Mutiara

Sopo Tresno Nyai Ahmad Dahlan

Siti Walidah adalah  pendiri Aisyiah dan perintis asrama putri di lingkungan sekolah  Muhammadiyah Yogyakarta. Hidupnya selama mendampingi sang suami,  K.H. Ahmad Dahlan, ia baktikan untuk kemajuan Muhammadiyah dan Aisyiah.

Sopo Tresno (Siapa Cinta). Demikian nama kelompok pengajian yang didirikan Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan pada 1914. Anggota pengajian khusus perempuan  ini mula-mula dari lingkungan keluarga sendiri, kemudian melebar ke tetangga, dan akhirnya beroleh perhatian masyarakat luas. Selain mengajarkan dasar-dasar keagamaan dan baca  Alquran, istri Kiai Ahmad Dahlan ini juga membimbing bagaimana cara membaca dan menulis untuk para buruh batik dan pembantu rumah tangga.

Melihat perkembangan positif dari perkumpulan tersebut, Kiai Ahmad Dahlan dan sejumlah pimpinan Muhammadiyah,  antara lain Kiai Mukhtar, Ki Bagus Hadikusumo, Haji Fachroddin, menyelenggarakan pertemuan khusus. Pertemuan ini akhirnya memutuskan untuk mengembangkan perkumpulan pengajian Sopo Tresno menjadi sebuah organisasi wanita Islam, yang dilengkapi anggaran dasar serta  peraturan organisasi. Semula ada yang mengusulkan nama Fatimah, tetapi banyak yang  tidak setuju. Lalu diusulkan nama Aisyiyah oleh Haji Fachrodin, yang juga wartawan dan aktivis Sarekat Islam itu. Nama terakhir itulah yang diterima oleh forum  karena dianggap tepat karena diambil dari nama istri Nabi Muhammad s.a.w., Aisyah putri Abu Bakr. Dari nama itu diharapkan agar perjuangan Siti Aisyah dalam mendakwahkan Islam dapat diwarisi oleh pergerakan Aisyiyah.  

Akhirnya pada 27 Rajab 1355 H (/22 April 1917) organisasi Aisyiyah berdiri secara resmi. Siti Walidah memberikan jiwa dan semangat organisasi untuk membawa maju usaha-usahanya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, ia diangkat sebagai ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah secara berturut-turut selama tujuh periode (1921-1934).

Siti Walidah  lahir pada 1872 di Kauman, Yogyakarta. Ayahnya, H. Muhammad Fadli bin Kiai Haji  Ibrahim adalah penghulu Keraton Yogyakarta. Ibunya dikenal dengan sebutan Nyai Mas, juga berasal dari Kampung Kauman. Tak heran sejak kecil Siti Walidah dididik dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Ia  adalah istri yang paling lama mendampingi K.H. Ahmad Dahlan. Hanya Siti Walidah di antara istri Kyai Ahmad Dahlan lainnya yang mendapat sebutan Nyai Dahlan. Sebutan yang menunjukkan bahwa Siti Walidah mempunyai kedudukan istimewa, yang dalam beberapa segi sejajar dengan sebutan permaisuri untuk raja-raja Jawa

Nyai Dahlan punya perhatian besar terhadap pendidikan kaum perempuan.  Pendidikan formal untuk anak perempuan pada waktu itu sudah ada yang dikelola Muhammadiyah, maka Nyai Dahlan mempunyai pikiran lain. Untuk penyempurnaan pendidikan pelajar putri, perlu diadakan pendidikan nonformal atau asrama (pondok), sebab pada waktu itu, asrama yang ada hanya menampung pelajar putra. Asrama khusus putri itu mula-mula diselenggarakan di rumahnya. Selain diberikan pendidikan keagamaan, mereka juga dibekali segala hal  menyangkut bidang keputrian.

Bagi Nyai Dahlan, perempuan mempunyai hak yang sama dalam pendidikan, Mereka berhak untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Di samping itu, ia menentang praktik kawin paksa. Pemikiran ini pada mulanya mendapat tentangan dari masyarakat, tapi seiring berjalan waktu dapat diterima.  Di antara para santrinya, terdapat putri seorang Bupati Bondowoso, R. Ayu Satariyah, R.A. Kalimah Sakrowi (istri Kepala Stasiun Tegal), Khatijah (putri Bupati Temanggung) dan tidak ketinggalan pula anak-anak dari Pekalongan dan Pekajangan. Di asrama tersebut Nyai Dahlan memberikan pendidikan keimanan dan praktik ibadah, shalat berjamaah, sunah rawatib sampai latihan berpidato untuk bertablig.

Nyai Ahmad Dahlan wafat  pada 31 Mei 1946 dan dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Atas jasa-jasa yang telah dia berikan  kepada bangsa, dan negara, Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nyai Ahmad Dahlan pada 22 September 1971.

Sumber:  H.M. Yunus Anis, . Nyai A. Dahlan Ibu Muhammadiyah dan Aisiyah Pelopor Pergerakan Indonesia (1968)

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda