Cakrawala

Mudiro Atmosentono : Duta Bahasa dari Trenggalek

Bung Karno, Presiden pertama RI  dikenal sangat memperhatikan perkembangan Bahasa. Urusan kebahasaan pun menjadi perhatian strategisnya. BK pun mengutus Mudiro, seorang penerjemah kelahiran Trenggalek (Jawa Timur) selaku utusan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), tahun 1963, pergi ke Beijing. Misi utamanya menghasilkan Kamus Indonesia-Tionghoa.

Sejarawan Tiongkok, professor Kong Yuanzhi mencatat, Indonesia termasuk salah satu negara paling dini mengakui RRT, menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok tahun 1950. Presiden Soekarno mengunjungi Tiongkok tahun 1956, tahun 1963 Presiden Lu Shaoqi melakukan kunjungan balasan ke Indonesia. Bung Karno muda pengagum Bapak Revolusi Tiongkok Dr. Sun Yat Sen (Sung Zhongshan) yang menggulingkan Dinasti Qing dan amat bersimpati pada “Srikandi” Tiongkok Soong Ching Ling (Song Qingling).

Masih kata Prof. Kong Yuanzhi, Soekarno berjuang penuh semangat untuk persahabatan RI-RRT dan menyadari betapa pentingnya persahabatan itu. Katanya,”Persahabatan RI-RRT itu laksana djembatan haibat jang mendjamin keamanan bangsa-bangsa Asia.” Mempererat silaturahim kedua bangsa, jelas isu strategis-visioner. Kini Tiongkok atau China tumbuh sebagai kekuatan yang cukup stabil pada saat ekonomi Eropa dan Amerika diterpa krisis moneter. Bahkan Renminbi, mata uang China, termasuk salah satu yang tahan inflasi.

Cerdas Linguistik

Mujur, bagi Mudiro, bahasa yang menjadi kekuatannya, menjadi amat berguna. Dengan itu berkaryalah Mudiro di negeri orang, tanpa melupakan mandat dari Bung Karno di pundaknya: menyusun Kamus Indonesia-Tionghoa. Ia tidak mempedulikan bahwa Indonesia sudah berganti pemerintahan. Amanah itu harus terselesaikan demi bangsa, bukan demi pemerintahan tertentu. Misi itu tetap dijalankan sampai rampung, sembari menjalani suka-duka hidup di negeri asing. Mudiro sampai diganjar Life Achievement Award in International Communication dari Waiwenju, China International Publishing Group, 4 Desember 2009.

Tak banyak cerita yang saya tahu dari episode “putus hubungan”, 23 tahun ini. Mudiro pernah dengan terserang sakit usus buntu. “Andai dirawat di Tanah Air dengan fasilitas terbatas, mungkin nasibnya tak tertolong,” kenangnya. Mudiro mujur mendapat perawatan terbaik pada akhir 1954/1955-an itu di Rumania – satu negeri asing yang lain, sampai pulih. Selama perawatan beliau belajar Bahasa Rumania sampai bisa berkomunikasi dengan bahasa dan bangsa yang berjasa merawatnya.  

Tidak hanya itu. Semasa kecil, mungkin masih usia SMP, saya membaca surat beliau yang ditulis dengan huruf miring, khas “tulisan orang kuno”, bahwa beliau mengikuti kongres Bahasa Esperanto, digagas para ahli bahasa dunia, Esperanto merupakan “bahasa konvensi” hasil musyawarah multibangsa pemersatu bangsa-bangsa dengan azas kesetaraan dan kesederajatan. Saat itu saya belum seberapa menghayati makna keikutsertaan Mudiro. Tapi kini saya bangga, diantara pejuang Bahasa, ada putra Indonesia. Tak dikenal di negerinya, diakui dunia.

Mudiro rajin menulis selain menerjemahkan berita. Beliau cukup lama bekerja di Foreign Language Press di Beijing. Saat pensiun, masih dikaryakan di rumah, sebagai editor bahasa pada Radio China Siaran Indonesia. Belakangan beliau sempat mengatakan kalau sedang menyelesaikan catatan sosial-budaya selama di rantau, khususnya tentang Tiongkok. Menurut beliau, sudah ada pihak yang bersedia menerbitkannya. Mudiro, bersahabat dengan Denys Lombard dan istri, peneliti sejarah Timur, karya monumentalnya tentang Nusantara beredar dalam Bahasa Indonesia (tiga jilid, Nusa Jawa Silang Budaya, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama).

Mudiro, November 2005 silam, sempat menulis resensi atas buku Prof. Kong Yuanzhi, Silang Budaya Tiongkok-Indonesia yang tebalnya 577 halaman. Katanya, dari 11 bab buku itu, bab IV membahas peranan Bahasa, bab terpanjang, 125 halaman, sementara lain tidak ada yang melampaui 100 halaman. Ini menegaskan, “Bahasa merupakan komponen penting dalam pertukaran kebudayaan antarbangsa dan antarrakyat. Bahasa adalah syarat teramat penting bagi terwujudnya kontak dan pergaulan antara bangsa yang satu dengan yang lain sehingga terjadi pertukaran budaya bangsa antarbangsa.”

4 Mei 2011 pukul 7.50 waktu Beijing, Mudiro berpulang. Sebelumnya beliau dirawat sejak April sampai ajal menjemputnya. Mudiro dimakamkan di pemakaman muslim Beijing. Mudiro setia dengan Indonesia. “Saya tidak pernah mengganti kewarganegaraan meski puluhan tahun stateless,” tulisnya dalam salah satu suratnya. Lama diikhtiarkan, titik terang datang dari Ali Sadikin. Akhirnya Mudiro memperoleh kembali identitas formalnya sebagai warga Negara Indonesia.

Salah seorang sahabat Mudiro sejak 1960-an, Ibrahim Isa, mengenang wafatnya Mudiro. Mudiro sebagai penerjemah dengan nama pena D. Atmo (Atmo, dari Atmosentono, kakek moyang Mudiro). Juga ketika ia bekerja di Yayasan Pembaruan Jakarta, menerjemahkan karya Julius Fuçik (1903-1934), Laporan Dari Tiang Gantungan, terbit tahun 1967. Selain menulis tentang Fuçik, Mudiro menerjemahkan kitab Konfucius dari bahasa Tiongkok, Tao Te King (juga diterbitkan ulang awal abad ini), selain kumpulan puisi rakyat Vietnam yang beredar dalam Bahasa Indonesia dengan judul Ladang Menanti.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda