Cakrawala

Cara Masuk dan Keluar yang Benar

Allah SWT berfirman (Q. 17:80): “Waqul rabba adkhilni mudkhala shidqi wa akhrijni mukhraja shidqi waj’al-li min-ladunka sulthanan nashiiran (Dan Katakanlah : ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan dengan cara masuk yang shidiq (mudkhala shidqin), dan keluarkanlah aku pula dengan cara keluar yang benar,   dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan atau argumentasi yang tinggi).”

Sejarah mencatat doa ini pernah dikabulkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw dengan hijrah beliau dari Mekah setelah mengalami berbagai gangguan yang demikian intensif dari kaum kaum musyrikin di sana, menuju Madinah yang subur dan maju yang kemudian berlanjut kesuksesan membangun negara-kota yang damai.


Ada ayat lainnya menyuratkan doa yang mirip, Alladzina yaquuluuna rabbana akhrijna min hadzihil qaryatidz-dzaalimi ahluha waj’al lana min-ladunka waliyyan waj’al lana min-ladunka nashiiran Orang-orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkan kami dari negeri ini (Mekah) yang dlalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkaum dan berilah kami penolong dari sisi Engkau (QS. An-Nisa’: 75).

Ada beberapa arti mudhal dan mukhraj yang disebutkan dalam doa di atas. Pertama, menurut Ibnu Abbas Qatadah, Ibnu Jarir at-Thabary dan Ibnu Juzay, mudkhol adalah hijrah memasuki Madinah, sedangkan mukhraj maknanya keluar dari Makkah. Kedua, mudkhal berarti masuk kubur (mati) dan mukhraj keluar dari kubur menuju ba’ats (hari berbangkit) atau kehidupan setelah mati. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Aufy dan Ismail Haqqi Al-Burusy. Ketiga, menurut Ibn Athiyah, mudkhal dan mukhroj bermakna umum, bisa masuk dan keluar dari Makkah ke Madinah atau dari kubur menuju kehidupan setelah mati.

Di-idhofah-kannya lafadz mudkhol dan mukhraj kepada lafaz shidiq (mudkhola shidqin dan mukhroja shidqin) di dalam doa tersebut menurut Ibnu Jarir At Thabari menunjukkan mubalaghoh (puncan kesungguhan dan habis-habisan). Artinya untuk mencapai kesuksesan aktivitas mukhroj dan mudkhol, maka harus dengan sungguh-sungguh dan habis-habisan berlaku shidiq.

Shidiq berarti menjauhi segala bentuk ketidakjujuran (kadzab), tsabat (teguh pribadi), tidak dzul wajhain (bermuka ganda), menampilkan yang paling baik dan paling sempurna di dalam beramal, sekaligus mencurahkan segenap kemampuan, bersama seluruh kesungguhan, serta tasymir (trengginas) secara lahir batin untukmenggapai maksud yang dicita-citakan.

Selanjutnya lafadz sulthonan nashiron ada dua makna. Pertama, sulthonan nashiran berartikekuasaan, kedaulatan yang menolong, melindungi lestarinya hukum-hukum Islam. Kedua, sulthonan nashiron maknanya argumentasi (hujjah) kuat yang mampu membuktikan kebenaran bagi yang mengemukakannya. Disebutkannya lafadz sulthonan nashiron belakangan setelah terlabeih dahulu lafadz mudkhola sidqin dan mukhroja shidqin menunjukkan bahwa untuk menggapai shulthonan nashiron, maka mesti melakukan mudkhola shidqin dan mukhroja shidqin lebih dulu.

Kondisi umat Islam dewasa ini “jauh panggang dari api” untuk mampu merealisasikan doa itu. Kaum muslimin justru dikungkung oleh sistem yang dlolim, berada di tempat yang dlolim pula, dan dikuasai oleh pemerintah yang kalau tidak kafir, dlolim, ya fasiq. Mereka tidak mampu keluar dari kubangan lumpur ini. Bagaimana keluar kalau kadangkala kondisi ini justry disukai. Mereka juga tidak mampu melaksanakan syari’at Islamnya secara murni dan konsekuen sebagaimana mestinya. Umat Islam dikuasai dan tidak berdaulat. Sementara itu argumentasi umat Islam yang kuat untuk mempertahankan, melindungi dan menjaga ideologinya, lenyap entah kemana. Maka jangankan menggapai sulthonan nashiron, melakukan mudkhala shidqin dan mukhraja shidqin pun tidak sanggup. Ironis!

Kondisi demikian, dilematis. Mengapa janji yang ada tidak bisa diwujudkan saat ini. Sementara generasi terdahulu telah mampu mewujudkannya? Sangat mungkin kondisi ini disebabkan tercerabutnya sikap shidiq pada diri kaum muslimin. Mereka dihinggapi perilaku tidak jujur. Tidak teguh pendirian. Bermuka dua. Asal-asalan dalam bekerja. Malas. Enggan mencurahkan segenap kemampuan. Dan tidak seriudalam mengejar cita-cita kemuliaan.

Untuk membalik kondisi ini rasanya tiada jalan kecuali bangkitnya sikap jujur dan benar pada diri kaum muslimin. Dulu, kaum muslimin mampu melakukan itu, asal sanggup berbuat shidiq dalam mudkhal dan mukhrajnya. Hendaknya dihindari dan tidak diulang perangai “bajing loncat”. Keluar dan masuknya partai misalnya, dengan cara tidak jujur. Oportunis. Di mana ada keuntungan di sana hinggap. Dan setelah itu habis manis sepah dibuang. Demi kepentingan sesaat dan insidental. Termasuk masuk dan keluar dari suatu lembaga, organisasi, atau program, juga tempat tinggal, hendaknhya menjauhi ketidakjujuran. Orang yang jujur niscaya berhasil dan bahagia.

Kita selayaknya kian mawas diri, bahwa tidaklah mudah mewujudkan shidiq bagi muslimin Indonesia. Semua merasakan aura kemunduran. Rasulullah Saw bersabda, Innas-shodqo yahdii ilal birra, wa innal birra yahdii ilal jannati wa innar-rajulal yasduqu hatta yuktaba ‘indallahi shiddiqa (Sesungguhnya shidiq akan menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan menunjukkan kepada surge, dan sesungguhnya seseorang akan berlaku shidiq hingga ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang betul-betul shidiq) – Muttafaq ‘Alain.

Perilaku shidiq ini pula pendorong mukmin sehingga berjuang mati-matian dalam rangka memenuhi shidiq-nya, demi menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Allah berfirman, Minal mukminina rijalun shodaquu maa ‘ahadullaha’alaihi. Fainnahum qadhaa nahbahu. Waminhum may-yantadziru. Wamaa baddaluu tabdiilaa – Dan di antara orang-orang mukmin itu orang-orang yang bersikap shidiq terhadap apa yang mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya (Al-Ahzab: 23).

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda