Aktualita

Nagari Balingka dalam Pusaran Zaman

Written by Arfendi Arif

Ada banyak masjid di Balingka, namun yang tergolong Masjid Jam’i atau berfungsi untuk shalat Jum’at dan Shalat Ied hanya tiga masjid, yaitu Masjid Raya Pahambatan, Masjid Raya Koto Hilalang dan Masjid Raya Subarang.

Desa Balingka merupakan sebuah kampung yang terletak sedikit di atas kaki Gunung Singgalang. Pemerintahan berbentuk kenegarian, dipimpin seorang kepala desa yang disebut Wali Nagari berdasarkan pemilihan langsung. Dalam bahasa sehari-hari wali nagari ini akrab disapa Inyiak Wali.

Balingka persisnya masuk Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Bukittinggi, Sumatera Barat. Nagari ini dibagi tiga jorong yaitu Subarang, Koto Hilalang dan Pahambatan. Tiap jorong ada perwakilan yang ikut menggerakkan aktivitas kegiatan masyarakat yang disebut Inyiak Jorong. Inyiak Jorong inilah yang menggerakkan masyarakat untuk kegiatan gotong royong dan kebersihan tiap jorong. Inyiak Jorong ini tampaknya bukan perangkat pemerintahan nagari, namun ia berperan dan menjadi sumber untuk menjelaskan dan menyampaikan jika ada persoalan di tiap jorong kepada wali nagari atau pemerintahan nagari. Selama ini banyak kegiatan yang positif digerakkan Inyiak Jorong di antaranya memperbaiki jalan dengan swadaya masyarakat.

Seperti diungkapkan di atas ada tiga masjid jam’i di Balingka,, namun masjid lain (yang tidak dipakai untuk shalat Jum’at) dan mushola terdapat 10 buah yang tersebar di tiga jorong.

Untuk lembaga pendidikan di wilayah yang luasnya 18,2 km persegi ini, terdapat 6 sekolah dasar, ada 3 TPA, 1 madrasah tsanawiyah, dan 1 madrasah aliyah. Hanya sekolah umum seperti SMP,SMA dan SMK yang tidak ada di kampung yang berpenduduk 4663 jiwa ini (data BPS 2017).

Sekilas sejarah politik

Secara historis daerah ini menonjol karena peran tokoh-tokohnya. Terutama dalam peran agama dan politik. Syekh Daud Rasyidi (1297-1948),  misalnya,  adalah ulama yang dikenang sampai sekarang. Ia adalah murid Haji Rasul atau Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Haka, orang tua Hamka). Inyiak Daud, sapaan akrabnya, mendirikan surau di Lapau Kayu Dama jorong Subarang. Muridnya mencapai 300 orang. Ia ulama yang aktif bersama Haji Rasul memberantas TBC (tahayul, bid’ah dan churafat ). Ia juga penentang sakerei (kebiasaan menunduk menghormati kaisar Jepang).  Hingga sekarang masjid dan berkas tempatnya mengajar masih ada. Ia dihormati oleh Presiden Soekarno, terbukti di teras surau tempatnya mengajar terdapat prasasti peringatan hari wafatnya yang ditandatangani Bung Karno, Presiden pertama RI ini.

Masjid Kayu Dama tempat Syekh Daud Rasyidi berdakwah dan mengajar murid-muridnya

Daud Rasyidi memperdalam ilmu agama Islam dengan  belajar pada ulama-ulama terkenal di tanah air. Ia juga belajar ke Mekah sebanyak dua kali kunjungan. Syekh Daud Rasyidi juga adalah pendiri Permi (Persatuan Muslim Indonesia) di daerah Balingka. Permi adalah partai yang paling keras menentang Belanda. Partai ini berdiri tahun 1930 dan dibubarkan Belanda tahun 1937.

Haji Daud Rasyidi  juga mendirikan Madrasah Taman Raya bersama sahabatnya di Balingka. Sekarang sekolah ini sudah menjadi sekolah negeri dengan nama MTsN ( Madrasah Syanawiyah Negeri ) Taman Raya. Putera Syekh Daud Rasyidi yaitu H.Mansur Daud Datuk Palimo Kayo (1902-1985 ).  juga tokoh yang dikenal luas. Selain ulama ia juga aktivis politik Permi dan Masyumi, pernah jadi duta besar Indonesia untuk Irak dan pernah jadi Ketua MUI Sumatera Barat. Datuk Palimo Kayo dikenal sebagai ulama yang konsekuen, punya tanggung jawab besar dalam menegakkan agama Islam.

Prasasti peringatan Syekh Daud Rasyidi yang ditandatangani Presiden Soekarno, presiden pertama RI

Memang, di Balingka, para tokohnya selain peduli pada dakwah, juga concern dengan kemajun pendidikan. Hal ini misalnya dilakukan H. Djalaluddin Thaib Penghulu Basa (1895-1959 ). Ia seorang yang menguasai pendidikan, dengan pengetahuan yang diperolehnya baik ketika ia di Mekkah maupun melihat langsung di beberapa madrasah terkenal. Karena kecakapannya itu  ia pernah diminta membantu mendirikan thawalib di Aceh. Djalaluddin Thaib yang kemudian menginisissi berdirinya Diniyah School (sekarang MTsN) di Balingka. Inilah sekolah moderen pertama di Balingka dan kedua di Minangkabau setelah diniyah school di Padang Panjang. Dengan adanya diniyah school ini belajar agama bisa melalui sekolah, yang selama ini hanya melalui surau.

Djalaluddin Thaib seorang aktivis organisasi.  Ia kemudian bergabung dengan Permi, sebuah partai baru hasil  transformasi dari organisasi thawalib. Dalam perkembangannya partai ini bersuara kritis dan lantang terhadap Belanda sehingga ia disingkirkan ke Digul (Irian, Papua sekarang). Dua tokoh Balingka lainnya yang ikut diasingkan adalah Muchtar Luthfi dan Ilyas Ya’kub. Muchtar Luthfi yang dikenal orator ulung, wafat di Makassar. Namanya diabadikan menjadi nama jalan dekat Masjid al-Markaz al-Islami kota Makassar.

Sisi ekonomi dan sosial-budaya

Tokoh yang cukup melegenda namanya di bidang bisnis dan kewiraswastaan adalah H.Tamin Sutan Marajo (1874-1957). Seorang pengusaha dengan bakat alamiah, tumbuh  dari bawah hingga menjadi saudagar besar yang disegani. Meski hidup di era penjajahan, dan bersaing bukan hanya dengan pedagang pribumi dan Belanda, Haji Tamin bisa tampil menjadi pengusaha sukses.

Disamping itu haji Tamin juga sukses mengkader putera-puteranya mengikuti jejaknya menjadi pengusaha, yang masing- masing punya perusahaan  dan berkembang di antaranya di Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Di Jakarta industri tekstil Ratatex, sangat dikenal tahun  50-60-an adalah milik puteranya, Rahman Tamin.

Putera-puteranya yang  lain juga sukses di bidang pendidikan dan menjabat di berbagai instansi pemerintah dan swasta, di antaranya adalah Mr  H. Djailin Tamin (1916-2004),  diplomat di banyak negara dan duta besar untuk Syria.

Masjid Raya Pahambatan Balingka, Kec. IV Koto, Kab. Agam, Bukittinggi, Sumbar.

Di bidang pendidikan ada nama Prof. Dr.Mukhtar Yahya, salah satu pendiri PTAIN, yang belakangan berubah nama menjadi IAIN,  dan akhirnya UIN saat ini. Prof. Mukhtar Yahya adalah guru besar ilmu tafsir pertama di Indonesia.

Dalam bidang profesional dua nama yang menonjol adalah H. Armas  Rangkayo Sutan (1930-2007) dan Ir. Suhaimi Yatim Dt. Rajo Bandaro (1933-2010). H. Armas Rangkayo Sutan adalah orang Balingka pertama lulusan Universitas Indonesia dari Fakultas Ekonomi tahun 1961. Karirnya sebagai direksi di perusahaan swasta PT Indo Karya Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, perakitan mobil, maskapai pelayaran dan asuransi. H. Armas juga punya perusahaan taksi dengan memiliki 10 buah unit armada. Ia bergabung dengan perusahaan Presiden Taksi.

Sementara itu Ir. H. Suhaimi Yatim Dt. Rajo Bandaro (1933-2010) adalah tokoh Balingka lulusan pertama Universitas Gajah Mada (UGM) yang meraih gelar insinyur.Ia belajar di universitas ternama di Jogja ini antara tahun 1955-1960.Karir Ir.Suhaimi cukup mentereng karena ia bekerja di sebuah BUMN terkenal Waskita Karya. Dia termasuk insinyur andalan di Waskita Karya dan banyak membangun proyek-proyek besar di beberapa daerah antara lain Jakarta, Pontianak, Semarang, Padang, Jogja,Solo, Kudus dan Tegal. Proyek yang digarapnya antara lain pelabuhan,gedung ,hotel, irigasi, proyek air minum dan lainnya. Contoh proyek yang pernah ditanganinya adalah Hotel Ambarukmo, Jogja dan Semen padang di Sumatera Barat.

Tidak disangka bahwa Balingka memiliki juga  orang yang berkarir sebagai bankir. Ia adalah Drs.H. Masnadi Nasaruddin St. Diateh (1944-2015). Bekerja di Bank BDN (sekarang Bank Mandiri) antara lain ia pernah menjabat wakil kepala cabang dan kepala cabang di beberapa daerah: Kupang (NTT), Cimanggis (Jawa Barat), Palembang, Makassar, Lampung, Padang, Gambir (Jakarta) dan di Kantor Pusat BDN Jakarta.

Di bidang jurnalistik Balingka memiliki H.Nazif Basir (1934-2020). Ia adalah sosok yang sulit dicari bandingnya. Tidak hanya sebagai jurnalis, Nazif Basir juga seorang seniman di bidang tari atau koreografer. Sebagai wartawan ia telah  malang melintang di Jakarta dan Padang. Ia termasuk salah satu pendiri  koran Singgalang. Nazif Basir seorang penulis cerpen yang handal, cerita bersambungnya yang akrab dengan masyarakat Minang sangat digemari pembaca.

Namun, nama besar Nazif Basir juga di bidang tari dan drama. Ia, misalnya, telah menulis dan menyutradarai 9 naskah drama dan menyutradarai 2 naskah klasik. Karya operetnya mencapai 25 judul, sandratari 4 judul, drama tari 2 judul dan konsep tari massal 2 judul. Salah satunya dipertunjukkan pada upacara pembukaan MTQ Nasional di Padang, Sumatera Barat, 23 Mei 1983. Nazif Basir bersama isterinya Elly Kasim, penyanyi Minang terkenal, juga telah berkeliling dunia tidak kurang dari 118 kota dan 35 negara di dunia mengadakan pertunjukkan kesenian.

Balingka juga memiliki seorang sastrawan dan pengarang Karim Halim (1918-1999). Awalnya, ia dikenal sebagai ahli tata bahasa. Puisi dan artikelnya dimuat di Majalah Adil di Solo, Panji Islam, Pedoman Masyarakat dan Pujangga Baru.Karim Halim kenal baik dengan HB Yasin, sastrawan dan kritikus sastra di Balai Pustaka. Kemudian Karim Halim bekerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jabatan  terakhir Kepala Direktorat Pendidikan Masyarakat. Pensiun dalam usia 60 tahun dan kemudian bekerja di UNESCO sebagai tenaga ahli ditempatkan di Kabul, Afghanistan dan Roma.

Tidak lengkap kiranya jika tidak disebutkan pula seniman kondang Balingka, yaitu Syahrul Tarun Yusuf. Meskipun hanya sebagai pengarang lagu, namun lagunya dinyanyikan penyanyi terkenal Minang dan melegenda sampai sekarang. Tidak hanya digemari di Tanah Air, tetapi juga disukai masyarakat Malaysia.

Di bidang politik Balingka punya wali nagari yang karirnya meleset hingga menjadi anggota DPRD kabupaten dan provinsi. Ia adalah Muhammad Thamrin Datuk Penghulu Basa ( 1935-2005). Ia menjadi wali nagari selama dua periode, anggota DPRD kabupaten tiga periode, dan anggota DPRD tingkat provinsi satu periode. Muhammad Thamrin juga adalah Ketua Golkar Kabupaten Agam, dan pernah juga sebagai Ketua DPRD Kabupaten Agam selama dua periode.

Perkembangan saat ini

Suatu hal yang tampak menonjol tokoh Balingka tidak banyak berkiprah di bidang politik, kalaupun ada sangat terbatas.  Lebih terlihat mereka memilih jalur profesional. Di bidang jurnalistik nama yang cukup mengemuka adalah .Karni Ilyas. Lulusan Fakultas Hukum UI ini merintis karir wartawan mulai dari wartawan Harian Suara Karya,, Majalah Mingguan  Tempo, Pemred Majalah Forum Keadilan, dan hingga kini sebagai Pemred TV One. Karni dikenal dengan tayangan talk show Indonesia Lawyers Club, sebuah tayangan yang mendialogkan berbagai masalah mendasar dan aktual yang terjadi dalam kehidupan politik dan hukum.

Di bidang pendidikan, beberapa orang Balingka menjadi guru besar, sebut saja Prof.Dr. Zulfiati, M.Pd. yang menjadi pengajar S3 program studi teknologi pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Sedangkan Prof.Dr. Irdam Ahmad, M.Sat,adalah guru besar di Universitas Pertahanan dan Universitas Uhamka. Ahli statistik lulusan Akademi Ilmu Statistik  Jakarta ini juga  adalah Master of Statistics University of Philipines, dan Doktor bidang kependudukan dan lingkungan hidup jebolan Universitas Negeri Jakarta, 2011. Prof. Irdam hingga kini adalah PNS di Biro Pusat Statistik Jakarta.

Bergiat sebagai motivator ekonomi, kewirausahasn, koperasi dan UMKM digeluti Dr. Ir. H.Arsyad  Ahmad, M.Pd. Alumnus Jurusan Teknil Sipil Institut Teknologi Tekstil Bandung dan  Doktor Program Pendidikan Luar Sekokah Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini adalah Ketua Bidang Pembinaan Ekonomi Umat MUI Kota Bandung.

Di lingkungan birokrasi tercatat tokoh Balingka yaitu Drs. Isra Amir M.Pd Dt. Bandaro , menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam. Satu-satunya tokoh Balingka yang berprestasi dan menetap di kampung halaman.

Tokoh lain yang juga tinggal tidak jauh dari kampung halaman adalah pebisnis sukses di bidang transportasi, yaitu Anas St Jamaris, pemilik bis angkutan antar kota antar provinsi, ANS. Bis ANS berada dibawah bendera PT Anas Nasional Sejahtera.

Profesional dan malang melintang di perusahaan asing dilakukan oleh H.Joniwel St Parmato,SE,MM Dt. Indo Balabiah. Dengan  kemampuan dan keahliannya di bidang akuntansi dan programer komputer, ia mampu berkiprah di banyak perusahaan asing antara lain milik Belanda, Finlandia dan Inggris. Kini sebagai Direktur keuangan PT Metito, sebuah perusahaan milik Inggris yang bergerak di bidang pengolahan air dan limbah.  Perusahaan ini berkantor pusat di Dubai, Uni Emirat Arab.

Dunia kepengacaraan juga digeluti warga Balingka. Ia adalah M.Luthfie Hakim,SH, MH St Jamaris Dt. Pangulu Kayo Nan Putiah. Mendirikan kantor hukum M. Luthfie Hakim dan Patners banyak menangani kasus rumah sakit dan kesehatan. Alumnus UGM ini dikenal sebagai advokat kesehatan, dan menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Advokat Spesialis Rumah Sakit (PP HASRS). Luthfie Hakim adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Balingka (IKB).

Dengan adanya aset sumber daya manusia Balingka ini ada baiknya mereka aktif memberikan kontribusinya untuk memajukan Balingka. Mungkin perlu dibentuk semacam organisasi cendekiawan dan pakar  Balingka yang secara rutin memberikan saran dan pemikiran untuk kemajuan Balingka. Allahu’alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda