Cakrawala

Setahun Setelah Sang Maestro Berpulang

Sejumlah hal berkat pandemi Covid, justru mengalami percepatan. Sebutlah, konser yang dahulu tidak bisa tanpa diikuti kerumunan, dengan teknologi bisa terjadi. Bahkan impak kolaborasi Kompas TV dengan pembawa acara Rosiana Silalahi bersama Komunitas Ambyar (yang mengidentifikasi sebagai fans lagu-lagu Didi Kempot), mencatatkan angka fenomenal untuk sebuah konser virtual. Secara keseluruhan, hal itu dicapai dari paduan Komunitas Ambyar (sebagai fans), kualitas karya Didi Kempot dan magnitude media yang digunakan sangat tepat dalam situasi yang juga tepat. Berikut ini kenangan setahun setelah sang maestro berpulang.

Konsisten itu dalam banyak momentum, menjadikan seseorang sampai pada pencapaian tertentu. Seperti yang dialami Didi Kempot. Didi Kempot pun, konsisten menggunakan Bahasa Jawa untuk semua lagunya. Itu yang bisa dikatakan tentang Didi Kempot. Konsistensi menggunakan Bahasa Jawa, kata Didi Kempot, ngrejekeni, menjadikannya menemukan jalan mendapat rezeki. Pada akhir hayatnya pun, pilihan itu menjadikan seorang Didi Kempot mendapat penggemar kaum milenial. Didi Kempot juga terkenal dengan sebutan Godfather of Broken Heart (karena lagu-lagunya mengisahkan kesedihan dan patah hati). Penggemarnya terutama dari kalangan muda menyebut diri mereka Sad Boys (untuk laki-laki) dan Sad Girls (untuk perempuan). Dari penggemarnya juga, Didi Kempot disapa Lord Didi atau Pakde Didi. Ia pernah mengatakan dalam salah satu show di sebuah stasiun televisi, milenial yang menjadi penggemarnya adalah juri terbaik atas karyanya. Saya melihat, konsistensi Didi Kempot  dengan 800-an lagu karyanya, ia bahkan bisa berkolaborasi dengan aktivitas filantropi. Yang fenomenal, konser amal dari rumah, setahun silam (tepatnya 11 April 2020) berhasil menggalang dana kemanusiaan sebesar Rp 7,6 miliar (digagas Kompas TV bersama Rosiana Silalahi).

Melalui medium televisi saja, pencapaian itu luar biasa. Semoga perolehan itu menjadi wasilah kemaslahatan kepulangan Didi Kempot. Kerelaannya terlibat dalam konser, selain inspiratif, juga mengokohkan kesenimanannya, kreativitasnya, dan komunitas yang terbentuk sebagai kebersamaan atas lagu-lagunya menunjukkan betapa loyal kesetiaan penggemarnya. Sangat mungkin, duplikasi karyanya atau orang yang mengikuti lagu-lagunya akan ada atau melanjutkan lagu-lagunya. Didi Kempot masih menggema di tengah penggemarnya, karena dilantunkan nyaris tanpa beban, lagu-lagunya menembus batas usia dan batas masa. Diketahui orang nomor satu di Solo, Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo – yang kemudian digantikan Gibran Rakabuming Raka – sebagai walikota Solo, ketika itu FX Hadi Rudyatmo sudah berencana untuk memberikan penghargaan, dan ia juga merespon dukungan pendirian monumen di Stasiun Balapan, Solo.  Dalam karirnya, karya Didi Kempot banyak diminati kalangan muda di berbagai daerah, dan menyebut diri mereka Sad Boys dan Sad Girls – tergabung dalam komunitas Sobat Ambyar. Merekalah yang mendaulat Didi Kempot sebagai Godfather of Broken Heart dengan panggilan Lord Didi. Julukan itu berawal dari beberapa lagu-lagu Didi Kempot yang menceritakan tentang kesedihan dan kisah patah hati.

Kesenimanan Didi Kempot tercatat saat ia memulai karir tahun 1984 sebagai musisi jalanan, ketika memulai dengan alat musik ukulele dan kendhang. Selama tiga tahun ia mengamen – dari situ muncul sebutan “Kempot” – kelompok pengamen trotoar. Ketika itu Didi Kempot dan teman-temannya bergabung di daerah Slipi, Palmerah, Cakung, maupun Senen. Mereka pun sempat mencoba rekaman dan beberapa gagal sampai menjelang 1989, mencoba meluncurkan album pertamanya, “Cidro”, setelah menarik label Musica Studio. Mengangkat kisah asmara Didi Kempot yang pernah gagal karena tak disetujui orangtua wanita itu, terungkap dalam lagu Cidro dan menjadi salah satu lagu andalan pada album itu. Sejak saat itulah Didi Kempot mulai sering menulis lagu bertema patah hati. Episode hidup Didi Kempot  berubah, dari seniman jalanan sampai ke dapur rekaman. Maka, 1993-1999, karir Didi Kempot moncer. Stasiun Solo Balapan, yang menjadi latar tempat lagu Stasiun Balapan — menceritakan perpisahan terhadap seseorang yang akan pergi menggunakan kereta api. Karya ini membuat Didi diangkat menjadi Duta Kereta Api Indonesia oleh PT KAI. Pada 1993, Didi Kempot mulai tampil di luar negeri, tepatnya Suriname. Lagu Cidro yang dibawakan sukses meningkatkan pamornya sebagai musisi terkenal di Suriname. Dari Suriname, Didi Kempot lanjut menginjakkan kakinya di Eropa. Pada 1996, ia mulai menggarap dan merekam lagu berjudul Layang Kangen di Rotterdam, Belanda. Kemudian, Didi Kempot pulang ke Indonesia pada 1998 untuk memulai kembali profesinya sebagai musisi. Tak lama setelah pulang kampung—pada awal era reformasi—ia mengeluarkan lagu berjudul Stasiun Balapan.

Kembalinya Didi Kempot ke Indonesia ternyata membuat kariernya semakin populer. Hal itu dibuktikan dengan keluarnya lagu-lagu baru di awal 2000-an. Didi Kempot kembali terkenal setelah mengeluarkan lagu berjudul Kalung Emas pada 2013 dan Suket Teki pada 2016. Lagu tersebut mendapatkan apresiasi yang tinggi dari warga Indonesia. Tahun 2020, tepatnya 11 April, publik Indonesia tepatnya Kompas TV bersama presenter Rosiana Silalahi menggelas konser siaran langsung dari rumah, dan mengumpulkan donasi Rp 7,6 miliar untuk melawan COVID-19, dan pada 1 Mei 2020 Didi Kempot merilis lagu berjudul Ojo Mudik berisi imbauan supaya masyarakat tidak kembali ke kampung halaman selama Idulfitri untuk mencegah penyebaran koronavirus meluas. Tuhan berkehendak lain. Allah memanggil pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 31 Desember 1966 itu pada 5 Mei 2020 pukul 07.45 dalam usia 53 tahun di RS Kasih Ibu Surakarta.

Sedikitnya, Didi Kempot telah mengeluarkan 159 singel, dan sekian kali mendapat penghargaan Anugerah Musik Indonesia – dalam Tahun 2001 – 2019 juga memperoleh Anugerah Dangdut TPI pada tahun 2002, Indonesia Dangdut Award (2018 dan 2019), bahkan menerima Penghargaan Khusus Maestro Campursari (2019). Dari penggalan klip Garuda TV Suriname, Didi Kempot sempat ditemui dan menyampaikan beberapa hal. Antara lain, Didi Kempot berpesan, tentang falsafah air yang pada waktunya akhirnya meluap. Luapan itu, Didi mengibaratkan, hidup yang akhirnya “meluber”. Meluap. Ia mengibaratkan kehidupan yang berlimbah, harus bisa didistribusi, dinikmati orang lain. Berkaca pada Suriname, yang menjadi kejutan buat dirinya. Didi menyaksikan betapa banyak orang Jawa – yang menjadi wasilah rezekinya. Didi pun menekankan perlunya menghargai orang-orang yang lebih tua. Ke Suriname ini, Didi Kempot menemukan penggemarnya, dari mana ia meraih kesuksesannya. Hal yang ia sebut –keberanian para pendahulu yang tiba di Suriname. Kata Didi Kempot, wani rekoso, berani bekerja keras. Kombinasi kerja keras, penghargaan pada orang tua, penghargaan pada kebudayaan (Jawa), dan filantropi itulah, “paket lengkap” sukses seorang Didi Kempot. Menjejakkan kenangan atas karyanya dan kedermawanannya. Semoga kedermawanannya – salah satunya tertuang dalam lagu Ojo Mudik sebagai upaya (terakhirnya menghentikan penyebaran korona virus), menjadi amal salehnya. Kepada komunitas Sad Boys dan Sad Girls, meminjam istilah yang pernah dikatakan Didi Kempot, patah hati itu “ora sah (tidak usah) ditangisi, nek perlu (kalau perlu) justru dijogeti.”

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda