Tafsir

Tafsir Tematik: Biara, Gereja, Sinagog, dan Masjid (1)

Diizinkan bagi mereka yang diperangi, karena mereka sudah dianiaya, dan bahwa Allah untuk menolong mereka mahakuasa. Mereka yang diusir dari kampung halaman mereka sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami, Allah. Dan kalaulah bukan karena Allah menolak (keganasan) manusia, sebagiannya dengan yang sebagian, sudah dihancurkanlah biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid yang di dalamnya disebut nama Allah banyak sekali. Allah akan pasti menolong siapa yang menolong Dia. Allah Mahakuat Mahaperkasa.” (Q. 22:   39-40).        

Beberapa penerjemah, kata Abdallah Yousuf Ali, gagal untuk memperhatikan bahwa yuqaataluuna (lafal asli untuk “diperangi”), menurut teks yang paling disetujui, adalah kata kerja bentuk pasif. Bukan “memerangi” (yuqaataluuna) kaum kafir”, seperti menurut salinan Sale. Jadi, kalimatnya, “Diizinkan (berperang) bagi mereka yang diperangi.” Sedangkan ayat 40 (dimulai dari “Mereka yang diusir dari kampung halaman mereka sendiri”) menerangkan betapa mereka sudah diperlakukan secara tidak adil: diusir dari rumah-rumah mereka untuk alasan yang tdak lain dari bahwa mereka menyembah Tuhan yang Satu dan Benar. (Lihat Yousuf Ali, 861).

Tetapi pengarang The G;orrious Kur’an itu sendiri menyebut yuqaataluuna (“diperangi”( sebagai “teks yang paling disetujui’. Sebab lafal terebut memang bisa juga dibaca yuqaatiluuna (“memerangi”) – sebagaimana kata asli untuk “diizinkan” (udzina) dalam terjemahan di ats bisa dibaca adzina (?mengizinkan”). Bila kedua salinan alternatif itu digabungkan, kalimanya akan menjadi  (bandingkan dengan terjemahan di atas)” Dia (Allah) mengizinkan (perang) bagi mereka yang berperang (melawan kaum kafir) kren mereka sudah dianiaya” (Qurthubi, XII: 68).

Bahwa Goerge Sale memilih yuqaatiluuna (memerangi”), motif yang menggerakannya terserah dia sendiri. Tapi “memerangi” memang menunjukkan sikap aktif (kalau bukan “agresif”) umat Islam terhadap para kafir, yang hanya bisa dikurangi oleh alasan yang disebut itu” “karena mereka sudah dianiaya”. Tapi bila demikian, yang lebih nyambung memang bacaan yuqaataluuna (“diperangi”). Alasan-alasan seperti yang disebut Yousuf Ali lebih lanjut menguatkan keabsahan pemakaian bacaan “yang paling disetujui” ini.

Ayat pertama tentang perang ini diturunkan di Madinah. Kata pertama yang sudah disebut, “diizinkan”, menunjuk hal itu. Sementara itu subjek pembicaraan, yakni perang, tidak tidak disebutkan (mahdzuf). Bukan karena ia sudah disinggung dalam salah satu ayat sebelumnya, tapi karena ayat-ayat ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang selalu saja diajukan oleh para sahabat Nabi s.a.w. kepada beliau – kapan mereka boleh memerangi para penguasa kafir Mekah yang sudah mengusir mereka – begitu para Muslimin pertama itu berada di Madinah setelah peristiwa hijrah yang besar. Gaya seperti itu (yang sekaligus menunjuk kepada sifat wahyu, yang arti generiknya “isyarat yang cepat”) adalah salah satu yang khas Alquran.

Tetapi, tanpa penyinggungan secara eksplisit, dari rangkaian ayat itu sendiri juga bisa dilihat bahwa subjek yang dimaksudkan dengan “diizinkan” adalah perang. Qurthubi, misalnya, mengutip pendapat bahwa ayat ini keterangan ayat 38 persis sebelumnya: “Allah membela mereka yang beriman. Allah tidak menyukai setiap pengkhianat dan pengingkar ni’mat.” Dengan kata lain, Allah membela mereka dari bencana para kafir dengan membolehkan mereka berperang, dan akan menolong mereka. (Qurthubi, XII: 67-68).

Bersambung.

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 14 April 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda