Bintang Zaman

Mukhtar Yahya, Guru Besar Ilmu Tafsir Pertama Indonesia

Prof. Dr. Muchtar Yahya salah seorang ilmuwan besar Islam Indonesia. Ia profesor atau guru besar pertama ilmu tafsir di Indonesia. Kelahiran Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Bukittinggi, Sumatera Barat,  3 Maret 1907 ini, adalah lulusan perguruan tinggi di Mesir.

Mukhtar, yang putera seorang saudagar kain yang kaya ini, setelah menamatkan Sekolah Dasar di kampungnya, kemudian melanjutkan ke Tsanawiyah dan Aliyah di Padang Panjang, tidak jauh dari Bukittinggi. Padang Panjang waktu itu dikenal sebagai kota pelajar di Sumatera.

Pada masa Mukhtar Yahya ini, salah satu obsesi dan cita-cita yang di idam-idamkan para pelajar Islam dari Sumatera Barat, dan umumnya Indonesia, adalah memperdalam Islam ke Timur Tengah. Khususnya dari Minangkabau, motivasi dan gairah untuk menuntut ilmu ke pusat keilmuan Islam ini sangat menggebu-gebu. Salah satunya adalah Mesir menjadi prioritas dan dikenal telah melahirkan banyak ilmuan besar Indonesia di bidang ke-Islaman.

Demikian pula Mukhtar, begitu kuat keinginannya belajar ke Mesir. Meski usianya waktu itu baru 18 tahun, namun tanpa rasa bimbang sedikit pun ia putuskan berangkat ke  negara Piramida ini. Untuk itu ia melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan menggunakan kapal laut, start dari Medan terus menyusuri Penang, Madras, Bombay, Suez dan akhirnya sampai di Mesir.

Di Mesir, pemuda Mukhtar Yahya memilih masuk Abdul Aziz Lil Mu’allimin. Sekolah Mu’allimin berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Pengajaran Mesir. Mukhtar Yahya merupakan pemuda Indonesia pertama memasuki Sekolah Mu’allimin ini. Belakangan menyusul 13 orang pemuda Indonesia,di antaranya Prof. Abdul Kahar Mudzakir, Nasruddin Thaha dan Muhamad Nur Marwan.

Mukhtar tamat dari Abdul Aziz Lil Mu’allimin tahun 1928 dengan diberikan sertifikat. Setelah itu ia melanjutkan ke perguruan tinggi dengan memilih Perguruan Tinggi Darul Ulum. Mata kuliah di perguruan ini dikenal padat dan sukar, dan dijauhi oleh mahasiswa Mesir sendiri. Namun, Mukhtar Yahya tergolong mahasiswa cerdas dan mampu menyelesaikan dalam masa 5 tahun, padahal rata-rata mahasiswa menyelesaikan dalam waktu 7 tahun.

Teman seangkatan Mukhtar Yahya selama belajar di Perguruan Tinggi Darul Ulum adalah Prof.KH. Farid Ma ‘ruf, Prof. KH Abdul Kahar Mudzakir (mantan Rektor UII), Prof. Mahmud Yunus (mantan Rektor IAIN Imam Bonjol, Padang), Prof H.M.Thaher Abdul Muin  (mantan Guru Besar Ilmu Kalam IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta).

Muchtar Yahya memilih jalur dunia akademisi, pendidikan dan kampus sebagai pilihan hidup. Itu dilakoninya setelah tamat dari Darul Ulum tahun l934. Memang, ia juga pernah menjabat di birokrasi terutama jabatan agama, tapi tidak dominan.

Mukhtar Yahya (duduk di tengah berpeci) berpose bersama teman-teman yang belajar di Mesir (1935)

Awal karirnya sebagai tenaga pengajar dimulai di Islamic College Padang tahun 1935. Dan pada waktu itu ia diutus untuk mengikuti Kongres Pendidikan Nasional pada Mei 1935 di Solo. Mukhtar sempat berkenalan dengan tokoh-tokoh pendidikan seperti Mr. Sumanang, Sabrani, dan tokoh pendidikan Muhammadiyah, antara lain, Ir. Djuanda yang waktu itu menjabat Direktur AMS Muhammadiyah.

Tokoh pendidikan lain yang ia sempat berbincang adalah Prof. Dr. Purbotjaroko, dr. A.K.Ghani, Mr. Sartono, Sanusi Pane, dan Mr. Moh. Yamin. Ketika berada di Yogyakarta ia berkenalan dengan Ki Hajar Dewantoro dan mendapat penjelasan tentang pendidikan Taman Siswa. Mukhtar juga sempat berdiskusi di hadapan tokoh-tokoh dan pelajar Muhammadiyah.

Pertemuan dengan tokoh-tokoh penting  pendidikan ini makin menambah wawasan Mukhtar di bidang pendidikan, dan tentu juga makin memantapkan pikirannya menekuni dunia akademisi dan pendidikan. Tampaknya, disini ada perbedaan lulusan Mesir dengan lulusan timur tengah lainnya, misalnya yang belajar dari Arab Saudi,  khususnya di Sumatera Barat yang sebagian terjun ke   bidang politik. Sedangkan Mukhtar  konsisten memilih bidang pendidikan,  dan bahkan mungkin lebih dikenal sebagai orang kampus. Ini ditunjukkan dengan makin intensnya keterlibatan Mukhtar dengan dunia pendidikan dan  perguruan tinggi.

Di Islamic College Mukhtar sempat menjadi direktur. Selama memimpin Islamic College ini beliau mengadakan modernisasi pendidikan sekolah-sekolah agama. Ia dibantu sahabatnya Prof. Mahmud Yunus menyusun rancangan pelajaran buat sekolah-sekolah agama, mulai dari awwaliyah sampai sekolah tinggi Islam.

Tahun 1940 Mukhtar Yahya pindah ke Normal Islam Padang, sebuah sekolah setingkat Islamic College. Sekolah ini didirikan oleh Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI), yang salah satu programnya adalah mendirikan Sekolah Islam Tinggi. Sekolah Islam Tinggi ini salah satunya didirikan pada 9 Desember 1940 yang terdiri dari dua fakultas,yaitu Fakultas Syariah (agama), dan Fakultas Pendidikan dan Bahasa Arab.

Sayangnya, setelah Jepang masuk ke Indonesia pada Maret 1942 banyak sekolah yang ditutup, termasuk Sekolah Islam Tinggi ini.Untuk mengisi kekosongan waktu Mukhtar melakukan kegiatan dakwah. Barulah setelah Islamic College dibuka, Mukhtar kembali diangkat menjadi direktur hingga tahun 1946.

Ketika Indonesia merdeka, sejak 1946-1951, Muchtar Yahya diangkat pemerintah menjadi Kepala Jawatan Agama (semacam Kanwil sekarang) Provinsi Sumatera (waktu itu Sumatera hanya satu provinsi). Itulah sebabnya,  Mukhtar harus tinggal di Medan. Karena ada agresi pertama oleh Belanda, NICA,  pada 21 Juli 1947 ia harus berpindah-pindah.

Pertama,  menetap di ibu kota provinsi, yakni Medan, kemudian pindah ke Pematang Siantar, lalu pindah lagi ke Bukittinggi. Pada tahun 1947 Mukhtar Yahya diangkat sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat).

Provinsi Sumatera kemudian dibagi menjadi tiga provinsi, dan setiap provinsi mempunyai jawatan agama (Kanwil). Mukhtar Yahya diangkat menjadi koordinator jawatan  agama seluruh Sumatera.Jabatan koordinator ini kemudian dihapus tahun 1950. Mukhtar kemudian dipindahkan ke Yogyakarta dengan pangkat administratur . Namun,  ia kemudian diminta kembali ke Medan untuk membentuk Negara Kesatuan di Sumatera Timur. Dalam hal ini ia bertindak sebagai pejabat Jawatan Agama Sumatera Timur dan Penghubung Kementerian Agama.

Masa di atas adalah waktu dimana Mukhtar Yahya vakum dengan kegiatan pendidikan. Barulah setelah perjanjian Konfrensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember 1949 di Den Haag, ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, sebagai penghormatan atas jasa Yogyakarta maka didirikanlah Universitas Gajah Mada, sedangkan untuk umat Islam didirikan Pendidikan Tinggi Agama Islam yang cikal bakalnya adalah Universitas Islam Indonesia (UII) yang awalnya bernama Sekolah Tinggi Islam.

Fakultas Agama inilah yang kemudian dinegerikan menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), yang kemudian menjadi IAIN, dan sekarang menjadi UIN.

Mukhtar Yahya salah seorang yang membidani lahirnya PTAIN di Yogyakarta.  Dari awal lahirnya PTAIN,  Mukhtar Yahya aktif sebagai pengajar, tahun 1955 beliau menjadi Sekretaris Fakultas PTAIN menggantikan Mr  Sunaryo yang diangkat jadi Mendagri 

Pada tahun 1956 Mukhtar Yahya diangkat menjadi Guru Besar bidang Ilmu Tafsir. Mukhtar adalah Guru Besar Ilmu Tafsir pertama di seluruh Indonesia.

Tahun 1959 Prof.Mukhtar Yahya diangkat menjadi Dekan Fakultas PTAIN menggantikan Prof  KH Moh Adnan yang pensiun.Pada 7 Januari 1961 Prof Mukhtar Yahya mendapat kehormatan menjadi promotor dari IAIN  Al-Jamiah untuk memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Dr.Ustadz Al-Azhar Syeikh Mahmoud Syaltout, Rektor Magnificus Universitas Al-Azhar

Beberapa jabatan lain yang pernah dipegang Mukhtar Yahya adalah Dekan Fakultas Ushuluddin, Dekan Fakultas Adab dan Dekan Fakultas Tarbiyah.Boleh dikatakan sebagian besar waktunya, 60 tahun, Mukhtar mengabdikannya untuk dunia pendidikan. Pemerintah memberikan penghargaan atas pengabdiannya, yaitu Satya Lencana Karya Satya Kelas 1 oleh Pemerintah RI tahun 1976. Dan sebagian besar pula kehidupannya dijalani di Jogja hingga wafatnya tahun 1996. Karya yang ditinggalkannya berupa 22 judul buku,diktat pelajaran, artikel ilmiah di surat kabar, majalah dan berbagai pidato ilmiah.

Prof Mukhtar Yahya dan istri

Kehidupan akademis Mukhtar Yahya layak menjadi teladan, seorang yang penuh dengan jiwa pengabdian. Pendidik yang tekun dan penuh tanggung jawab pada bidangnya. Ilmu adalah amal yang tidak bakal habis-habisnya!

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda