Mutiara

Dari Reformis ke Revisionis

Pada 1922 Soewardi Soerjaningrat mendirikan  Taman Siswa. Ia pun mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Penanya tak lagi tajam  dalam menghadapi kolonialisme, dan kegiatannya beralih kepada pengagungan budaya Jawa. Ruth Mc Vey menyebut sekolah yang ia dirikan “merupakan jawaban abangan kepada sekolah Muhammadiyahnya golongan santri.”

“Menurut pendapat saya, ada sesuatu yang tidak pada tempatnya – sesuatu yang tidak senonoh jika kita (saya masih seorang Belanda dalam khayalan saya) menyuruh pribumi-pribumi itu mengikuti pesta-pesta ria yang merayakan kemerdekaan kita. Pertama, kita akan melukai perasaan mereka yang peka itu, karena di sini sedang merayakan kemerdekaan kita. Pertama, kita akan melukai perasaan mereka yang peka itu, karena disini sedang merayakan kemerdekaan kita di negeri mereka sendiri yang sedang kita jajah. Pada saat itu kita sedang merasakan sangat bahagia karena 100 tahun yang lalu kita membebaskan diri dari kekuasaan asing. Semua itu terjadi di hadapan mata mereka yang masih berada di kekuasaan kita.”

Itu bagian dari Als ik een Nederlander, dimuat dalam koran terbitan Bandung De Express, 19 juli 2013. “Sekiranya saya seorang Belanda”, tak syak, adalah artikel tajam pertama dalam bahasa Belanda yang ditulis seorang Jawa penentang kolonial Belanda. Penulisnya, Soewardi Soerjaningrat, 24 tahun, bekas anggota Boedi Oetomo yang kecewa lalu mendirikan Sarekat Islam Cabang Bandung bersama Abdoel Moeis. Sesudah itu gabung dengan dr. Tjipto dan Douwes Dekker dalama Indische Partij.

Karena itu, pemerintahan Belanda semula tidak percayai esai politik Soewardi. Mereka mengira penulisnya Tjipto, atau setidak-setidaknya ditulis dibawah pengaruh dokter pengaruh Jawa itu. Tapi, seminggu kemudian Soewardi menulis een voor Allen, maar Allen voor Een (“Satu untuk semua, tetapi Semua untuk Satu”) di harian yang sama. Karangan itu mengecam tindakan-tindakan pemerintah menganggu Komite Boemi Poetra (yang salah satu tujuannya menuntut kebebasan berpendapat yang lebih besar untuk pribumi), selain menegaskan bahwa karangan “Sekiranya Saya Seorang Belanda” ditulisnya sendiri. Kabarnya, selama interogasi, Tjipto tidak membenarkan dan tidak membantah berada di belakang artikel itu.

“Ada sesuatu yang tidak ada tempatnya_sesuatu yang tidak senonoh jika kita (saya masih seorang Belanda dalam khayalan saya) menyuruh pribumi-pribumi itu mengikuti pesta-pesta ria yang merayakan kita.”

Esai itu dinilai eksplosif bukan semata karena nadanya yang provokatif, melainkan juga karena implikasi politiknya yang luas. Maklum, artikel itu oleh Moeis, pengarang novel keetemu jodoh yang terkenal itu, diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, lalu dibagi-bagikan dalam bentuk selebaran (Pranata, Ki Hadjar Dewantara, 1958). Alhasil, komite Boemi Poetra harus dibekuk dan para aktivisnya diasingkan. Bersama Tjipto, dan Dekker (indo yang kemudian yang menjadi Setiabudi itu). Soewardi di buang ke Belanda. Di sana orang muda yang pernah bekerja di pabrik gula dan perusahaan obat ini memperoleh ijazah guru. Anehnya, di negeri pembuangan yang menjamin kebebasan berpendapat itu komentar-komentar politiknya malah tidak mengungkapkan ketidakpuasan terhadap kolonialisme, melainkan berhenti pada analisis situasi.

Lahir 2 Mei 1889 di Yogya, Soewardi berasal dari keluarga aristokratis Pakualaman. Ayahnya, Pangeran Soerjaningrat, putra tertua Pakualaman III dari isteri utama, tidak mewarisi kekuasaan ayahnya yang ketika meninggal dalam usia 40 malah digantikan, atas keinginan Belanda, oleh saudara sepupunya. Sepeninggal Paku Alam IV, yang menjadi Paku Alam V orang lain: adik kakeknya.

Karena itu, Soeryaningrat boleh dikatakan miskin. Putranya, Soewardi itu, hanya bisa melanjutkan pendidikannya di STOVIA di Jakarta bukan di HBS (Hogere Burger School). Begitu juga abangnya, Soeryopranoto, kelak aktivis Sarekat Islam dan bergelar “Pangeran Pemogokan”, masuk   pertanian di Bogor. Kiranya kondisi tak adil itulah yang mendorong mereka ambil bagian dalam pembaruan sosial. Keduanya bergabung dengan kalangan priyai-bukan-ningrat, seperti guru dan dokter. Ketika bergabung dengan Boedi Oetomo, kakak-beradik ini kecewa, karena orientasi perkumpulan itu hanya kalangan atas.

Kembali dari Belanda, 1919, Soewardi meneruskan aktivitas politiknya sebagai wartawan. Selain menulis untuk De Express, De Boweging, ia juga memimpin Persatuan Hindia. Ia pun giat di National Indische Partij (versi dari IP), tempat ia menjabat sekretaris, kemudian ketua. Akibat tulisan-tulisannya provokatif, ia mendekam di bui, menunggu pemeriksaan, 5 Juni hingga 24 Agustus. Ia dijatuhi hukuman kerja paksa, sementara partainya dilarang pada 1922. Pada 3 Juli tahun itu juga dia mendirikan sekolah Taman Siswa. Kata Ruth Mc Vey, sekolah ini merupakan “jawaban abangan kepada sekolah Muhammadiyahnya golongan santri”.

Ki Hadjar Dewantara

Praktis setelah itu Soewardi, yang kini bernama Ki Hadjar Dewantara, menghentikan kegiatan politik. Seperti disebut Savitri Scherer, ia juga mengganti pandangan pembaruan sosialnya yang radikal dengan kegiatan yang menjurus ke pengagungan budaya Jawa. Sikapnya tetap anti-Belanda dan anti-dominasi asing. Hanya, menurut cucu dr. Soetomo itu, semakin banyak Soewardi terlibat kegiatan pendidikan, semakin kuat ia membawakan aspirasi golongan atas. Pandangannya menjadi elitis. Ia sadar akan latar belakang sosialnya.

Tak syak, Ki Hadjar telah berubah menjadi pembela status quo: semakin banyak jiwa reformis sosialnya digantikan revisionis yang berusaha mengekalkan sistem. Tak heran jika pada 1931 ia menyambut HUT ke-25 pemerintahan Paku Alam VII dengan tulisan membangga-banggakan prestasi kebudayaan keluarganya. Ia mengatakan, berdasarkan alasan-alasan keturunan saja ia ingin keturunan Paku Alam tetap membuat keluarga itu tetap berdiri di depan garis terdepan masyarakat kita.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda