Pengalaman Religius

Khofifah Indar Parawansa (4): Doa Gugatan di Malam 27 Ramadan

Pengalaman waktu ibadah di Tanah Suci  membuat hati saya semakin terikat kepada Allah. Terkadang saya merasa malu  karena terlalu banyak meminta  kepada-Nya. Bukankah saya belum bisa istiqamah salat malam serta puasa sunah? Karena itu saya tidak mau terlalu banyak meminta kepada Allah. Saya hanya minta anak  yang saleh dan salehah, keluarga yang sakinah, serta harapan agar hati, pikiran dan perilaku saya senantiasa dalam bimbingan dan ridah Allah., bergantung kepada usaha kerja keras saya.

Pada malam 27 Ramadan yang diyakini sebagian kaum Muslim sebagai malam Lailatul Qadar, saya mengalami peristiwa yang tak akan pernah terlupakan. Kejadian ini muncul sewaktu saya tengah melaksanakan salat tarawih di Masjidil Haram. Ketika memasuki rakaat ke-8, mendadak perut saya mulas. Ketuban rasanya mau pecah. Setiap 10 menit terjadi kontraksi. Persis orang akan melahirkan. Masya Allah, saya mau melahirkan di sini, di Tanah Suci? Tidak terbayangkan repotnya. Suami saya pun sudah pening. Ia berpikir betapa susahnya jika saya melahirkan di sana. Belum lagi kendala bahasa, meskipun sedikit-sedikit saya bisa bahasa Arab.

Di tengah kepanikan itu saya mengajukan semacam gugatan. “Ya Allah, bukankah selama ini selalu melakukan pengabdian kepada-Mu? Ya Allah, seandainya saja ada satu amalan dan pengabdianku yang Kau terima, berikanlah balasan saat ini juga. Ya Allah, tolong tunda kelahiran anak saya ini.” Doa gugatan ini saya panjatkan dengan serius, penuh khusyuk. Alhamdulillah tak berapa lama kemudian, rasa melilit di perut itu perlahan hilang. Dan benar-benar hilang sampai tiba waktunya kami meninggalkan Tanah Suci.

Benar rupanya apa yang dikatakan ibu saya dulu: Allah tak akan segan memberi pertolongan kepada hamba-Nya, bila semenjak awal kita mendekatkan diri kepada-Nya. Pengalaman indah di Tanah Suci ini membuat hati saya semakin terikat kepada Allah. Terkadang saya merasa malu  karena terlalu banyak meminta kepada Allah. Bukankah saya belum bisa istiqamah salat malam serta puasa sunah? Waktu di Tanah Suci saya tidak mau terlalu banyak meminta kepada Allah. Pengabdian atau ibadah saya kepada-Nya masih sedikit. Kalaupun ada permintaan yang selalu  saya panjatkan, hanyalah anak yang saleh dan salehah, keluarga yang sakinah, serta harapan agar hati, pikiran dan perilaku saya senantiasa dalam bimbingan dan ridha Allah., bergantung kepada usaha kerja keras saya.

Dalam menegakkan kehidupan, saya tidak pernah melepaskan diri dari prinsip, esok harus lebih baik dari sekarang. Rasulullah pernah bersabda “Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia termasuk orang yang merugi. Barangsiapa yang hari ini lebih jelek ketimbang hari kemarin, dia termasuk orang yang celaka. Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia termasuk orang yang beruntung.” Tercapai atau tidak, itu urusan nanti, yang penting peningkatan kualitas harus diupayakan.

Di antara bayangan masih panjangnya perjalanan politik yang harus saya tempuh, hanya  ada satu keinginan di hati saya: rakyat harus bisa hidup tenteram, damai dan sejahtera. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi, di bawah payung ampunan Allah. Salah satu caranya, komitmen moral dan tanggung jawab para pejabat harus diperbaiki. Sepanjang mereka meyakini dirinya hanyalah pelayan rakyat, saya kira tidak bakal muncul gerakan perlawanan rakyat. Tapi entah kenapa komitmen mereka sebatas di mulut saja. Padahal kata Alquran, “Sungguh besar murka Allah kalau manusia hanya bisa mengatakan, tetapi tidak mau melaksanakan.”

Penulis: Elly Burhaini Faizal (wartawan Majalah Panji Masyarakat, 1998-2001; kini bekerja di The Jakarta Post). Sumber: Panji Masyarakat, 21 Juli 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda