Cakrawala

Pesantren dan Pendidikan Wawasan Kebangsaan

Ngak, ngik, ngok. Bagi generasi lawas, frasa di atas barangkali masih tersimpan dalam benak. Ya. Kata-kata bersumber dari presiden pertama Indonesia, Soekarno. Kala itu, ia melarang rakyat Indonesia untuk meniru-niru budaya barat. Katanya, Indonesia harus punya jati diri dalam berbangsa. Ucapan beliau menjadi titah. sampai-sampai grup musik Koes Bersaudara harus mendekam di penjara tanpa proses pengadilan. Pasalnya mereka menyanyikan lagu Barat. Soekarno bilang jangan menyanyikan lagi ngak, ngik, ngok atau lagu Barat semacam Elvis Presley. Meski belakangan, Koes Plus bersuara tentang korelasi penangkapannya dengan misi kontra intelegen yang akan dilakukan Soekarno melalui Koes Plus.

Era Orde Baru lain lagi. Upaya memperkuat wawasan kebangsaan dilakukan secara terstuktur, sistematik, dan massif. Melalui serangkaian agenda penataran demi terwujudnya jati diri melalui pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan yang termuat dalam Pancasila. Banyak pihak yang menilai kegiatan itu hanyalah agenda politik rezim Orba. Meski demikian tidak ada yang berani lantang bersuara, karena takut dengan tindakan refresif penguasa dengan undang-undang subversifnya.

Pasca reformasi, seiring dengan derasnya keran kebebasan, segala warisan orde lama mapun orde baru dalam konteks agenda pembinaan wawasan kebangsaan yang tidak relevan diberangus.  Salah satunya pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang menjadi materi wajib di sekolah-sekolah dihapus dan diganti dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang lebih humanis.

Seiring waktu berjalan iklim demokrasi dengan kebebasan berpendapat yang dinikmatinya, mendatangankan persoalan. Rezim hari ini -yang mengalami kehidupan di dua orde tersebut-, menilai wawasan kebangsaan sedang diujung tanduk. Nilai-nilai dan jati diri bangsa tercerabut, sehingga perlu dilakukan serangkaian tes untuk membuktikan apakah rakyat benar-benar memahami dan setia terhadap nilai-nilai kebangsaan. Separah itu kah? Jika benar, dari mana pembenahan itu dimulai?

Hampir semua orang sepakat, bahwa pendidikan dari level yang rendah sampai yang tinggi, punya peran penting untuk mewujudkan segala harapan, termasuk didalamnya penanaman nilai-nilai dan wawasan kebangsaan. Tujuannya agar anak didik punya cara pandang yang inklusif terhadap situasi disekitarnya, agar tecipta kehidupan yang damai dan harmonis.

UNESCO, badan dunia yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan telah menetapkan empat visi pendidikan dunia, yaitu: learning to be, learning to do, learning to know, dan learning to life together. Keempat visi tersebut diharapkan menghasilkan generasi pembelajar kreatif, kompeten, inklusif, dan toleran.

Semua lembaga pendidikan di dunia termasuk Indonesia berupaya mewujudkan keempat visi tersebut, sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Bagaimana dengan pesantren? Sebagai sebuah institusi keagaaman (Islam) berikhtiar membantu pemerintah menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kontek keindonesiaan yang multikultur. Mari kita telisik.

Pesantren dengan model pendidikan berasrama yang di dalamnya santri hidup dalam jangka yang waktu yang cukup lama (3 sampai 6 tahun). Pesantren dipandang efektif untuk mewujudkan visi yang keempat, learning to life together, belajar bagaimana hidup bersama dalam keragaman suku dan budaya. Pasalnya, di pesantren santri tinggal bersama santri lainnya yang datang dari berbagai pelosok negeri. Apalagi Indonesia yang kaya dengan keragaman suku dan budaya. Potensi ini harus dibangun agar menjadi kekuatan pemersatu dari keragaman itu. Dan menjadi modal penting kehidupan berbangsa dan bernegara.

Salah satu semboyan pesantren-pesantren modern adalah: “Berdiri di atas dan untuk semua golongan’. Semboyan itu menjadi tali pengikat santri yang heterogen. Pesantren terbuka untuk siapa saja, tak peduli warna kulit, suku, bahasa, sampai aliran politik. Tapi pesantren menjadi tali pengikat dan berdiri di atas itu semua. Santri tidak boleh menonjolkan simbol-simbol budaya dan bahasa yang melekat dalam diri mereka. Sampai-sampai santri dilarang berbicara menggunakan bahasa daerah. Pada fase awal mereka harus berbicara menggunkan bahasa Indonesia, sebagai upaya menanamkan rasa cinta terhadap tanah air. Fase selanjutnya mereka diajarkan bahasa Arab dan Inggris, agar wawasan mereka semakin mengglobal.

Secara tidak langsung pesantren mengajarkan santri untuk siap hidup bersama. Sebab itulah kenyataan yang tak bisa mereka hindari kelak saat bergaul dalam dunia luas.  Oleh karena itu, perlu diajarkan dan dikenalkan sejak dini nilai-nilai tentang toleransi dan penghormatan terhadap orang lain.

Santri di pesantren dikelompokan dalam satu kamar dengan fasiitas yang sama. Tak peduli ia anak orang kaya atau anak pejabat. Feodalisme tidak berlaku di pesantren. Secara berkala santri dipindahkan kamarnya. Sehingga mereka mendapatkan suasana dan kawan-kawan baru.

Memahami karakter dan adat istiadat seseorang bukan perkara yang mudah. Tapi hal yang mungkin terwujud jika ditempa sejak dini. Hal-hal yang tabu menurut kultur Sunda belum tentu tabu menurut orang Jawa. Sesuatu yang biasa bagi santri asal Sumatera belum tentu sama bagi orang Papua. Inilah yang harus dikenalkan kepada mereka.

Pesantren dipandang mampu mewujudkan pendidikan multikultural itu. Melatih kedewasaan santri-santrinya dalam berpikir dan bersikap terhadap keragaman yang ada di depan mata mereka. Hal tersebut menjadi penting di saat masyarakat di Indonesia sudah terjebak ke dalam eksklusifisme. Merasa paling benar, paling hebat, atau paling toleran.

Nilai-nilai hidup bersama yang ada dalam pesantren tidak sebatas pengenalan watak dan adat istiadat. Tapi yang lebih penting adalah membangun semangat kebersamaan, gotong royong, dan saling membantu. Maka yang akan tercipta adalah generasi-generasi egaliter yang terbuka untuk siapa saja dengan semangat kemanusiaan. Inilah pola pesantren dalam mewujudkan visi Unesco di atas, learning to life together dan upaya membangun cultural diversity sebagai kekayaan yang tak ternilai.  

Namun demikian keragaman yang ada di pesantren masih bersifat homogen, maksudnya masih dalam ranah seagama (Islam). Maka perlu juga santri mendapatkan pemahaman tentang kewajiban menghormati dan mau hidup berdampingan dengan mereka yang berbeda agama. Agar santri benar-benar memahami bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Ia adalah ketentuan dari Tuhan Yang Maha Esa agar saling mengenal satu dengan lainnya.

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda