Cakrawala

Menata Hidup Membangun Peradaban

Written by Iqbal Setyarso

Tahun 1924, masih dalam rangkaian millennium abad ke 20, adalah tahun keruntuhan khilafah, tepatnya kekhilafahan Ustmaniyah. Diakui atau tidak, momentum itu menginspirasi bangsa-bangsa di dunia, khususnya bangsa muslim untuk membangun kesadaran dirinya sehingga bergegas menata kehidupan masyarakatnya. Dalam bahasa agama, menata hidup berdasarkan dustur ilahiyah (undang-undang dasar kehidupan yang diturunkan Allah untuk hidup dan kehidupan manusia di alam dunia demi kesejahteraan dunia dan kesentausaan akhirat. Agama  itu adalah ketaatan serta kepatuhan, dan terkadang bisa diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan terhadap amal perbuatan di akhirat).

Memaknai Maqashid Syari’ah

Kepemimpinan, tema yang penting dibedah, terlebih menyoal peradaban Islam. Seberapa urgen peradaban Islam bagi umat Islam sendiri? Maka diperlukanlah memaknai maqashid syari’ah. Apa maqashid syari’ah itu? Secara sederhana didefinisikan sebagai tujuan syari’ah. Seseorang tidak dapat dikatakan dapat menegakkan hukum sebelum benar-benar memahami tujuan Allah SWT mengeluarkan perintah dan larangan. Maqashid adalah bentuk jamak dari maqshad atau “maksud dan tujuan”; sedangkan syari’ah berarti “hukum-hukum Tuhan yang diatur agar manusia dituntun  untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat”.

Ada sejumlah pendapat tentang maqashid syari’ah. Musolli  (2018: 63) menyebutkan, Ibnu Ashur mengartikan maqashid syari’ah sebagai nilai atau kearifan yang menjadi perhatian syari’ah dalam semua konten syari’ah, baik detail maupun global.

Pendapat lainnya diungkap Wahbah al-Zuhaili (1986), maqashid syari’ah adalah makna dan tujuan yang dipelihara oleh syara’ dalam semua atau sebagian besar hukumnya, atau tujuan akhir syari’ah dan rahasia ditempatkannya syara’ pada setiap hukumnya.

Lima prinsip yang  harus diwujudkan dan dipertahankan: agama, jiwa, akal budi, garis keturunan, dan properti. Penjelasannya:

(1) Maqashid Syari’ah untuk Memelihara Agama. Sebagai wujud kepedulian Islam terhadap agama, Allah SWT telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk beribadah. Beberapa bentuk ibadah adalah salat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain.

(2) Merawat Jiwa. Demi menjaga keselamatan jiwa manusia, Allah SWT melarang membunuh manusia tanpa alasan yang diizinkan oleh Islam. Jika ada pembunuhan maka wajib menjalankan qishas (QS. Al-Baqarah:178). Selain larangan mengambil nyawa orang lain, Islam juga melarang bunuh diri (QS. An-Nisaa: 29)

(3) Menjaga Pikiran. Hukum Islam melarang alkohol, narkotika, dan apapun yang dapat merusak pikiran. Hal tersebut bertujuan menjauhkan akal manusia dari segala sesuatu yang dapat mengganggu fungsinya. Islam memandang bahwa akal manusia adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Dengan memiliki kecerdasan, manusia menjadi lebih mulia dari makhlul lainnya.

(4) Merawat Keturunan. Menjaga garis keturunan merupakan landasan kewajiban untuk meningkatkan kualitas garis keturunan, membangun sikap mental generasi penerus agar ada rasa persahabatan antar sesama manusia, dan larangan zina dan nikah sedarah.

(5) Merawat Properti. Untuk memperoleh kekayaan halal, hukum Islam mengizinkan berbagai bentuk muamalah. Untuk melindunginya, Islam melarang umatnya mengkonsumsi harta manusia dengan cara yang salah, seperti mencuri, riba, menipu, mengurangi timbangan, korupsi, dan lain-lain.

Determinan Tak Terbantah

Siapakah penentu perubahan? Kaum beragama, orang-orang beriman menyebut Allah sebagai determinan perubahan, diungkap dalam kata innallaha, menunjukkan Allah SWT senantiasa terlibat dalam setiap perubahan, bahkan sebagai faktor penentu (determinan). Kehancuran bangsa-bangsa di bidang ekonomi dan politik tidak terlepas dari faktor kehendak Allah dengan segala hubungan kausalitasnya (QS. Al-An’am: 6), hal itu juga tertera pada ayat lain surah Al-An’am: 44. Begitu pula sebaliknya, bangunnya sebuah bangsa dari kehancuran, tidak lepas dari keterlibatan dan pertolongan Allah Swt (QS. Al-A’raf: 96).

Konsekuensinya, setiap peristiwa sejarah dan proses perubahan harus dilihat dari dua perspektif secara bersamaan, yaitu perspektif kausalitas material dan perspektif kausalitas transendental. Kausalitas material adalah kompleksitas interaksi antarunsur-unsur basyariah (kemanusiaan) berupa indra, anggota tubuh, akal dan hati dalam kepentingan kolektif umat manusia secara material, teknis dan organisasi.

Kausalitas transendental adalah kompleksitas interaksi antarunsur-unsur basyariah dengan unsur-unsur ilahiyah, di mana nilai “kebenaran hakiki” dan “jalan hidup yang benar” diletakkan bagi manusia.

Manusia yang hanya percaya pada kausalitas material akan mudah terjebak dalam pusaran perubahan yang absurd dan mudah mengalami frustrasi, manakal unsur-unsur basyariahnya tidak mampu lagi berhadapan dengan realitas. Sebaliknya, daya tahan peradaban akan terus eksis ketika terjadi perpaduan serasi antara unsur basyariah dan unsur ilahiyah (QS. Asy-Syuara: 61-62).

Kata-kata laa yughayiru maa biqaumin (tidak akan mengubah keadaan suatu kaum) menunjukkan tiga kandungan penting. Pertama, pada awalnya perubahan bergerak dari keadaan yang baik kepada keadaan yang buruk. Allah Swt. Menciptakan alam semesta dengan benar, baik, dan seimbang. Tetapi sifat dzalim dan bodoh (QS. Al-Ahzab: 72) pada diri manusia telah menyebabkan kerusakan dalam sistem kehidupan manusia dana lam semesta (QS. Ar-Rum: 41).

Kedua, kerusakan akan membawa bencana, ketika kerusakan itu sudah berskala kolektif dalam artian ruang lingkup kerusakannya luas dan kerusakan yang terjadi ekses perbuatan kolektif. Atas keadaan ini, perbaikan tidak bisa dilakukan secara individual dan parsial, tetapi melakului pendekatan sistemik. Itulah sebabnya, salah satu pokok ajaran Islam yang penting termasuk amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa. Ini dikenal dengan konsep hisbah (sebagian kalangan mengartikan kontrol publik) dalam Islam.

Ketiga, manusia pada titik tertentu bisa terjebak pada status quo. Yaitu merasa nyaman dengan suatu keadaan sehingga dinamika berubah menjadi jumud. Stagnasi (kebekuan) dalam arti matinya dorongan untuk terus menambah kebaikan secara berproses akan menggerogoti bangunan kebaikan yang ada. Akibatnya, proses pembusukan akan berlangsung dalam sebuah sistem yang ‘statik’ atau ‘jumud’.

Pada tingkat tertentu status  quo sampai pada bentuk seseorang atau suatu masyarakat menikmati kondisi yang rusak atau tidak baik tersebut (QS. Al-Baqarah: 772-74)

Kata-kata hatta yughayyiru maa bianfusihim (hingga mereka mengubah keadaan dirinya sendiri) menunjukkan kaidah mabda’ dan minhaj. Titik tolak (mabda’) perubahan harus dimulai dari pembangunan kembali diri manusia (self-reconstruction) yang dilandasi kesadaran diri (self-awarenes) dan ditopang oleh kemampuan diri (self-capability) yang memadai. Ini menuntut rekonstruksi nilai, sikap, pengetahuan dan orientasi atas realitas yang dihadapi. Titik tolak ini menuntun pada metode (manhaj) untuk mengedepankan pemberdayaan dan pendayagunaan potensi-potensi internal manusia dalam proses perubahan menuju perbaikan.

Dalam konteks sosio-politik, cikal-bakal masyarakat muslim pertama di Madinah berada pada lingkaran persoalan-persoalan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang sulit. Misalnya, beban ekonomi kaum Anshar tidak didukung oleh tingkat kemakmuran yang memadai akibat perang saudara yang panjang, migrasi ratusan keluarga muslim Makkah yang umumnya meninggalkan harta kekayaannya, ekonomi dan perdagangan yang didominasi kaum Yahudi, pertemuan dua kultur masyarakat kota (urban) dan masyarakat pertanian Irural), serta potensi konflik kepentingan antarelite politik di Madinah.

Dalam membangun masyarakat baru ini Rasulullah Saw. tidak menggantungkan diri pada faktor-faktor eksternal masyarakatnya, tetapi dengan membangun dan memperkuat kembali unsur-unsur internal masyarakat muslim.

Firman Allah menyebutkan wa idza aradallahu biqaumin suan (apabila Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum), itu penegaskan Allah agar manusia mempertemukan keinginannya dengan keinginan Allah. Bahwa setiap cita-cita dan upaya perubahan hendaknya mengacu pada hukum perubahandan jalan kehidupan yang digariskan oleh Allah. Maka upaya perubahan tidak akan menghasilkan apapun kecuali kerusakan demi kerusakan (sebagaimana dijelaskan QS. An-Nur 24-55).

Firman Allah pada bagian akhir surah Ar-Ra’d ayat 11 (Dan apabila Allah menghendaki keburukankepada suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya), menegaskan bahwa bansa-bangsa yang mengelola tidak dengan minhaj at-taghyir ar-rabbani (metode perubahan yang bersifat ketuhanan), maka mereka akan mengalami kehancuran dahsyat ang sulit untuk bangkit kembali.

Seorang veteran Amerika Serikat, Hamilton Howze mengungkapkan pengamatannya terhadap kondisi politik, ekonomi, dan sosial masyarakat AS yang mian porak-poranda, dan meramalkan secara ilmiah bahwa peradaban Amerika akan mengalami kehancuran hebat tahun 2020. Saat tulisan ini dibuat, sudah memasuki 2021 – masa ramalan itu agak meleset atau bergeser. Namun kita orang beriman bisa menimbang – terlebih dengan argumentasi ilmiah – bagaimana kondisi yang memburuk pada negara adidaya itu. Wallahu a’lam bish-shawab.

Rujukan:

Al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Usul al-Syari’ah Jilid II (t.t,)

Abdurrahman, HRD Syar’ah: Theory and Implementation, 2014

Musolli, Maqashid Syari’ah: A Theiretical and Applied Study on Contemporary Issues, 2018

Hamilton Howze, The Tragic Descent America in 2020, 1992

Wahbah az-Zuhaily, Ushul al-Fiqh al-Islami, 1986

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda