Cakrawala

Dakwah Total Kiai Dermojoyo

Written by Iqbal Setyarso

Sepanjang dakwah dipadu pemberdayaan, tersemailah masyarakat penuh rahmat. Kepaduan spiritual lewat edukasi moral dan aktivitas karya duniawi bukan saja menjadi alasan langit menaburkan rezeki-Nya, namun juga mengundang angkara tertarik mengusik ketenangan masyarakat madani yang kian tertata. Dengan label kekuasaan, sekelompok tiran desa mengatasnamakan penguasa kolonial merudapaksa suasana yang kian kondusif sehingga mengundang petaka.

Lebih baik mati daripada tunduk pada Pemerintah Kolonial Belanda! Begitu kata Dermojoyo di tengah para santri dan penduduk sekitar yang memilih berjuang bersamanya. Mereka bertahan di balik “benteng salak”. Ya, tempat mereka bertahan sejatinya hanyalah di pondok pesantren di mana Dermojoyo berdakwah dan mengajarkan Islam, sampai Belanda memutuskan menerjunkan kekuatan militer memberangus mereka. Menghadapi pasukan Belanda ini, pasantren menutupi pesantren itu dengan batang-batang pohon salak berduri. Dermojoyo bersama pendukungnya bertahan dalam pertempuran yang sangat tidak seimbang selama sekitar satu tahun (1906-1907). Kiai Dermojoyo bersama pengikutnya akhirnya syahid  dalam pertempuran itu. Siapa Dermojoyo?

Tokoh ini lahir dengan nama kecil Bagus Talban, dari desa Gebog – sekitar Kudus (pantai utara Jawa Tengah). Ia anak petani miskin yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan Belanda. Ia murni didikan pondok pesantren. Masa mudanya diisi dengan pengembaraan mencari ilmu. Ia ditemani empat kawannya: Martaji, Ronojoyo, Sarijoyo dan Sopowiro. Sejumlah guru di pesantren Jawa Timur, telah mereka datangi: di Besuki, Jombang, Mojokerto dan Surabaya. Guru-guru mereka antara lain: Haji Dulkamid, Haji Tuan Sanap, Haji Dulwahab, Haji Muhammad Umar dan Kyai Kasan Besari.

Merasa cukup dengan bekal ilmunya, Dermojoyo dan empat kawannya membuka hutan dan rawa-rawa di Kedung Rejo Kecamatan Tanjung Anom, Nganjuk. Di daerah ini mereka bermukim, membuka sawah dan berladang. Sebuah pondok pesantren mereka bangun untuk penyaluran ilmu yang telah mereka dapatkan dari sejumlah ulama. Aktivitas mereka mengubah wajah hutan dan rawa menjadi kampung. Ikhtiar menghadirkan pondok pesantren telah menjadi magnet sehingga banyak orang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah  mengirimkan putranya untuk dididik. Dermojoyo eksis sebagai pelopor perubahan. Agama diajarkan bersamaan dengan kemandirian lewat sektor pertanian dan peternakan. Perdagangan juga ramai di daerah ini. Apalagi, Belanda kemudian menerbitkan UU Tanah ahun 1874, yang memberi ha batas tanah bukaan baru. Pengikut Dermojoyo memperluas pemilikan tanah, membuka hutan dan rawa-rawa. Hasilnya, wilayah Kedung Rejo makin luas. Tercatat ada 30 bahu sawah dan tujuh bahu ladang.

Santri Dermojoyo kian banyak. Mereka tidak hanya belajar Islam di pesantren itu, juga wirausaha dan ilmu bela diri pencak silat. Pesantren itu melahirkan pribadi unggul: luhur budi dan mandiri. Alumninya cenderung menjadi manusia pembangun. Mantap dalam urusan spiritual dan ekonomi, Kyai Dermojoyo mengembangkan seni budaya. Di sini dikembangkan gamelan dan wayang, hyang juga menjadi media dakwah. Seiring kebutuhan pengadaan piranti berbahan logam, Kedung Rejo juga mengembangkan usaha pande besi yang memproduksi alat pertanian dan senjata. Dermojyo kian eksis sebagai informan leader. Arahannya dalam pembukaan hutan, sawah-ladang, menghadirkan system irigasi sederhana dan pembuatan sumur-sumur di dekat sawah untuk mengantisipasi musim ketigo (kemarau). Ya, sang alim telah bermetamorfosa menjadi inisiator perubahan.

Perbawa Dermojoyo semerbak sampai ke Nganjuk. Pemerintah jajahan “terteror” lalu minta Dermojoyo menyerahkan sebagian tanah desa tapi ditolak. Ini sama dengan melanggar Undang-undang Tanah1876 buatan Belanda sendiri. Lalu Bupati Nganjuk dan Wedana Nganjuk menggusur sawah-sawah di Kedung Rejo, memicu konflik dengan para petani. Kedung Rejo tegang. Tepat pada Hari Raya Idhul Adha, umagt Islam Kedung Rejo menyembelih banyak hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada yang berhak. Muncul ulah baru. Belanda mengutus Bupati Nganjuk menegur Dermojoyo karena penyembelihan hewan itu tidak dilaporkan kepada Pemerintah. Pecahlah perlawanan, membuat Bupati Nganjuk kalah dan lari. Ini yang mengundang Belanda menerjunkan pasukan militer dari Surabaya untuk menumpas perlawanan  Dermojoyo.

Makam Kyai Dermojoyo di Kedung Rejo Nganjuk yang terpisah dari kompleks kuburan desa

Lalu kisah pun berakhir sebagaimana dipaparkan pada awal tulisan ini. Kedung Rejo dan Dermojoyo, sepotong sejarah tentang bagaimana Islam hadir dengan langkah konkret pembangunan komprehensif, bukan dengan ceramah dan talkshow (saja).

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda