Bintang Zaman

Tuanku Imam Bonjol (2) : Umat Islampun Bersatu

Intelektual dan akademisi Barat terdengar relatif lebih rasional berargumentasi. Pertama, dilihat kekuatan fakta sejarah. Kontekstualialitas historis mengantar pada pemahaman setting sejarah/kronologis peristiwa. Kedua, pemahaman dimensi psikologis persona seorang TIB dan umat Islam. Memahami psikologis TIB dan umat Islam, mengajak berempati, tepatnya inner circle umat Islam sekitar TIB.

Awal 1833 menandai pergeseran konflik, dan menyatunya Kaum Adat dan Kaum Agama di satu pihak, melawan Belanda di pihak lainnya. Memorie Tuanku Imam Bonjol (MTIB)—lihat transliterasinya oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM, 2004), sebuah sumber pribumi yang penting mengenai Perang Paderi yang cenderung diabaikan para sejarawan selama ini—mencatat bagaimana kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda. Pihak-pihak yang dulunya bertentangan akhirnya bersatu melawan musuh bersama: Kompeni Belanda. Di ujung penyesalan muncul kesadaran bahwa mengundang Kompeni ke dalam konflik itu telah semakin menyengsarakan masyarakat Minangkabau sendiri.

Di dalam MTIB terefleksi rasa penyesalan TIB atas tindakan Kaum Paderi terhadap sesama orang Minang dan Mandailing. TIB sadar bahwa perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama. “Adapun hukum Kitabullah banyaklah yang terlampau dek oleh kita. Bagaimana pikiran kita?” (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?), demikian tulis TIB dalam MTIB (hlm.39).

Pupusnya Pengaruh Haji Miskin
Sadar akan kekeliruan itu, TIB lalu mengirim kemenakannya, Fakih Muhammad, dan Tuanku Tambusai ke Mekah untuk belajar mengenai “kitabullah nan adil” (Hukum Kitabullah yang sebenarnya). Ikut juga kemenakan Tuanku Rao bernama Pakih Sialu, dan Kemenakan Tuanku Kadi (salah seorang rekan TIB) bernama Pakih Malano (MTIB, hlm. 36-40). Kemudian keempat orang itu pulang membawa berita yang kurang menggembirakan: Gerakan Wahabi di Mekah ternyata sudah dikalahkan dan yang berkembang di sana justru Islam yang lebih moderat. Oleh karenanya ide Haji Miskin yang telah membuat sesama orang Minangkabau dan tetangga Bataknya berbunuh-bunuhan telah invalid atau kadaluarsa.

MITB (hlm. 53-55) selanjutnya mencatat bahwa setelah itu TIB kelihatan ingin lengser dari kepemimpinan Gerakan Paderi. Dalam sebuah rapat di Mesjid Bonjol TIB berkata kepada para hakim dan penghulu bahwa beliau ingin mengundurkan diri. TIB juga menginstruksikan supaya mengembalikan harta rampasan dan para tawanan perang. Namun rakyat yang sudah menganggap beliau sebagai pemimpin mereka mengharapkan TIB tetap memimpin perjuangan.

Tampaknya berita yang dibawa oleh Fakih Muhammad dan Tuanku Tambusai dari Mekah telah mempengaruhi semangat TIB, yang pada gilirannya ikut menentukan akhir Perang Paderi. Narasi dalam MTIB memberikan kesan bahwa TIB menyesal telah menjerumuskan rakyat Minangkabau dalam perang berdarah. Sekarang, dengan keterlibatan Belanda dengan persenjataannya yang lebih modern, perang itu telah sampai ke tahap yang paling kritis, yang kalau dilanjutkan hanya akan memakan korban orang Minangkabau lebih banyak lagi. TIB berada dalam dilemma. Ketika TIB menerima surat dari Kolonel Elout yang meminta Bonjol menyerah tanpa syarat, muncul perpecahan di kalangan pemimpin Paderi di benteng itu. Ada yang suka menyerah dan berdamai dengan Kompeni. Yang lain, seperti Datuk Sati, ingin melanjutkan peperangan. TIB sedih melihat perpecahan itu dan beliau serta keluarganya sempat mundur ke Lubuk Sikaping (MTIB, hlm. 61-4).

Pada 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol berhasil direbut Kompeni setelah dikepung selama 6 bulan. Sebelum benteng itu jatuh, TIB dan keluarganya dibawa pergi oleh pengikut setianya masuk rimba. Proses pengepungan Benteng Bonjol pada bulan-bulan terakhir sebelum jatuh dicatat dengan detil, dilengkapi ilustrasi, oleh Kapten de Salis yang ikut dalam pasukan Mayor Jendral Cochius dalam “Journaal van de expeditie naar Padang onder de Generaal-Majoor Cochius in 1837 gehouden door de Majoor Sous-Chief van den Generaal-Staf Jonkher C.P.A. de Salis”, yang diterbitkan bersama tiga sumber pertama lainnya dalam buku Gerke Teitler, Het einde Padri Oorlog: Het beleg en de vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie [Akhir Perang Paderi. Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837; Sebuah Publikasi Sumber]. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 2004), hlm.59-183.

Setelah ada jaminan dari Kolonel Elout bahwa penduduk Bonjol akan dihormati, TIB lalu menyerahkan diri kepada pasukan Kompeni. Ia menghadap Kapten Steinmetz di Bukittinggi, yang kemudian mengirimnya ke Padang. Sesampai di Padang, kapal yang akan membawa beliau ke tanah pembuangan telah lego jangkar di Pulau Cingkuk. Gubernur Francis tak memberi kesempatan kepada TIB untuk sekedar mengambil pakaian pengganti. Kapal berlayar menuju Jawa: TIB tinggal di Cianjur, sebelum kemudian dipindahkan ke Ambon, selanjutnya ke Menado di mana beliau wafat pada 1864.

Api peperangan di Minangkabau belum sepenuhnya padam ketika TIB berlayar ke tanah pembuangan. Sisa pasukan Paderi yang tidak mau menyerah kepada Kompeni melanjutkan perjuangan. Begitu Bonjol direbut Kompeni, pasukan Eropa dan prajurit pribuminya sudah langsung melakukan tindakan yang membuat orang Bonjol berang dan merasa terhina: tentara Kompeni dan pasukan Jawanya mengubah “mesjid jadi tangsi tempat serdadu diam dan dibawanya anjing dan membikin kotor sajo [saja] di dalam mesjid”. Tentara Kompeni juga mengambil dari penduduk segala bahan makanan yang mereka perlukan tanpa mau membayar, dan menyuruh orang bekerja mengangkat segala peralatan militernya tanpa diberi upah. Pada puncak kemarahan orang Bonjol, mesjid itu diserang oleh penduduk yang mengakibatkan banyak kematian di antara 139 tentara Kompeni yang bermarkas di sana (MITB, hlm.69-70). Rupanya Kompeni tidak menepati janjinya untuk menghormati adat dan agama penduduk Bonjol, sebagaimana diminta oleh TIB kepada Kolonel Elout sebelum beliau menyerahkan diri.

Penyesalan TIB itu, dan perjuangan heroik beliau bersama pengikutnya melawan Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama kurang lebih enam bulan (16 Maret – 17 Agustus 1837)—seperti dilaporkan rinci oleh De Salis (op cit.)— mungkin dapat dijadikan pertimbangan untuk memberi maaf bagi kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat TIB.

Menarik, menggugat, TIB. Gugatan yang dipertanyakan Basyral Hamidi Harahap (2007), seperti apa kadar patriotisme TIB [dan Tuanku Tambusai] yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.

Kita bertanya di manakah jiwa kepahlawanan seorang yang telah banyak membunuh, menculik kaum perempuan untuk dijual sebagai budak atau dijadikan gundik di kalangan bangsa sendiri? […] Apakah seorang yang […] tidak [mampu] mempertahankan tanah tumpah darah sampai titik darah penghabisan […] dan menginjak-injak harkat dan martabat bangsa sendiri pantas menjadi pahlawan? […] Seorang patriot sejati, sekalipun terpojok pastilah tetap berjuang mempertahankan bumi persada sampai titik darah penghabisan. Tetapi yang dilakukan Tuanku Imam Bonjol adalah ikut merekayasa penyerahan dirinya kepada Belanda (Harahap 2007:106).

Jadi, menurut interpretasi Basyral, TIB merekayasa penyerahan dirinya sendiri kepada Belanda. Ia menganggap TIB tidak patriotis.

Namun, berbeda dengan Basyral, Jeffrey Hadler—mencoba ‘membaca’ lebih dalam dilemma psikologis yang dialami TIB lebih 170 tahun yang lalu. Apalagi yang membuat seorang pemimpin agama menjadi lemah tulang persendiannya apabila akhirnya sadar bahwa semua yang telah dilakukannya ternyata telah menyalahi dogma-dogma agama yang begitu diyakininya selama ini, dan bahwa jika ia tetap ngotot dengan prinsipnya, maka hal itu hanya akan menumpahkan lebih banyak lagi darah bangsanya sendiri. Memang agak sulit untuk menilai dari jarak lebih satu setengah abad kemudian apakah tindakan TIB itu tidak patriotis atau malah bijaksana.

Dalam pengungsiannya selama kurang-lebih empat bulan dalam rimba di luar Bonjol, bersama TIB dan keluarganya ikut delapan orang Jawa, sementara antara sesama orang Minang sendiri bersibak paham dalam menghadapi Belanda (MTIB, hlm. 151-53). Episode akhir Perang Paderi penuh dengan kisah tragis sekaligus mengharukan. Visualisasi film ini ditulis dengan baik dalam liputan kerja proses produksi film TIB yang diproduksi PT. Salsa Cemerlang Abadi Film (Republika, 27 Oktober 2007). Disebutkan, usaha sutradara untuk menggambarkan harapan untuk merefeksikan konflik batin TIB itu.

MTIB, menurut Hadler, merefleksikan […] the Tuanku’s [TIB] renunciation of Wahhabism in the face of matriarchal opposition […]”.

                        In his memoir the Tuanku Imam’s will to fight his fellow Minangkabau crumbles

when he learns that Wahhabi teachings have been discredited. In an act of great moral bravery the Tuanku publicly renounces his ideology, makes reparations, and apologizes for the suffering his war has caused. In his memoir Imam Bonjol’s enemies respond formulaically, looking to him as a patron. But there remains some ambiguity and even anger in their reported language. They demand that the Tuanku Imam replace their elders, people likely killed by the Padri in their war against traditional authority, and it unclear whether the Tuanku Imam is to appoint replacements or to personally take the place of the people he was responsible for killing. In his wish for peace the Tuanku uses the term dituahnya. This is a form of royal blessing usually delivered by the sorts of nobles that the Padri had hoped to eliminate. The Tuanku Imam restores the status quo ante bellum, confining religious authority to matters of shariah and allowing customary leaders to adjudicate social issues. He proclaims that ‘adat basandi syarak”—hariah will be fundamental, even in questions of social custom/Dalam memoarnya, keinginan Tuanku Imam untuk melawan sesama Minangkabau hancur ketika dia mengetahui bahwa ajaran Wahhabi telah didiskreditkan. Dalam tindakan keberanian moral yang besar Tuanku secara terbuka meninggalkan ideologinya, membuat reparasi, dan meminta maaf atas penderitaan yang ditimbulkan perangnya. Dalam memoarnya musuh Imam Bonjol menanggapi secara formula, memandangnya sebagai pelindung. Tetapi tetap ada beberapa ambiguitas dan bahkan kemarahan dalam bahasa yang mereka laporkan. Mereka menuntut agar Tuanku Imam menggantikan para tetua mereka, orang-orang yang kemungkinan dibunuh oleh Padri dalam perang mereka melawan otoritas tradisional, dan tidak jelas apakah Imam Tuanku adalah untuk menunjuk pengganti atau secara pribadi mengambil tempat orang-orang yang bertanggung jawab untuk membunuh. Dalam keinginannya untuk perdamaian Tuanku menggunakan istilah dituahnya. Ini adalah bentuk berkat kerajaan biasanya disampaikan oleh semacam bangsawan yang diharapkan Padri untuk dihilangkan. Tuanku Imam mengembalikan status quo ante bellum, membatasi wewenang agama untuk masalah syariah dan memungkinkan para pemimpin adat untuk mengadili isu-isu sosial. Dia menyatakan bahwa ‘adat basandi syarak”—hariah akan mendasar, bahkan dalam pertanyaan adat sosial. (Hadler).

Pasang surut penokohan sosok seperti TIB ini, dari adanya ‘runtuh’, buah kolaborasi sejumlah besar kepentingan sebagai bagian kehendak zaman. Ada yang menganggap beliau telah “berkhianat pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagaruyung, […] memimpin invasi ke Tanah Batak yang menewaskan” banyak orang, “[…] menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan menewaskan Sisingamangaraja X”, seperti tuduhan pihak yang membuat petisi. Tapi mungkin ada pengamat lainnya memahami TIB juga dilibas penyesalan, sebagai ikon perlawanan masyarakat Minangkabau yang belakangan baru sadar akan buruknya akibat yang ditimbulkan oleh penjajahan Belanda di negeri mereka.

Sejarah sejatinya menjadi iktibar, bahwa mempelajari dan mengenang peristiwa-peristiwa positif atau pun negatif, umat manusia bisa untuk menata hidup lebih baik pada masa depan. Berikut ini kalimat intelektual Minang, Prof. Dr. Bahder Djohan:

            Tiada hadjat kita akan mengembang kitab tambo jang ditoelis dengan darah itoe

[Perang Paderi], tiada bermaksoed kita akan menoeroeti djedjaknja sendjata api jang bertahoen-tahoen lamanja itoe bergemoeroeh didalam lembah dan dataran [Minangkabau], hanja disini kita mengenangkan sedikit meréka-meréka jang bertjahaja sebentar didalam zaman Paderi, jang seperti sinar dilangit meroepakan diri dimata kita jang sedang memandangi kiblat jang hidjau itoe soepaja dapatlah poela kita mengetahoeï[,] masja allah, jang terdjadi diabad jang lepas, jang selama-lamanja akan mendjadi ‘ibarat kesesatan kemanoesiaan (Djohan, “Zaman Paderi”, Jong Sumatra, No.1, 2de Jrg., 15 Djanuari 1919: 113).

Detik-detik jelang meninggalkan Minangkabau, TIB diusung di atas tandu oleh rakyat dalam perjalanannya dari Bukittinggi ke Padang menuju tanah pembuangan (MTIB, hlm.176-78). Walau sudah dalam tawanan Belanda keyakinan agama TIB tak goyah: “Jikalau tidak boleh berhenti sembahyang apa gunanya hidup, lebih baik mati”, demikian kata beliau kepada tentara Belanda yang melarangnya berhenti untuk shalat Zuhur ketika tandu usungan sampai di Kayu Tanam (MTIB hlm.176).


————————

Rujukan:

Basyral Hamidi Harahap, Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, 2007

Djohan, Bahder, 1919
Jeffrey Hadler, 2008

H.M.Lange, 1852

Rusli Amran, Sumatra Barat hingga Plakat Panjang, 1981

Sjafnir Aboe Nain, 2004

Indisch Magazijn, 18446

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda