Aktualita

Tragedi Al-Aqsa dan Semangat Lukman Harun Mengembalikan Al-Quds Asy-Syarif

Written by A.Suryana Sudrajat

Lebih dari 200 orang terluka ketika polisi anti huru-hara Israel bentrok dengan warga Palestina di kompleks Masjid Al-Aqsa. Peristiwa yang terjadi usai buka puasa pada Jumat (7/5/2021) ini  menutup seminggu kekerasan di Kota Suci dan Tepi Barat. Bentrokan  terjadi saat ketegangan meningkat karena pembatasan Israel atas akses ke beberapa bagian Kota Tua selama Ramadhan. Serta adanya ancaman penggusuran yang menimpa empat keluarga Palestina di Yerusalem timur untuk memberi jalan bagi pemukim Yahudi.

Tak ayal, tindakan biadab Israel itu memancing kemarahan dunia internasional. Di antaranya  Rusia yang mengutuk keras aksi brutal tersebut. “Perkembangan peristiwa ini dipandang dengan keprihatinan yang mendalam di Moskow. Kami mengutuk keras serangan terhadap warga sipil,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP, Minggu (9/5/2021).

Dalam pernyataannya, kementerian luar negeri Rusia  menegaskan bahwa “perampasan tanah dan properti yang terletak di atasnya, serta penciptaan permukiman oleh Israel di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, tidak memiliki kekuatan hukum”.

Rusia juga menilai tindakan itu juga menjadi penghalang terjadinya kesepakatan antara Israel dan Palestina. “Tindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan menghalangi pencapaian penyelesaian damai berdasarkan pembentukan dua negara,  Palestina dan Israel.”

Di Indonesia  gelombang protes juga bermunculan, khususnya dari ormas dan parpol Islam. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, misalnya, menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina yang sedang beribadah itu merupakan perampasan terhadap hak rakyat Palestina. “PP Muhammadiyah mengutuk dengan keras sikap dan tindakan Israel yang menembaki jamaah yang sedang menyelenggarakan salat tarawih. Tindakan ini benar-benar tidak bisa diterima karena Israel benar-benar telah merampas semua hak rakyat Palestina,” kata Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas Dalam keterangan pers (9/5). Ia menegaskan,  Israel tidak hanya merampas tanah milih rakyat Palestina. Namun juga menginjak-injak kebebasan rakyat Palestina saat beribadah.  “Mereka tidak hanya merampas tanah-tanah milik rakyat dan bangsa Palestina dan menggusur mereka dari tanah dan rumah tempat tinggal mereka untuk dibangun perkampungan baru bagi rakyat Israel. Mereka juga telah menginjak-injak hak rakyat Palestina yang beragama Islam untuk beribadah dan melaksanakan salat tarawih dengan membubarkan dan menembaki mereka yang sedang beribadah tersebut,” kata dia.

Muhammadiyah, kata Anwar Abbas, mendesak agar PBB menghentikan kekerasan yang dilakukan Israel kepada warga Palestina. Dia menekankan bahwa hak-hak warga Palestina harus segera dikembalikan. “Untuk itu PP Muhammadiyah mengutuk dengan keras tindakan biadab yang telah mereka lakukan terhadap rakyat Palestina. PP Muhammadiyah mendesak PBB untuk mengutuk dan menghentikan tindakan mereka yang tidak berperikemanusiaan tersebut dan mengembalikan tanah serta hak-hak rakyat Palestina yang telah mereka rampas dan rusak tersebut,” kata Anwar Abbas.

Meneruskan Semangat Lukman Harun

Boleh dibilang, aktivis Muslim di Tanah Air punya semangat yang tinggi dalam membela bangsa Palestina. Dan satu di antaranya yang tak boleh dilupakan adalah Lukman Harun almarhum). Mungkin tidak ada orang Indonesia yang punya semangat dan konsistensi seperti  yang dimiliki  Lukman Harun dalam memperjuangkan nasib bangsa Palestina yang digusur dan terusir dari tanah air mereka sendiri. Termasuk dari Al-Quds Asy-Syarif atau Yerusalem yang terus digasak tentara Israel.

Bagi kaum Muslim, Al-Quds adalah kiblat pertama sebelum Ka’bah, kota suci ketiga setelah Mekah dan Madinah, tempat yang dituju ketika Nabi Muhammad melaksanakan Isra’  dari Masjidil Haram, sekaligus tempat pemberangkatan Mikraj atau perjalanan menuju Sidratul Muntaha alias langit yang tinggi.

Seperti diceritakan Presiden Palestina Yasser Arafat (almahum), yang waktu itu menjabat Ketua PLO (Organisasi Pembebasan Palestina), menyusul terjadinya  pertempuran al-Karamah pada tahun 1968, Lukman Harun menemuinya  di Amman, Yordania (1969). “Saudara Lukman Harun datang menemui saya dengan kehangatan persaudaraan yang tulus untu menyampaikan solidaritas dan dukungan yang ikhlas bangsa Indonesia yang bersahabat untuk perjuangan bangsa Palestina. Almarhum, orang besar ini, ingin bergabung dengan barisan para pejuang Revolusi Palestina yang pada waktu itu masih berusia bayi dan baru tumbuh,” kata Arafat. Waktu itu Lukman Harun baru berusia 34, atau lebih muda lima tahun dari usia Abu Ammar – panggilan akrab Yasser. Jadi wajar punya semangat jihad untuk langsung terjun ke kancah revolusi. Tapi Arafat meyakinkan Lukman, bahwa “di bumi Indonesia yang bersaudara beliau dapat melayani dan mempertahankan Palestina, serta menyiapkan dukungan dukungan dan sandaran moril untuk para pejuang Palestina.” Pada 1978 Lukman Harun bersama Fahmy Khatib, yang juga tokoh Muhammadiyah, datang ke Beirut untuk menyumbangkan darah untuk orang-orang Palestina yang terluka setelah serangan Israel terhadap rakyat Palestina-Lebanon. 

Selain menjadi anggota pimpinan teras Muhammadiyah, Lukman Harun adalah Ketua Komite Solidaritas Islam yang ia dirikan pada 1968. Komite ini memberi perhatian terhadap nasib umat Islam yang mendapat perlakuan tidak adil di sejumlah negara. Namun organisasi ini memberi perhatian yang lebih terhadap masalah dan perjuangan Palestina, dan berjuang secara konsisten agar bangsa Palestina memperoleh kemerdekaannya kembali. Seperti ditegaskan Arafat, “Setiap warga Palestina berhak hidup di tanah air mereka sendiri dengan penuh harga diri, berdasarkan prinsip kebebasan kemerdekaan. Dalam hal ini tidak ada bedanya semua bangsa dan rakyat di berbagai negara yang ada di dunia.”

Akan tetapi, seperti dinyatakan Makarim Wibisono, yang pernah menjadi Wakil Tetap/Duta Besar RI untuk PBB, Isreal terus menduduki wilayah-wilayah Palestina secara ilegal, dan menggunakan kekuatan bersenjata sehingga menewaskan warga sipil yang melakukan perlawanan tanpa senjata. Dan seperti biasa, meskipun mendapat kecaman yang hebat, Israel selalu mengabaikan  resolusi-resolusi yang dikeluarkan PBB, maupun perjanjian-perjanjian damai yang ia ikut tandatangani. “Betapapun, perdamaian hanyalah ilusi belaka jika hal itu berarti perjanjian-perjanjian yang tidak diimplementasikan, tenggat waktu yang dilanggar dan komitmen-komitmen yang tidak dipenuhi. Tidak juga perdamaian dapat berkembang dan tumbuh jika di satu pihak kesepakatan dicapai, sementara kebijakan-kebijakan yang tak dapat dibenarkan terus merajalela. Itu semua termasuk perluasan pemukiman, penyitaan tanah-tanah Arab, penghancuran rumah-rumah dan harta benda serta pembatasan ekonomi di wilayah Palestina. Tujuan perdamaian tidak pernah tercapai jika tujuannya semata-mata untuk melegitimasi pendudukan dan perampasan,” kata Makarim.

Sekarang,  prospek perdamaian itu semakin tidak menentu, dengan terjadinya berbagai insiden yang dilakukan tentara Israel, yang menyulut kemarahan internasional, khususnya kaum Muslim. Hal itu, bukan hanya menjadi batu penghalang bagi keinginan rakyat Palestina untuk menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Tetapi juga mengusik sentimen keagamaan kaum Muslim yang mencintai Al-Quds  Asy-Syarif. Seperti halnya Lukman Harun, jutaan kaum Muslim di dunia tidak rela jika tempat suci ketiga mereka terus diduduki Israel, yang tidak segan-segan menggunakan cara-cara yang brutal.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda