Cakrawala

Bersiap “Pulang Kampung”

Written by Iqbal Setyarso

Entah sejak kapan, masyarakat Indonesia memiliki tradisi ini: pulang kampung. Setiap pendatang di Ibu Kota, atau kota-kota  besar lainnya, memiliki tradisi untuk sambang ke rumah keluarga besarnya. Sedikitnya setiap tahun, biasanya menjelang atau beberapa hari setelah Ramadan, para pemudik atau “pendatang” kembali ke kampung halamannya. Biasanya untuk unjuk perolehan berkarya di kota besar. Hanya sebagian yang tak pulang kampung. Biasanya keluarga (besar)-nya telah berpulang, atau belum berhasil di kota sehingga belum bisa “pamer” keberhasilan.

Apakah sejatinya “yang akan ditunjukkan” kepada orang lain? Bagaimana dengan mereka yang gagal secara ekonomi? Atau tak memiliki sesuatu untuk ditunjukkan kepada siapapun? Di era kekinian ada konsep “pulang kampung digital”. Kondisi pandemi membuat hal seperti ini  di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) memiliki material/harta benda tentu perlu, sehingga juga tidak dirisaukan kekurangan yang ada saat tak apa-apa yang pantas diunjukkan.

Kata “pulang kampung” bisa direntang dalam perspektif yang lebih luas, bukan sekadar soal remeh temeh. Lebih substantif mengeksplorasi “pulang kampung” dalam perbincangan “pulang ke kampung akhirat”. Orang saleh harus berpikir “pulang” dalam pengertian ini. Pulang ke kesejatian. Pulang ke hadirat-Nya. Untuk yang satu ini, agama sangat menyarankan kita untuk menyiapkan bekal terbaik agar tak kecewa saat mengalaminya.

Siklus

Setiap orang niscaya berhadapan dengan perulangan tema sejarah, kadang baik kadang pula buruk. Allah berfirman, “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan pada masa (kejadian dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”(Q.S. Ali-Imran:140)

Dalam ayat ini tersampaikan bahwa Allah sejatinya menurunkan keadilan kepada setiap manusia. Bahwa mereka yang beriman dan membangkang mendapat porsi yang sama pada ketentuan Allah yang telah ditetapkan-Nya. Bedanya, orang-orang yang beriman ketika mendapat musibah, maka mereka akan menjadikan musibah atau kejadian yang merugikannya sebagai bahan untuk introspeksi atau muhasabah atas apa yang telah dilakukannya.

Jika kita pernah mempelajari sejarah, maka kita akan mendapati bahwa suatu peristiwa sejarah tidak berdiri sendiri. Suatu peristiwa sejarah akan dipicu oleh peristiwa-peristiwa lain yang terjadi sebelumnya. Semjuanya saling berhubungan. Dengan begitu kita mampu mengamati berbagai peristiwa yang melatarbelakangi peristiwa penting sejarah.

Seperti halnya masa kejayaan atau keruntuhansuatu peradaban menjadi peristiwa penting dalam sejarah. Peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi masa kejayaan dan masa keruntuhan sebuah peradaban yang dapat kita amati sebagai sebuah pola yang unik. Kita dapat mengamati sebab akibat yang terjadi di sana. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah s.a.w. pernah memegang pundaknya, lalu berkata, “Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti pengembara. Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai pagi hari. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.”(H.R. Bukhari)

Bak Orang Asing

Belajar ihwal perlakuan diri bak orang asing, pertama: seseorang hendaknya 1) tidak menempatkan hatinya pada dunia. Hatinya bergantung pada kampung yang sejati kemana ia akan (benar-benar) kembali. 2) Mukim di dunia hanya untuk menyiapkan bekal menuju kampung akhirat. 3) Tidak pernah bersaing (sebagai orang asing) dengan pendudu asli. 4) Tidak pernah gelisah ketika ada yang mendapat dunia. Hasan al-Basri berkata, “Seseorang mukmin di dunia seperti orang asing. Tidak pernah  gelisah terhadap orang yang mendapatkan dunia, tidak pernah saling berlomba dengan penggila dunia. Penggila dunia memiliki urusan sendiri, orang asing yang ingin kembali ke kampung akhirat punya urusan sendiri (Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, 2: 379).

Pada bagian yang lain,  berdo’a ‘Atha As-Salimi: “Allahummar kham fiddun-ya ghurbatii, wairham filqabri wakhsatii, warkham mauqifi ghadan baina yadaika” – “Yaa Allah, rahmatilah keasinganku di dunia, selamatkanlah dari kesedihan di kuburku, rahmatilah aku ketika aku berdiri di hadapan-Mu kelak.”

Seseorang yang pada akhir hayatnya gila dunia lupa akhirat, persis digambarkan Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, Addun-ya khamrusy-syaitoni, min sakiro minha lam lamyufiq illa fii ‘askaril mauta nadhiman ma’a khoo siirin “Dunia adalah khamarnya setan. Siapa yang mabuk, barulah tersadarkan diri ketika kematian (yang gelap) itu datang. Nantinya ia akan menyesal bersama dengan orang-orang yang merugi (Jami’u Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 381)

Kedua, Hidup seperti seorang musafir atau pengembara yang tidak punya niatan untuk menetap sama sekali. Orang seperti ini hanya ingin terus menelusuri jalan hingga sampai pada ujung akhirnya, yakni kematian. 1) Terus mencari bekal untuk safarnya supaya bisa sampai di ujung perjalanan; 2) Tidak punya keinginan untuk memperbanyak kesenangan karena ingin sibuk terus menambah bekal.

Tentang hal ini, Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata pada seseorang, Kam tat ‘alaika? Berapa umur yang telah kau lewati? Ia pun dijawab: Sittuna sanatan. Fudhail pun menuntaskan jawabannya,”Fa anta mundhzu sittaina sanatan tasiiru ila rabbana yuusyiikuan tablugha –  Selama 60 tahun ini engkau sedang berjalan menuju Rabbmu dan sebentar lagi engkau akan sampai.” Lalu orang tersebut menjawab,” Innalillahi wa inna ilaihi raji’uuna (Segala sesuatu milik Allah dan kembali kepada Allah). Mendengar itu, Fudhail balik bertanya,”Ata’rifu tafsirahu? – (Apa engkau tahu kalimat yang engkau ucapkan tersebut? Fudhail pun meneruskan jawabannya: Anallahi ‘abdun wa ilaihi raaji’un, faman ‘alaihi annahullah raaji’un, faman ‘alima annahullahi ‘abdun, wa annahu ilaihi raaji’un, fal ya’lam annahu masula, wamanin ‘alima annahu maula, falyu’idda lis-suali jawaban (Sesungguhnya aku adalah hamba di sisi Allah dan akan kembali kepada-Nya. Siapa saja yang mengetahui Allah itu memiliki hamba dan akan kembali kepada-Nya, maka tentu ia tahu bahwa hidupnya akan berakhir. Kalau tahu hidupnya akan berakhir, maka ia tentu akan mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang ada).

Bertanya orang itu lagi kepada Fudhail: Famaa khilatu? (Adakah alasan yang bisa dibuat-buat untuk melepaskan diri?)

Menjawab Fudhail: Yasiiratun (Itu mudah). Lalu Fudhail bertanya balik: Ma hiya? (Apa itu?) Menjawab Fudhail, retoris:  Tuhsinu fiiha baqiya yughfaru laka maa madhoo fannaka in asaa-ata fiimaa baqiya akhidz-ta bimaa baqiya (Hendaklah beramal baik di sisa  umur yang ada maka akan diampuni kesalahan-kesalahanmu yang terdahulu. Karena jika engkau masih berbuat jelek di sisa umurmu. Engkau akan disiksa karena kesalahanmu yang dulu dan sisa umurmu yang ada) (Jami’ Al ‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 383)

Dengan warning ini, kita mohon kepada  Allah agar memudahkan persiapan perjalanan   kita menuju kampung akhirat.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda