Cakrawala

Hembusan-Hembusan Rahmat

Syahdan, seorang petani, dalam kesehariannya membersihkan sawahnya dari rumpun-rumput dan menabur benih-benih di dalamnya. Bertanya dia pada dirinya, apakah kerja kerasnya efektif dan optimal tanpa bantuan hujan dari Allah SWT?

Bagi seorang muslim diperintahkan ber-muhajadah dalam amal baik. Andalan seorang muslim adalah fadlullah (karunia Allah) yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya menurut kadar rezekinya yang berbeda-beda. Layaknya orang mengail. Ia di samping menyiapkan kail dan umpan, juga tetap harus menyaksikan akan datangnya rezki dari Allah. Allah berfirman: “Qad yaqillu’l juhdu wayaksuru-shaidu waqad yadhuulu’l juhdu wayaqillu’sh-shaidu (Kadang-kadang bekerja sebentar hasilnya banyak, tapi kadang-kadang bekerja lama sedang hasilnya sedikit).”

Dalam hal ini, Allah SWT telah menyiapkan bentuk-bentuk nafahaat (hembusan-hembusan rahmat) pada awal waktu tertentu yang istimewa. Disebut istimewa karena jika berkesempatan menemui hembusan-hembusan itu nilai kerja jadi berlipat-lipat. Ibarat turunnya hujan bagi peteni. Manusia dapat merebutnya, asalkan ia benar-benar mau riyadloh (latihan) dengan mempersiapkan diri menyambutnya. Rasulullah s.a.w. bersabda:  “Inna lirabbikum fii ayyami dahrikum nafakhatin, alaa fata’arradhu laha (Sesungguhnya Allah SWT mempunyai nafahaat di hari-hari tahunmu, maka ingat-ingat, hendaklah kamu sambut nafahaat itu).” (HR. Thabrani)

Salah satu dari nafahaat yang secara jelas tampak adalah waktu akhir malam di mana pada saat sepi tersebut diturunkan rahmat yang luar biasa. Para sahabat dahulu justru sedikit tidur di malam hari demi menyambut momentum nafahaat ini dengan salat malam dan istighfar (Q.S. Adz Dzariyat: 17-18)/ Oleh karena itu hendaknya tidak sampai meninggalkan qiyamullail (salat tahajjut dan witir) di akhir malam, lebih-lebih qiyamullail merupakan instruksi dari Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad Saw yang pertama dan yang mudah (bisa dilakukan sampai akhir hayat) dibandingkan amaliyah yang lain, seperti puasa misalnya.

Qala luqmanu libnihi: yaa bunayya litakun a’jaza minaddaikilladzii yadz-kurullaha bil-askhaari anta minalghafilina – Lukman berkata kepada putranya: ‘Hai putraku, janganlah kamu lebih lemah daripada ayam jantan yang berdzikir kepada Allah di waktu sahur, sementara kamu ada di antara orang-orang yang ghoflah (lalai).

Selain qiyamullail, ada kesempatan lain diturunkannya nafahaat,  misalnya kesempatan ta’lim, saat orang-orang salih disebut-sebut, juga saat berkelompok untuk membicarakakan agenda dakwah dan aktivitasnya, memperhatikan problematika ummat Islam, saat khatam al-Quran, dan membaca aurad selesai salat, atau aurad-aurad yang diseriusi secara rutin.

Kesempatan nafahaat yang agung lagi adalah pada saat hari Jum’at, hari Arafah, dua hari ‘Id, dan bulan Ramadan, serta Lailatul Qadar. Sebagai upaya “merebut” nafahaat, tentunya harus ada upaya conditioning melakukan riyadhah amal-amal secara langgeng dan nasyath (giat) disertai himmah (semangat) yang besar, utamanya di “musim semi tatkala mendung”. Ini karena pada dasarnya “hujan” dalam setahun mesti turun. Ungkapan hikmah menyebutkan: qaliilun qarra khairun min katsiiri farra –  Sedikit yang langgeng lebih baik daripada banyak (tapi) lepas.

Strategi menarik nafahaat dengan segera, kondisikanlah hati dengan membersihkannya dari rumput-rumput syahawat dan menaburkan didalamnya bibit-bibit keikhlasan, serta menyambut tiupan angin rahmat dengan  tsiqah billah (kepercayaan yang penuh kepada Allah SWT). Melalui ikhtiar-ikhtiar itu layaklah kita menanti turunnya nafahaat yang bila tepat niscaya mengantarkan kita pada puncak nilai yang tinggi menuju ridha Allah SWT.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda