Cakrawala

Menengok Kiprah UMI Wellington

UMI (Umat Muslim Indonesia) Wellington menjadi oase masyarakat muslim Indonesia di Selandia Baru. Salah satu misi UMI adalah menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak yang lahir dan besar di Negeri Kiwi tersebut dengan tradisi Indonesia. Anak-anak dapat belajar Islam dengan gembira sehingga akan menjadi kenangan abadi hingga mereka besar nanti.

Salah satu tradisi khas Indonesia adalah perayaan Lebaran atau Idul Fitri. Idul Fitri memiliki ruang yang istimewa di hati karena kita mengenal tradisi mudik untuk melepas rindu dengan keluarga, sungkem kepada orang tua dan sesepuh, menikmati hidangan khas lebaran seperti ketupat beserta opor ayam, rendang dan sebagainya, berkeliling ke rumah kerabat untuk bersilaturahmi dan membagikan  hadiah bagi anak-anak yang telah menjalankan ibadah puasa. Untuk melestarikan tradisi ini, UMI selalu berusaha menghadirkan suasana Indonesia di setiap acara Idul Fitri karena bagi perantau momen Idul Fitri sangat istimewa dan khususnya bagi anak-anak mereka jadi belajar mengenal tradisi yang sudah dikenal turun temurun. Nasib sebagai perantau seringkali membuat kami harus menahan rindu yang tak terperi kepada keluarga di tanah air, UMI memfasilitasi ini dengan mengadakan halal bihalal silaturahmi  bersama teman-teman di perantauan yang sudah dianggap sebagai keluarga kedua.

Pada tahun 2010 sewaktu saya baru tiba di Wellington, sholat Idul Fitri dan halal bihalal masih dapat dilakukan di KBRI karena pada waktu itu jumlah jamaah masih dapat ditampung di ruang pertemuan KBRI. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah jamaah semakin besar, sebagian karena beranak pinak dan semakin banyak orang-orang Indonesia yang bermigrasi atau belajar di Wellington. Untuk dapat menampung jamaah yang membludak setiap acara sholat Ied dan halal bihalal, UMI harus menyewa hall atau ruang pertemuan. Dulu, saat Idul Fitri, setelah sholat Ied, acara yang dilakukan hanyalah saling bersalaman dengan sesama jamaah dan menikmati hidangan bersama sambil bersilaturahmi.  Seiring dengan berjalannya waktu, acara semakin bervariasi, silaturahmi diiringi dengan hiburan lagu-lagu lebaran, pembagian goody bags untuk anak-anak; semakin berkembang lagi dengan diadakannya permainan untuk anak-anak dan dewasa dan kemudian disediakan photo booth berikut properti fotonya bagi keluarga yang akan berfoto di hari istimewa. Acara yang tadinya tampak sederhana; dengan bertambahnya jamaah, semakin banyak inisiatif dan ide-ide segar diantaranya dengan mempercantik dekorasi ruangan.

Tahun berganti, acara Idul Fitri UMI semakin dikemas dengan apik. Ini tentunya tidak terjadi dalam sekejap, semua berproses dan berevolusi. Setelah Ketua UMI -Leon Armand- menyampaikan visinya untuk membuat acara halal bihalal 2021 yang lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya dan juga sebagai pengganti ketiadaan acara Idul Fitri tahun 2020 akibat pemberlakuan lockdown nasional di Selandia Baru untuk mencegah meluasnya wabah Covid-19; maka panitia yang ditunjuk langsung bergerak cepat.

Motornya dari kepanitiaan halal bihalal adalah Ibu-ibu jamaah UMI. Para Ibu ini bekerja penuh waktu maupun paruh waktu di berbagai institusi di Wellington, ada yang sedang kuliah pasca sarjana, ada yang berwiraswasta dan tentunya disibukkan dengan urusan rumah tangga sehari-hari. Tapi mereka dengan senang hati dan ikhlas menyisihkan waktu, tenaga, pikiran dan materi untuk kesuksesan acara halal bihalal ini.

Panitia halal bihalal terbagi dalam tiga seksi. Ada seksi konsumsi; seksi dekorasi dan seksi acara. Untuk seksi konsumsi, koordinator diserahkan kepada seorang ibu muda  yang mempunyai kemampuan handal dan tentunya dibimbing oleh Ibu-ibu senior yang berpengalaman di bidang masak memasak dalam jumlah besar. Seksi konsumsi terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil seperti kelompok yang bertanggung jawab membuat lontong; kelompok yang membuat rendang, opor, sayur godog, bakso, tekwan, kudapan, dessert dan lain-lain. Para ibu ini bekerja sama menyumbang dan memasak makanan sesuai keahliannya, menyajikan makanan pada hari H; mencuci piring dan peralatan dapur serta membereskan dapur dan area makan hingga rapi kembali.

Untuk seksi dekorasi, ternyata banyak Ibu-ibu bertalenta dan mempunyai selera yang berkelas. Dekorasi kali ini bertema Moroccan style. Para Ibu memulai semuanya dari nol. Mulai dari membuat layout, mendesain, membeli bahan, menjahit dan membuat pernak pernik dekor. Ruangan tempat acara yang semula tampak membosankan dapat disulap menjadi ruangan yang mewah dan penuh warna.

Yang terakhir adalah seksi acara. Selain Ibu-ibu dan remaja putri yang terlibat di seksi acara, anggota seksi acara ada dua laki-laki. Anggota seksi acara bervariasi; mulai dari MC yang jam terbangnya di Wellington sudah tinggi; sampai ibu muda yang mulanya tampak pemalu tapi sebetulnya punya potensi untuk mengorganisir acara, juga para remaja putri yang mempunyai keahlian face painting dan berinteraksi dengan anak-anak. Pada saat persiapan, seksi acara membuat run-down acara hingga hitungan menit. But we expect the unexpected, pada hari H, karena satu dan lain hal, flow acara diubah secara mendadak untuk menyesuaikan situasi di lapangan; dan ini hanya diketahui oleh panitia seksi acara. Anggota panitia seksi acara ini kreatif; mereka bisa membuat dan memandu games yang seru-seru untuk remaja dan dewasa; dan tentunya games yang menyenangkan sekaligus edukatif untuk anak-anak. Hadiah yang berlimpah dari para sponsor pun menambah semarak acara.

Selain konsumsi, dekorasi dan acara; yang juga menjadi perhatian adalah meminimalisir penggunaan gelas sekali pakai dan pengelolaan sampah. Inisiatif untuk mendorong masing-masing jamaah membawa botol minum sendiri pada setiap acara UMI sudah dilaksanakan sejak akhir 2018. Tapi sebagaimana sebuah inisiatif baru, hal ini bergulir secara perlahan. Baru di tahun 2020/2021, semakin banyak jamaah yang membawa botol minum sendiri pada setiap acara UMI dan ini semakin digalakkan pada acara tarawih keliling Ramadan dan halal bihalal tahun ini. Jumlah sampah yang banyak sering menjadi masalah tersendiri pada setiap acara UMI. Karena jumlah hadirin yang banyak, maka volume sampah juga cukup besar. Untuk meminimalisir jumlah kantong sampah; selain penggunaan botol minum sendiri; sejak kegiatan tarawih keliling Ramadan, panitia juga mengenalkan jamaah dengan pemilahan sampah. Panitia menyediakan wadah sampah berdasarkan kategorinya berdasarkan sisa makanan, kuah/air, dan other wastes seperti tissue. Dan disediakan tempat untuk penumpukan sendok/garpu kotor, piring kotor dan gelas kotor. Pemilihan sampah seperti ini memudahkan pengelolaan dan pengepakan sampah hingga ke tempat pembuangan akhir.

Alhamdullilah acara berjalan lancar, makanan berlimpah dengan penataan ruangan yang apik.  Semua hadirin tampak senang, mulai dari anak balita sampai para sesepuh semua terhibur. Halal bihalal juga dihadiri teman-teman non-Muslim Indonesia, teman-teman dari komunitas negara lain dan tentunya juga teman-teman asli Selandia Baru. Hadirin yang hadir diperkirakan hampir 400 orang. Jumlah yang besar sekali. Apresiasi untuk banyak pihak yang telah mendukung acara ini, para donatur yang dengan murah hati menyisihkan rejekinya; dukungan dari Duta Besar RI Tantowi Yahya dan jajarannya sejak awal Ramadan; bapak-bapak yang membantu persiapan ruangan dan sound system, beres-beres dan menuruti permintaan istrinya untuk membantu dalam banyak hal. Yang membuat para ibu berbesar hati adalah mulai terlibatnya para ibu muda; anak-anak muda dan remaja secara aktif di acara ini dan semoga secara perlahan tapi pasti tongkat kepanitiaan bisa secara bertahap mulai diserahkan kepada generasi yang lebih muda.

Dari kesuksesan halal bihalal ini yang paling berbahagia tentunya para ibu, yang bekerja keras dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan hingga akhir acara. Walaupun berkutat di dapur berjam-jam, kurang tidur, mengerjakan prakarya dekorasi, membungkus hadiah yang bertambah terus dari para sponsor; menghadiri rapat panitia online, ada yang harus menyetir antar kota untuk mencapai tempat acara, ada yang migrain dan asam lambungnya kambuh, badan rasanya remuk redam. semua dikerjakan secara bersama-sama dengan ikhlas dan senang hati sehingga beban terasa ringan  demi kebahagiaan seluruh jamaah UMI.

“The strength of the team is each individual member. The strength of each member is the team.” – Phil Jackson

Penulis: Nunki Bismo (Wellington, Selandia Baru)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda