Cakrawala

Apa dan Siapa Syaikhul Islam

Written by Iqbal Setyarso

Menurut  Alquran, pemberian gelar ternyata dilakukan Allah kepada pribadi-pribadi salih tertentu seperti gelar shiddiq, shodiqol wa’di, awwab, ulul azmi, dan lain-lain. Demikian pula Rasulullah dan para sahabat. Kita mengetahui gelar-gelar shahabat yang terkenal seperti Ash-Shiddiq untuk Abu Bakar, Aminul Ummah untuk Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarroh, Al-Faruq untuk Umar, Dzu An-Nurain untuk ‘Usman, Dzu An-Nitaqain untuk Asma’ dan lain-lain. Kaum muslimin di zaman sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in juga terbiasa memberikan gelar untuk tokoh-tokoh tertentu. Tokoh-tokoh alim nan salih yang mendapatkan gelar tersebut juga mendiamkannya dan tidak mengingkari. Semua ini menunjukkan bahwa talqib (pemberian gelar) semacam itu hukum asalnya tidak terlarang. Jadi tidak mengapa menjuluki seorang berilmu dengan julukan nashirus sunnah, ustadz, ‘allamah, syaikh, fahhamah, kyai, tuan guru dan lain-lain selama tidak berlebihan dan melanggar batas-batas syar’i. Bagaimana dengan gelar Syaikhul Islam?

Definisi Syaikhul Islam menurut As-Sakhawi adalah orang yang sangat luas ilmu Islam yang dimilikinya (mutabahhir), baik yang ma’qul maupun yang manqul. As-Sakhawi berkata,

“…Adapun Syaikhul Islam-berdasarkan kajian komprehensif atas karya para ulama mu’tabar- lafaz ini dipakai untuk menyebut orang yang mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya disertai pengetahuan terhadap kaidah-kaidah ilmu, kajian mendalam terhadap pendapat-pendapat para ulama, piawai dalam menerapkan berbagai kejadian terhadap nash, dan memiliki pengetahuan terhadap ilmu ma’qul (rasional) dan manqul (nash) dengan cara yang tepat…”

Definisi “terbuka” seperti itu, memungkinkan penyematan kepada ulama manapun dari madzhab apapun dan oleh ulama dari komunitas manapun selama memenuhi sifat-sifat yang dianggap memenuhi kriteria di atas. Sehingga ulama dengan gelar syaikhul Islam jumlahnya tidak satu dua orang tetapi banyak sekali. Adz-Dzahabi dalam kitabnya: “Al-Mu’jam Al-Mukhtash bi Al-Muhadditsin” cukup banyak menggelari ulama-ulama tertentu dengan sebutan Syaikhul Islam seperti Ibnu Daqiqil ‘Id, Ibnu Jama’ah, Al-Fazari, Hibatullah Al-Barizi dan lain-lain. Menurut As-Sakhawi, pada awal abad ke 8 H istilah ini menjadi “pasaran” sehingga banyak sekali ulama yang mendapatkan gelar ini. Bahkan ada juga kitab yang secara khusus mendaftar nama-nama ulama yang digelari Syaikhul Islam bernama “Al-Badru At-Tamam Fiman Luqqiba Min Al-‘Ulama Bilaqobi Syaikhi Al-Islam” karya Sa’ad Fahmi.

Siapa Syaikhul Islam itu?

Ibnu Nashiruddin, dalam kitab Radd al-Wafir (Ar-Roddu Al-Wafir mencatat beberapa kriteria tersebut. Pertama, seorang tokoh yang paham Alquran dan as-Sunnah dengan perbedaan qira’ah dan asbab an-nuzul-nya. Kedua, menguasai bahasa Arab secara sempurna. Ketiga, menguasai masalah ushul (pokok) dan furu’ (cabang) dalam Islam. Juga, ia adalah ulama yang menjaga ibadahnya, tawadhu, dan tak menganggap diri manusia maksum.

Nabi Muhammad memberi contoh dan para ulama menyebutkan, ada sebagian memperoleh ulama mendapat digelari Syaikhul Islam. Tokoh-tokoh itu tertera namanya dalam sejarah, yang masih diikuti sebagai teladan mengekspresikan Islam.  Pertama, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, lahir 541 H/Wafat 620 H (menulis kitab Al-Mughni sebuah kitab fiqih, alI’tiqad – kitab aqidah Ar-Raudah dan Al-Burhan, selain menuliskan kitab biografi ulama yang menjadi gurunya). Beliau sudah menghafal Alquran an saat berusia 10 tahun. Kedua, Izzudin bin Abdissalam (lahir 577 H/W 660 H di Mesir). Keberanian dan ketegasannya membuat penguasa Mesir saat itu takzim, dan patuh tatkala Izzudin minta Sultan Mesir menyiapkan pasukan untuk menghadapi pasukan Tartar di Syam. Karya yang dihasilkannya: al-Qawaíd al-Kubra, Majaz al-Qur´an, Tafsir al-Qur´an, Muhtasar Shahih Muslim, dan Al Fatawa al-Mishriyah.

Ketiga, Imam Nawawi, alim kelahiran Nawa, desa di provinsi Dar’an, Suriah (631 H/W. 676 H), meninggalkan kitab Syarah Shahih Muslim, Syarah Muhadazb, dan Riyadh as-Shalihin, Keempat, Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-Ied, dikenal kitab karyanya Ihkam al-Ahkam, Syarh Umdah Al-Ahkam, al-Iqtirah (Musthalah Hadits), dan Syarh Muqadimah Mathruzi (ushul fiqh).

Kelima Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, lahir 661 H/W.738 H), masyhur menguasai ushul dan furu’, selain hafidz, faqih dan mufassir. Karenanya, dalam usia 19 tahun ia sudah berfatwa. Kepadanya, berguru Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Katsir, tokoh ini menghasilkan karya fenomenal Majmu’ah al-Fatawa, Jawab as-Shahih, Iqtidha Sirath al-Mustaqim, dan Qawa’id Nuraniyyah (berpulang dalam penjara ditemani salah seorang muridnya, Ibn Qayyim), Keenam, Taqiyuddin as-Subki (Lahir 683 H/W. 733 H), berguru kepada Zainuddin (seorang hakim, yang memboyongnya ke Mesir, meninggal di Cairo). Keahliannya membuatnya disebut Imam Muhaditsin, Imam Fuqaha, dan Imam Ushuliyin. Beberapa karyanya, sejumlah kitab: Tafsir Durar an-Nadzim, Al Ibhaj Syarh Minhaj, dan Majmu’ Syarh al-Muhadzab. Sejarah mencatat, pelayat yang mendoakannya konon tidak ada yang menandingi beliau kecuali pentakziyah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketujuh, Ibnu Hajar al-Asqalani orang alim tokoh yang digelari Syaikhul Islam berikutnya (di antara delapan orang Syaikhul Islam dalam sejarah), Lahir dalam keadaan yatim (733 H/W. 852 H), tokoh ini berguru pada sejumlah orang alim: Hafidz al-Iraqi (ahli Hadits), Ibnu Mulaqqin (ulama terbanyak berkarya), dan Al Bulqini (ahli fikih). Dalam usia 9 tahun sudah mampu menghafal al-Qur´an, hafal al-‘Umdah (kumpulan Hadits-hadits hukum), Alfiyak Hadits Iraqi (ilmu hadits). Ulama kepada siapa Ibnu Hajar berguru antara lain: Hafidz al-Iraqi (ahli Hadits), Ibnu Mulaqqin (ulama terbanyak berkarya), dan Al Bulqini (ahli fikih). Ibnu Hajar al-Asqalani juga telah melakukan perjalanan ke Hijaz, Yaman, Syam, dan Makkah untuk mecari ilmu. Guru Imam Sakhawi dan Imam Suyuthi ini menghasilkan karya fenomenal Fathul Bari (dalam waktu 25 tahun) selain kitab-kitab yang berhubungan dengan periwayatan hadits (seperti: Lisan al Mizan dan Tahdzib at-Tahdzib). Imam Sakhawi pun mengarang buku khusus Jawahir ad Dhurar fi Tarjamah Syaikh al Islam

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda