Panji Milenial

Setelah Satu Abad Kemerdekaan, Korupsi Masih Menjadi Momok di Indonesia

PANJI MASYARAKAT –  Apakah kalian tahu jika 21 April kemarin atau 9 Ramadan 1442 H merupakan hari kemerdekaan Indonesia?

Tepat pada 9 Ramadan lalu Indonesia genap berusia 78 tahun. Apabila disamakan dengan umur manusia, Indonesia sudah memasuki usia lanjut. Pada usia lanjut biasanya manusia hanya tinggal menikmati hidup saja. Artinya, di usia 78 tahun kehidupan seorang manusia sudah tertata dengan baik.

Sama halnya dengan Indonesia di usianya ke-78 tahun, seharusnya sudah bisa menjadi negara maju. Namun realitanya hingga kini Indonesia masih menjadi negara berkembang. Salah satu penyebabnya adalah tingginya angka korupsi di Indonesia.

Hasil survei Transparency International Indonesia menunjukkan bahwa Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2020 menempati peringkat 102 dari 180 negara yang disurvei.

Menurut Rektor Universitas Islam Indonesia Prof. Fathul Wahid, S. T., M.Sc., Ph.D, korupsi masih menjadi momok besar Indonesia setelah satu abad kemerdekaan. Pelaku koruptif kini semakin cepat regenerasinya.

Dulu pelaku korupsi identik dengan para elit yang berusia tua tetapi sekarang elit muda juga banyak yang korupsi. Tindakan koruptif tidak hanya ada di kalangan pemerintahan namun juga ditengah masyarakat.

“Korupsi menjadi masalah besar apabila kita memandang Indonesia setelah satu abad kemerdekaan. Korupsi mempunyai regenerasi yang cepat seperti lingkaran setan yang sulit untuk diputus,” ujarnya pada sarasehan online yang diselenggarakan Panji Masyarakat dan Islamic Studies Forum, Kamis (22/04/2021).

Memutus mata rantai korupsi yang sudah mengakar kuat di Indonesia bukan perkara mudah. Upaya yang dapat dilakukan untuk keluar dari jeratan lingkaran setan tersebut dengan memperkuat karakter generasi muda anti korupsi.

Pembentukan karakter generasi muda anti korupsi dapat digalakkan melalui dunia pendidikan. Diskusi akademik sekecil apapun dapat membantu mewujudkan generasi muda anti korupsi.

“Untuk memutus rantai korupsi tidak mudah memang, tetapi melalui pendidikan kita bisa melakukannya. Contohnya sekarang, kita bisa berdiskusi membahas Indonesia setelah satu abad.  Ini bisa menjadi kontribusi nyata meskipun lingkupnya kecil yang terpenting ikhtiar terus melakukannya,” paparnya.  

Editor: Yusnaeni

About the author

Haqia Alfariz Ramadhani

Haqia Alfariz Ramadhani merupakan content writer magang Panji Masyarakat batch 3. Saat ini, ia tengah berkuliah di Universitas Negeri Surabaya, jurusan Sosiologi.

Tinggalkan Komentar Anda