Cakrawala

Iman, Alat Kontrol dari Ranjau Dosa Masyarakat Moderen

Written by Arfendi Arif

Dalam kehidupan masyarakat moderen perkataan dosa terkesan tidak lagi dianggap penting dan menakutkan.  Istilah ini yang bisa diartikan perbuatan melanggar hukum Ilahi–terutama perbuatan mungkar yang dilarang Allah–seharusnya dijauhi setiap penganut agama Islam. Maka, dengan merosotnya ” wibawa” kata-kata dosa itu dalam masyarakat mendorong “beraninya” seseorang melanggar larangan-larangan Allah.

Karena itu ada baiknya kita mengingatkan kembali bahwa perbuatan yang mengandung dosa itu adalah suatu yang amat prinsip dalam agama dan tidak boleh dianggap enteng. Sebab, dosa adalah ranjau untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan kampung akhirat. Orang yang melakukan perbuatan jahat di dunia akan mengalami penderitaan dihukum secara fisik masuk penjara, namanya rusak dan dijauhi masyarakat, dikucilkan, dibenci sehingga ruang geraknya menjadi terbatas. Sedangkan  di akhirat ia disiksa masuk penjara  yang menakutkan ( azabin alim, siksaan yang pedih).

Orang yang berdosa juga tidak akan menemukan kebahagiaan yang hakiki masuk syurga dan bertemu dengan Allah Yang Maha Suci.

Manusia terjatuh ke dalam perbuatan dosa karena tidak dapat mengendalikan nafsunya, berusaha memenuhi seluruh keinginannya tanpa memperhatikan rambu-rambu yang telah digariskan Allah melalui Al-Quran. Manusia memang memiliki akal untuk mengontrol keinginan-keinginan buruknya, tetapi karena dorongan syahwatnya  yang begitu kuat bisa saja nafsunya mengalahkan akalnya  Menurut Imam Ghazali akal dan nafsu memiliki balantera, yaitu Malaikat dan Syetan. Malaikat adalah tentara akal, sedangkan syetan merupakan balantera nafsu. Setiap hari kekuatan ini selalu bertarung, kalau balantera Malaikat yang menang maka manusia cenderung pada kebaikan dan kesucian, sedangkan kalau kekuatan syetan yang unggul maka manusia jatuh pada perbuatan durjana dan dosa.

Dalam kehidupan riil duniawi manusia memang mudah terpikat dengan kesenangan yang dirasakan secara langsung  dan kongkrit. Janji-janji kebahagiaan kehidupan akhirat yang masih abstrak selalu dinomorduakan. Inilah yang menyebabkan motivasi untuk mengejar kesenangan duniawi lebih besar pengaruhnya dibandingkan kebahagiaan pada kehidupan setelah mati.

Dengan hanya bertumpu pada penglihatan kenikmatan lahiriah maka manusia yang tidak dapat mengekang keinginan memenuhi nafsu duniawinya melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Dan cara itu terkadang melanggar ketentuan Allah yang bisa dikategorikan perbuatan mungkar atau dosa. Dan inilah yang menjadi sumber celaka atau terpuruknya seseorang dalam kehidupan akhirat sehingga harus dihukum dengan masuk neraka.

Dari hasil penelitian para ulama bahwa dosa itu terdiri dari dua macam kategori sesuai tingkat keingkarannya pada hukum Allah. Pertama, yang digolongkan sebagai dosa besar (kabair) dan dosa kecil (sagirah). Dosa besar, kata sebagian ulama, kalau di dalamnya terdapat janji Tuhan berupa ancaman, sedangkan kalau tidak ada ancaman digolongkan sebagai dosa kecil, tetapi sebagian ulama mengatakan semua dosa termasuk dosa besar.

Abu Thalib al-Makki (wafat 996 Masehi) pengarang buku tasawuf yang terkenal Qut al-Qulub membagi dosa besar mengikuti bagian anggota tubuh manusia, semuanya 17 macam, yang dikumpulkannya dari sejumlah hadist. Pembagiannya sebagai berikut.  Empat macam ada di hati (al-qalb) 1. Syirik (polytheism) 2. Berkecimpung dalam maksiat 3. Putus asa dari rahmat Allah 4.Merasa bebas dari balasan Allah. Empat ada di lidah (al-Lisan). 1. Memberikan saksi palsu 2. Menuduh zina terhadap perempuan yang beriman 3. Membuat sumpah kepada janji palsu 4.Dusta dan berbicara bohong. Tiga ada di perut 1. Minum arak atau yang memabukkan 2. Makan harta anak yatim 3. Makan harta riba. Dua ada di kemaluan 1. Berzina 2. Liwat (sodomi). Dua ada di badan 1. Pembunuhan 2. Pencurian. Satu ada di kaki. 1. Lari dari peperangan (jihad). Satu letaknya di seluruh badan (jam’i badani) 1.Tidak menghormati kedua orang tua 

Filosof Islam Imam Ghazali (450-550 H, 1057-1111 M) membagi dosa kepada dua bagian. Bagian pertama terdiri dari empat sifat yang dinamakannya rububiah (sifat ke-Tuhanan), syaithaniah (kesetanan), bahimiah (kebinatangan) dan sabu’iah (keserigalaan).

Dosa yang muncul dari sifat rububiah atau ke Tuhanan ialah munculnya sifat sombong, angkuh, berkepala besar, bermegah, gila hormat dan pujian, senang kekekalan, mau mengendalikan semua orang. Merasa dirinya Tuhan sehingga tak segan-segan mengatakan,” Sayalah Tuhanmu yang Maha Tinggi”. Dalam Al-Quran disebutkan Firaun adalah orang yang mengaku dirinya Tuhan sehingga mati tenggelam dalam laut.

Kedua, dosa yang lahir dari sifat kesetanan yaitu sifat-sifat dengki, penipu, merusak, penyeleweng, munafik, mengadakan bid’ah dan kemungkaran.

Ketiga, dosa yang berasal dari sifat kebinatangan yakni menurutkan keinginan syahwat (nafsu seksuil), nafsu perut, perzinahan dan liwat (sodomi, lesbian), pencurian dan makan riba dan memakan harta anak yatim, serta menumpuk harta untuk memenuhi hajat syahwat 

Terakhir, dosa yang muncul dari sifat keserigalaan, dari sini lahir nafsu amarah, kekejaman, menghancurkan, memukul, membunuh, dan merusak benda-benda.

Menurut Imam Ghazali, pertumbuhan keempat sifat ini dalam diri manusia berawal dari sifat kebinatangan, kemudian berkembang kepada keserigalaan, kesetanan dan berujung pada sifat-sifat ke-Tuhanan,yakni merasa diri mulia, luhur dan maha tinggi, yang puncaknya memproklamirkan diri sebagai Tuhan.

Pembagian kedua, yaitu dosa yang dibagi karena berhubungan antara manusia dengan Allah Ta’ala, dosa yang berhubungan dengan hak-hak masyarakat, dan dosa yang berhubungan dengan manusia itu sendiri. Dosa yang berhubungan antara manusia dan Tuhan seperti meninggalkan shalat, tidak puasa, dan kewajiban khusus lainnya. Sedangkan yang berhubungan dengan hak-hak masyarakat seperti tidak membayar zakat, membunuh, menyelewengkan harta orang, melukai kehormatan orang lain dan semacamnya.

Mengenai dosa kecil, ada yang mengatakan selain yang disebutkan di atas merupakan dosa kecil. Tetapi, sebagai orang yang beriman lebih tepat kalau kita pegang pernyataan orang arif yang menegaskan bahwa dosa kecil itu sebenarnya tidak ada, semua yang menentang Allah adalah dosa besar. Bahkan, sebagian sahabat Nabi ada yang berkata kepada para tabiin.”Sesungguhnya kamu semua memperbuat perbuatan yang di matamu lebih halus dari rambut, sedangkan kami di masa Rasulullah menganggapnya termasuk maksiyat (dosa besar)”.

Jadi, karena perbedaan tingkat keimanan, ketakwaan dan makrifat seseorang kepada Allah sebuah perbuatan betapapun halusnya yang mungkin dinilai sangat kecil dosanya, tetapi bagi seorang yang ketaqwaannya amat kuat kepada Allah perbuatan tersebut bisa dirasakannya sebagai dosa besar.

Menyinggung dosa besar dan kecil dalam pandangan manusia, kita patut renungkan pendapat Hujjatul Islam Imam Ghazali yang mengatakan, sesungguhnya dosa yang dianggap besar oleh seseorang bisa saja dianggap kecil oleh Allah, sebaliknya dosa yang dianggap kecil oleh seseorang bisa saja dinilai besar di sisi Allah. Sebab, anggapan besar terhadap dosa justru timbul dari kebencian hati terhadap dosa, sebaliknya anggapan kecil terhadap dosa justru timbul dari rasa simpati terhadap dosa, dan ini akan berakibat lebih besar terhadap hati seseorang. Bukankah hati itu seharusnya disinari dengan perbuatan “taat” dan jangan sampai dibikin gelap oleh perbuatan dosa.

Seseorang juga bisa melakukan dosa besar kalau ia menunjukkan rasa senangnya melakukan dosa kecil. Ia menilai enteng terhadap dosa kecil, merasa rugi melewatkan kesempatan berlalunya dosa kecil. Akibatnya, ia bergelimang dengan dosa kecil yang akhirnya menjadi dosa besar. Tanpa disadari hatinya menjadi gelap dan terbiasa melakukan dosa yang membuat hidupnya menjadi celaka.

Demikian juga, seseorang yang dengan bangga bercerita dan menunjukkan keberaniannya melakukan dosa kecil, padahal itu harus ditutupi dan tidak boleh diumbar kepada orang lain. Dengan perilakunya itu berarti ia mengajak orang lain melakukan perbuatan sesat atau dosa yang seharusnya dihindari, dirahasiakan dan dihilangkan secara perlahan-lahan, sehingga ia memiliki jiwa dan hati yang bersih.

Lalu, bagaimana kalau orang berilmu yang melakukan dosa besar atau dosa kecil. Sudah pasti, dosanya lebih besar, sebab perbuatannya diikuti banyak orang karena menganggap sebagai tokoh panutan. Ada orang bijak yang mengatakan, kalau seorang ulama tergelincir melakukan perbuatan dosa ibaratnya seperti perahu yang pecah yang menenggelamkan seluruh penumpang.

Dalam masyarakat moderen dimana ranjau-ranjau untuk melakukan perbuatan dosa, baik besar maupun kecil, tersedia dengan mudahnya mengharuskan kita, anak-anak dan keluarga untuk selalu waspada. Dan ini hanya bisa dibentengi dengan memberikan pendidikan agama dan iman yang kuat kepada batin setiap orang. Agamalah yang bisa menjadi alat kontrol yang ampuh sehingga seseorang tidak tergelincir pada perbuatan dosa yang merendahkan martabat manusia. Allahu ‘alam bissawab!

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda