Cakrawala

Kembali ke Alquran

Written by Imron Samsuharto

Penganut Islam atau umat muslim pastilah meyakini kitab suci Alquran. Di antara mereka, yang memiliki kitab suci (mushaf) boleh jadi hanya sebagian kecil alias tidak berbanding lurus dengan kuantitas umat. Kemudian, yang mumpuni membaca kitab suci itu dengan baik hingga hafal (hafiz) semakin kecil jumlahnya.  Dan di antara yang bisa membaca Alquran, cuma sedikit orang yang paham tentang terjemah atau maknanya, serta tahu betul isi kandungannya.

Namun, paham akan terjemah dan makna Alquran itu bukanlah wajib ain. Kalau setiap muslim diwajibkan paham terjemah dan makna Alquran, betapa banyak muslim yang menanggung dosa karena meninggalkan wajib ain tersebut. Menjadi mafhum, di tengah kehidupan keberagamaan itu muslim yang paham benar mengenai terjemah dan makna Alquran (tafsir) termasuk kategori langka. Orang yang mampu membaca kitab suci tidaklah bisa dikatakan banyak.

Namun demikian, muslim yang sempurna dalam sisi keimanan, keislaman, dan keikhsanan menjadi performa yang lebih penting dibanding ukuran bisa tidaknya membaca kitab suci, atau mampu tidaknya memahami terjemah dan makna kitab suci tersebut. Bukan berarti membaca dan memahami terjemah kitab suci menjadi kurang penting. Muslim yang sadar akan keimanan, keislaman, dan keikhsanan dalam kehidupan keseharian seyogianya berperilaku sejalan dengan isi kandungan Aquran. Maka, fungsi Alquran sebagai petunjuk hidup dunia-akhirat, sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil, bahkan sebagai obat keresahan dan kesulitan, menancap dalam dada muslim yang memelihara keimanan, keislaman, dan keikhsanan itu. Mereka bisa saja dari golongan yang fasih membaca Alquran serta paham akan terjemah dan maknanya, bisa pula golongan yang tak fasih bahkan tak bisa membaca Alquran sekalipun.

Dalam jiwa mereka hidup sirullah, sir Muhammad, dan sir wahyu. Mereka takut dan tunduk kepada Allah swt, dan diturunkanlah kepada mereka tentang obat dan rahmat. Obat dari segala keresahan, kesulitan, ketidakstabilan hidup, wabah penyakit, bencana, dan marabahaya lainnya, sekaligus dapat menolak siksa neraka yang pedih dan menyeramkan itu. Mereka senantiasa menjaga iman, islam, dan ikhsan.

Kelabakan

Dalam rentang setahun lebih, banyak orang termasuk kaum muslim, dihadapkan pada fenomena yang luar biasa heboh akibat merebaknya Covid-19. Keresahan yang berlebihan dan tidak terkontrol sebagai dampak virus tersebut, sungguh telah membuktikan bahwa umat manusia kelabakan. Nyaris semua sektor kehidupan mulai dari kesehatan, perekonomian, pendidikan, transportasi, perhotelan, kepariwisataan, perindustrian, hingga keberagamaan (religiositas) tertampar dan terkapar oleh virus tersebut.

Jika direnungkan secara dalam, sehelai daun jatuh dari sebatang pohon pun tak luput dari takdir Allah swt. Bandingkan helai daun tersebut dengan virus corona, yang sama-sama manifestasi takdir dari Sang Khalik. Daun yang melayang-layang jatuh dari pohon dapat dilihat dengan mata, sedangkan virus yang menyebar ke seantero jagat itu tak kasat mata. Kedua contoh peristiwa tersebut, pastilah ada yang mengatur. Dialah Yang Maha Kuasa atas bumi-langit dan seisinya, yang semestinya ditakuti. Alih-alih terjadi kesalahkaprahan, justru makhluk-Nya yang ditakuti.

Sebagai muslim yang menjaga keimanan, keislaman, dan keikhsanan seyogianya berpikir apa yang mesti dilakukan setelah upaya bersifat lahiriah dalam memerangi corona. Protokol kesehatan adalah upaya lahiriah. Sebagaimana dikampanyekan di mana-mana, bahwa orang yang positif terinfeksi harus dirawat intensif, orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) mesti diisolasi dari kehidupan sosial. Jika ini dilanggar, peluang penularan virus kian terbuka dan melebar. Umumnya orang takut akan ancaman corona itu.

Ketakutan yang melebihi porsi dapat memicu menurunnya daya imunitas tubuh. Ironisnya, dalam kehidupan keberagamaan, masyarakat muslim yang berada di zona hijau turut merasa takut berlebihan sebagaimana mereka yang ada di zona merah, sehingga tak lagi mendatangi masjid, tak mau mengikuti majelis taklim. Astaghfirullahal-adzim. Sejatinya imbauan untuk tak beribadah secara berjamaah di masjid, hanya untuk mereka yang betul-betul darurat zona merah, bukan pukul rata seperti itu.

Menoleh Alquran

Kini saatnya ber-muhasabah. Tolehlah kembali Alquran, itu penyikapan yang paling bijak. Baca, cermati, renungi, dan aplikasikan isi kandungannya. Gairahkan kembali taqorrub ilallah seraya memupuk rasa keimanan, keislaman, dan keikhsanan. Tak perlu berlama-lama terjebak dalam memerangi corona bersifat fisik semata. Jika hanya itu yang diupayakan, dikhawatirkan terpeleset dalam jurang kesombongan. Boleh jadi merebaknya corona tersebut merupakan pengingat kepada umat manusia yang berbangga-bangga dan suka menonjolkan kesombongan. Jadi, jangan anggap remeh upaya bersifat rohani atau batiniah itu.

Seberapa persen pun kadarnya, bencana corona yang merupakan ujian hidup umat manusia itu berpeluang menjadi azab yang pedih. Lihatlah India yang kasus coronanya tak terkendali. Imbas corona menerpa juga kaum muslim, karena ia tidak pilih-pilih menyasar berdasarkan agama maupun latar belakang lainnya seperti warna kulit, kebangsaan, strata sosial, pendidikan, umur, dan seterusnya. Hanya saja cara menyikapi berbeda-beda antara satu dan lainnya. Muslim terlebih yang senantiasa menjaga keimanan, keislaman, dan keikhsanan seyogianya menyikapi dengan cara khusus.

Ambil air wudhu dan bergegaslah salat taubat, menyadari banyak kealpaan yang telah diperbuat. Kurangi mengumbar nafsu duniawiah, diiringi banyak belajar ad-din agar memahami hakikat atau kesejatian hidup. Jaga ukhuwah islamiyah serta ukhuwah insaniyah dengan sebaik-baiknya. Tak perlu saling merecoki sesama makhluk Allah. Kemudian senantiasa menggunakan anugerah akal pikiran (al fikri) agar bisa menemukan kebenaran. Memohon dengan ikhlas dan sabar serta berserah diri (tawakal) dalam dzikir dan doa agar bencana corona segera musnah dari muka bumi.

Akhirnya, camkan dan renungkan ayat ke-54 Az-Zumar yang artinya: “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”

About the author

Imron Samsuharto

Pemerhati religi alumnus FS (kini FIB) Undip Semarang

Tinggalkan Komentar Anda