Adab Rasul

Cara Rasul Optimalkan Diri

Written by M.Syafi'i Antonio

Kehidupan Rasulullah adalah contoh terbaik hidup yang optimal. Beliau mengoptimalkan infrastruktur yang dimilikinya baik waktu, kesehatan, uang, kenalan, dukungan handai taulan dan aset-aset lainnya untuk mencapai misi hidup serta memberikan kemanfaatan bagi bangsa, agama dan kemanusiaan.

Jika kita mencermati “statistik” Rasulullah, maka kita tercengang dibuatnya. Bayangkan, dari 23 tahun masa kenabian, hanya sekitar 10 tahun terakhir Rasulullah benar-benar leluasa untuk berkiprah secara sosial, ekonomi, dan politik. Selama 13 tahun sebelumnya, Rasul berdakwah secara diam-diam, penuh keterbatasan dan ketakutan. Tetapi dalam kurun waktu yang sangat pendek itu, begitu banyak yang telah dibuatnya.

Beliau harus menerima, menghafal, menyampaikan dan menjelaskan tak kurang dari 6.666 ayat Al-Quran. Beliau juga menyampaikan arahan, kebijakan aksi dan bimbingan lisan dalam bentuk hadis yang jumlahnya ratusan ribu buah. Bahkan menurut Imam Ahmad ibn Hanbal, Hadis Rasulullah seluruhnya bisa mencapai lebih dari sejuta buah. Beliau berperang untuk menegakan kebenaran dan menahan serangan musuh terutama Kafir Quraisy lebih dari 28 kali dengan semua hiruk pikuk persenjataan, makanan, kesehatan, transportasi, dan segenap sarana logistik lainnya. Di samping itu Rasulullah juga mengorganisir lebih dari 53 kaveleri bersenjata.

Sebagai kepala negara beliau harus menerima tamu-tamu kepala pemerintahan tetangga demikian juga para utusannya. Dalam tataran diplomasi internasional Rasulullah juga mengirim belasan surat yang berisi ajakan dakwah serta upaya menjalin kerja sama dan persahabatan. Apapun jawaban yang diberikan oleh kepala pemerintahan itu, Rasulullah harus mengantisipasi langkahnya.

Sebagai pimpinan masyarakat dan bangsa, Rasulullah harus menciptakan suatu rule of law yang mampu mengintegrasikan tiga masyarakat yang berbeda agama, budaya, klan, dan bahasa. Mereka adalah Muslim, Nasrani dan Yahudi dalam suatu sistem sosial politik dan ekonomi yang harmonis. Lebih dari itu dalam satu komunitas agama pun terdapat beberapa sub-group yang sangat majemuk. Dalam Islam terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Dalam Anshar terdiri ada suku Aus dan Khadraj. Di masing-masing mereka juga terdapat Arab dan Ajami. Masyarakat Yahudi juga tak kurang heterogennya, mereka ada yang berasal dari bani Qunaiqa dan bani Nadir.

Sebagai hakim, Rasulullah juga harus memutuskan segala pernik perselisihan dan perseteruan yang terjadi di antara umatnya. Beragam persoalan yang sampai dihadapannya dari pencurian, pembunuhan, perseteruan dagang, perceraian, penipuan harta hingga menghadapi seorang wanita yang mengaku berhubungan di luar nikah dan meminta untuk ditegakan hukum Allah atasnya.

Sebagai kepala keluarga Rasulullah juga memiliki a very big family, 11 orang istri dan 7 orang anak. Tetapi dalam kesibukannya Rasulullah tetap menunjukkan seorang Bapak yang penuh perhatian terhadap anak-anaknya. Kakek yang masih bercengkerama dengan cucu-cucunya. Suami yang masih sempat menyapu di rumah dan memotong sayur mayur untuk membantu istrinya. Demikian juga pria yang masih menjahit bajunya yang bolong dengan tangannya sendiri agar tidak merepotkan keluarganya.

How did he manage all of these activities? Bagaimana beliau mengatur waktunya? Bagaimana beliau mencapainya dengan hasil yang maksimal? Dan lebih penting bagaimana kita mencontohnya? Itulah mungkin pertanyaan-pertanyaan strategis yang harus kita ajukan dalam meneladani Rasulullah.

Jawaban untuk pertanyaan itu adalah, Rasulullah mengoptimalkan semua infrastruktur yang dimilikinya baik waktu, kesehatan, dana kenalan, dukungan handai taulan dan aset-aset lainnya untuk mencapai misi yang diembannya. Secara umum ada enam hal yang dapat kita sarikan dari strategi pencapaian misi Rasulullah.

  • Menetapkan Visi dan Misi yang jelas.
  • Mempersiapkan tim yang solid yang percaya pada cita-cita bersama.
  • Menetapkan perencanaan strategis.
  • Melakukan skala prioritas dan penahapan aksi.
  • Terus menerus memotivasi dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.
  • Mempersiapkan regenerasi kepemimpinan agar misi tetap berjalan.

Semoga kita dapat meneladani Rasulullah sebagai insan dan umat yang mampu menetapkan cita-cita hidup dan dapat mencapainya dengan mengoptimalkan semua daya dan kemampuan yang diberikan Allah SWT dalam jalan yang diridhai-NYA. Wallahu a’lam bishawab.

Sumber : Majalah Panjimas, Oktober 2003.

About the author

M.Syafi'i Antonio

Pakar perbankan syariah, rektor Institut Agama Islam Tazkia, Bogor

Tinggalkan Komentar Anda