Marmara. Aliran arus selat Bosphorus pun bertumpu ke tebing ini. Getaran-getaran suara ini membuat burung tidak nyaman.

Şemşi Pasha pun memerintahkan untuk dibangunkan masjid di tempat tersebut atas namanya. Masjid yang juga mempunyai madrasah dan pustaka ini dibuka pada tahun 1580 dan masih tetap dipakai hingga hari ini.

Masjid Sulaimaniyah

Masjid Sulaimaniah, (Tr; Süleymaniye Camii), lebih dari sekedar tampilan estetiknya, atau letaknya yang panoramik, atau keajaiban arsitek dan teknik fisikanya, hal lain yang tidak kalah penting adalah kedudukan dan fungsinya dalam sistem sosial kehidupan masyarakat.

Menjadi semacam budaya dalam masyarakat Turki (Utsmani), baik dari golongan istana, kaum tajir, maupun dari rakyat biasa, berwakaf untuk kemaslahatan ummat. Dan Sulaimaniah ini adalah salah satu contoh tipik-alnya.

Masjid ini dibangun bukan sekedar tempat sujud dan ruku’ sendi tubuh dalam ibadah mahdhah, tapi sebagai komplek tempat bersujud seluruh sendi kehidupan. Karena komplek ini dilengkapi dengan berbagai kelengkapan infrastruktur kehidupan seperti maktab (sekolah pendidikan dasar), madrasah (institusi pendidikan tinggi) dengan berbagai jurusan seperti al-qur’an, hadis, ilmu keislaman umum, sekolah kedokteran; dilengkapi dengan rumah sakit, dimana semua orang bisa berobat sesuai kemampuannya, ada yang membayar, ada yang berdiskon, ada yang gratis; Ada tempat penginapan para musafir, lengkap dengan tempat persitirahatan kuda (hewan lainnya); Ada dapur umum yang memasak makanan untuk para pekerja masjid, ahli madrasah, pekerja rumahsakit, para pesakit, para musafir yang sedang bersinggah maupun fakir miskin di sekitar; Dan tak lupa ada pertokoan, perumahan dan lahan produktif yang dikelola atau disewakan untuk memenuhi pembiayaan semua aktifitas tadi. Ia menjadi sentra keagamaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan aktifitas kehidupan lainnya.

Ini wakaf, modalnya dari Sultan Sulaiman, pengelolaannya oleh para profesional, dan manfaatnya untuk seluruh ummat. Begini lah wakaf, tradisi filantropi berkelanjutan yang menyentuh seluruh aspek hidup, yang diajarkan, dihidupkan dan dicontohkan oleh Rasulullah dan generasi awal terbaik. İni dia wakaf, sistem jaminan sosial yang diajarkan wahyu, dimana asetnya menjadi milik Allah, tidak boleh diganggu gugat, pengelolanya disebut nazir yang berkewajiban menjaga dan mengelola dengan sebaik mungkin sebagai amanah, dan manfaatnya bersih murni untuk ummat, tanpa sebarang apa pun; dan pahalanya terus mengalir ke pewakaf, sampai ke akhirat.

Sankiyedim Camii (Masjid Seolah Sudah Kumakan)

“Dikisahkan masjid ini dibangun kira-kira di abad ke-18 oleh Keçeci Hayreddin atau Adanalı Şakir Efendi dengan uang yang ia kumpulkan sembari mengatakan “seolah sudah ku makan”. Bangunan yang pernah ludas saat kebakaran Fatih sebelum perang dunia I ini, dibangun kembali dalam bentuk yang berbeda dari aslinya pada tahun 1959-60 dengan dana yang dikumpulkan masyarakat” -Kemuftian Fatih. Begitu isi tulisan batu pengenal masjid tersebut.

Lain “Kuskonmaz Camii”, lain pula “Sankiyedim Camii”, namun keduanya punya nama yang tidak biasa dan sama-sama muncul dari usaha di luar kebiasaan untuk melangkahi hal-hal normal yang menjadi adat kebiasaan. Masjid Kuskonmaz dibangun oleh seorang tuan, Masjid Sankiyedim pula dibangun seorang rakyat sederhana. Karena kesederhanaan itu pula kisah unik ini lahir sehingga nama unik tersebut ditabal: Sankiyedim Camii, artinya Mesjid Seolah Sudah Ku Makan.

Masjid ini terletak di daerah Fatih, tepatnya distrik Zeyrek, tidak berapa jauh dari Masjid Jamik Fatih yang dibangun oleh Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Istanbul yang tersohor itu. Masjid ini dibangun oleh seorang tukang bernama Keçecizade Hayreddin Efendi yang sehari-harinya mengais nafkahnya dengan memperbaiki sepatu. Iri melihat masjid-masjid megah yang dibangun para sultan, terbit pula niatnya ingin membangun sebuah masjid. Lautan mana hendak diduga, kailnya hanya panjang sedepa. Keadaannya sederhana, pendapatannya pun seadanya. Ia pun menemukan jalan dengan menabung. Ia mulai berhemat, tidak berbelanja selain keperluan utama. Ia bertarak, tidak mengikutkan kehendak nafsunya. Setiap kali ia berselera menyicipi makan-makanan atau minum-minuman, ia menahan, menyisihkan uangnya untuk ditabung sambil berujar: Sanki yedim (seolah sudah ku makan). Jika melintasi sebuah rumah makan dan air liurnya terbit, ia masuk terus keluar dan berujar dalam hati: Sanki yedim (seolah sudah ku makan) sembari uangnya ia sisihkan. Setelah dua puluh tahun, uang pun terkumpul secukup membangun sebuah masjid sederhana. Sebab itu, masyarakat yang mengetahui kisahnya ini menamai masjid ini dengan nama tadi: Sanki Yedim (Seolah Sudah Ku Makan).

Beliau hidup di pertengahan abad ke-18. Ada juga riwayat yang menyebutkan nama pembina masjid ini adalah Syakir Efendi, karena memang tidak ada catatan resmi. Bangunan pertama yang asli pernah ludes hangus saat kebakaran besar melanda kawasan Fatih-Unkapanı menjelang perang dunia pertama. Kemudian pada tahun 1959 masjid tersebut kembali dibangun atas prakarsa masyarakat.

About the author

Andika Rahman Nasution

Penulis sedang mengikuti program doktoral di Istanbul Sahabattin Zaim University, program Kajian Sejarah dan Peradaban. Saat ini bergelar MA (Master of Arts) bidang Sosiologi Agama.

Tinggalkan Komentar Anda