Aktualita

Puasa Sepanjang Masa

Written by Musa Maliki

Puasa sudah selesai. Sepertinya puasa kali ini sangat cepat. Idul fitri telah tiba. Sebuah momen yang sangat penting bagi pribadi yang telah menyucikan diri. Ya, puasa adalah bulan suci bagi yang secara serius menyucika dirinya. Di bulan puasa bukan bulan yang suci bagi dirinya sendiri, karena pribadi-pribadi makhluk Allah lah yang membuat bulan suci itu suci atau tidak.

Puasa yang telah berlalu itu adalah puasa ritual, formal, semacam perayaan. Ritual itu cenderung sakral dan regular tapi belum tentu dengan kesadaran penuh. Menjadi masalah jika hal yang sakral menjadi kebiasaan saja yang rutin, tanpa kehadiran kesadaran lagi. Hal ini seperti kita sholat tapi lupa sudah berapa rakaat atau puasa-puasa saja tanpa ada semacam kenikmatan spiritual yang mendalam dan menyentuh batinnya. Lalu, tiba-tiba idul fitra saja. Oleh sebab itu, momen sadar akan sesuatu yang dilakukannya menjadi amat sangat penting demi perintah agama juga. Kita harus beragama dengan sadar. Makanya, Allah selalu kasih clue, petunjuk untuk dzikir dan dzikir. Hal ini demi kita tetap terjaga akan apa yang kita lakukan. Jangan sampai kita ritual seperti kondisi mabok saat sholat. Hal ini dilarang, karena yang rugi kita sendiri. Kita tidak bisa ‘bertemu’ dengan Allah.

Puasa adalah momen bersih-bersih jiwa, asupan spiritualisme, penjernihan hati kita yang sudah bernoda hitam. Kita membraso jiwa, menajamkan pisau batin, dan memutiarakan hati kita biar mengkilap, kinclong. Batin, hati, rasa kita biar tidak tertutupi, terlapisi noda hitam, berkarat. Momen puasa ini benar-benar semacam ganti oli, reset ulang, install ulang program batin kita. Singkatnya, puasa ini dianggap suci atau tidak amat tergantung pada siapa yang menyucikan bulan yang dirahmati Allah ini?

Momen puasa ritual inilah yang selalu menjadi titik awal dari puasa sepanjang masa. Momen puasa sepanjang masa setelah bulan ramadan akan terisi dengan tantangan-tantangan yang lebih berat lagi dan secara teoritias sangat berbeda, sangat kontektual dan kita harus siap. Ritual puasa bulan lalu adalah semacam training diri untuk menghadapi pertandingan sesungguhnya, yakni puasa sepanjang masa setelah idul fitri. Ritual ramadan yang lalu itu semacam commemoration agar kita lebih baik lagi di masa setelah idul fitri (masa puncak penyucian diri yang sifatnya sangat personal dengan Allah). Ritual puasa bulan lalu ini memberi konsekwensi atau implikasi yang lebih kompleks tentunya di pasca idul fitri tentunya diikuti dengan kesadaran penuh dan luas, yakni wisdom. Artinya setelah ritual puasa yang sudah lewat itu, puasa yang sesungguhnya, puasa yang substansial akan kita jalani setelah adul fitri: puasa sepanjang masa. Setelah kerja pemurnian batin, jiwa, rasa kita selesai di ritual puasa yang lalu, maka kesadaran spiritualisme kita menjadi sensitif, tajam, dan bening.

Mengapa Puasa Sepanjang Masa?

Hakekat puasa bukanlah menahan makan dan minum saja dari akan terbit matahari sampai terbenamnya matahari. Namun puasa hakekatnya adalah menahan, mengontrol, mengendalikan tubuh material kita. Hasil ritual puasa ramadan ini menjadi tajam dan pakem rem dan gasnya, sehingga ‘menyupir’ tubuh dan pikiran kita pun ringan. Tubuh dan pikiran kita terlatih disiplin agar tidak menabrak-nabrak sistem sosial yang ada, sistem keberagaamaan ada, dan adaptif serta kontekstual di zamannya. Puasa hakikatnya adalah menempatkan segala sesuatu dalam proporsinya, konteksnya, tidak serampangan, tidak asal-asalan seperti proses menyeberang jalan kita harus melihat kanan dan kiri atau jika akan bicara, kita harus dengan sadar menjaga menjaga perasaan seseorang yang kita hadapi. Di sini ada konsep dan praktek empati, simpati, welas asih, tenggang rasa, dll. Inilah yang harus dilakukan di puasa sepanjangan masa.

Orang yang biasa puasa, ada semacam disiplin dalam hidup agar menjadi hanif, yakni orang yang lurus, bersih, dan bening. Puasa adalah bagaimana hidup kita tertata dengan baik, baik untuk diri kita maupun orang lain. Hidup hanif adalah sifat dasar alamiah manusia yang tetap harus diperjuangkan dari godaan, rayuan, sifat alamiah lainnya yang kurang pas, relevan memasuki momen yang bukan konteksnya. Hanif itu selalu berjalan di garis lurus menuju Allah. Menjadi hanif itu adalah ajaran sejak nabi Ibrahim sampai nabi Muhammad SAW. Seorang yang beriman itu hanif. Orang tahu hanif atau bukan ditentukan oleh dirinya sendiri. Untuk tahu konsep hanif konkritnya hanya bisa melalui akhlak. Namun, akhlak pun bisa juga disimulasikan, diakali, dan dimainkan oleh manusia sendiri. Jadi semua hal itu tetaplah bersifat pribadi. Akhlak yang tampil dari seorang yang beriman pasti benar. Tapi akhlak bisa jadi tetap tampil dari orang yang munafik, berpura-pura, bermain pencitraan, tidak beriman, dan seterusnya. Jadi akhlak dan iman selalu harus satu garis, seiya sekata.

Mengapa puasa ritual dan puasa sepanjang masa harus dengan kesadaran penuh?

Sadar atau kesadaran penuh artinya kita harus tahu betul (sadar betul) diri kita. Diri kita sebagai manusia, bukan sebagai makhluk lain seperti setan, malaikat, atau merasa menjadi Tuhan. Jika manusia merasa seperti yang lain, maka manusia tidak tahu diri. Sadar bahwa diri kita mempunyai begitu banyak peluang dan konsekwensi hidup. Kelemahan kita bisa jadi memang keunggulan kita. Semuanya sangat kontekstual.

Perkataan al Arabi: know yourself, you will your God. Ungkapan Jawa sangkan Paraning dumadi dan kalimat Innalillahi wa innailahi roji’un merupakan petunjuk begitu pentingnya manusia harus sadar diri. Diri kita memiliki potensi agar kita sendiri bisa mempunyai pilihan untuk stay di level yang statis atau naik dinamis ke level yang lebih berat lagi tantangan hidupnya. Di al Quran disebutkan bahwa manusia itu lemah (Q.S. Annisa; 28), tergesa-gesa  (Al-Isra’ 11),lalai (Q.S At-takaatsur 1), penakut (Q.S Al-Baqarah 155), bersedih hati (Q.S Al Baqarah: 62), mudah terperdaya (Q.S Al-Infithar : 6), suka mengeluh dan putus asa (Q.S Al Ma’arij: 20; Al-Fushshilat: 20) berdebat, ngenyelan, mbantah (Q.S. an-Nahl 4), suka berlebih-lebihan (Q.S Yunus: 12), pelupa (Q.S Az-Zumar: 8 ), , kikir (Q.S. Al-Isra’: 100), lupa bersyukur (Q.S. Az-Zukhruf: 15; al-’Aadiyaat: 6), zalim dan bodoh (Q.S al-Ahzab: 72), suka berprasangka (Q.S Yunus 36), mengukur atas dasar dirinya (Q.S al Hadid 72).

Semuanya itu menjadi ‘alat’, cara, tantangan bagi manusia untuk mengendalikannya agar kita memperoleh pahala, cinta, kasih sayang Allah. Lima belas hal di atas memberi kemudahan kita agar kita tahu betul tentang diri kita lalu peliharalah kesadaran spiritualisme kita agar tetap aware, berdialektika, refleksif, dan disibukkan oleh diri kita agar tetap bisa mengontrolnya, mengendalikannya, menghadapi diri kita yang mudah tergelincir ke jalan yang mengingkari kemanusiaannya atau sifat alamiahnya. Proses dialektika inilah disebut puasa secara hakekat. Puasa yang dilakukan sepanjangan masa adalah praktik kita agar tetap dapat melatih diri (tubuh) kita agar tetap hanif. Kuncinya “how to train our own body?”

Di sinilah peran jihad besar dibandingkan jihad kecil dalam medang pertempuan yang terlihat sangat konkrit (perlu diketahu jihad disebutkan 44 kali di al Quran dan hanya 10 yang ada dalam konteks perang selebihnya lebih kepada kesungguhan manusia untuk tetap sadar akan ke-baikan-nya). Jihad besar itu adalah bagaimana kita mengalami berbagai macam tantangan hidup sepanjangan masa dengan tetap terjaga. Tentunya sangat melelahkan bukan. Jadi hidup kita hanyalah pertarungan terus menerus antara kita dengan diri kita yang lain secara dialektis. Kerumitan kesadaran semacam inilah yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Dari sinilah Allah melihat manusia itu sebagai makhluk yang paling sempurna, adiluhung. Semua makhluk disuruh sujud kepada Adam (manusia). Manusia sendiri pulalah yang diserahi alam semesta oleh Allah (khalifatul fil ardh). Semuanya tertuang di al Quran at Tin:4, Al Isra 70, al Baqarah 30. Proses puasa sepanjangan masa adalah jihad besar agar tetap hanif menuju Allah sebagai manusia sempurna.

About the author

Musa Maliki

Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta dan Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan; Karyanya (bersama Asrudin Aswar) "Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat" (2019)

Tinggalkan Komentar Anda