Pengalaman Religius

Khofifah Indar Parawansa (3): Melintasi Masa-masa Sulit dengan Bersyukur

Saat krisis tiba-tiba orang  diliputi rasa takut dan tidak aman. Ini akibat mereka tidak mampu mensyukuri rezeki dan gemar melakukan berbagai penyimpangan. Korupsi dan kolusi meruyak di negeri kita. Adakah  yang masih bisa menolak kenyataan, bahwa krisis yang terjadi di negara kita ini adalah azab Allah?

Sampai sekarang, setiap usai salat saya senantiasa melakukan sujud syukur. Karena itulah memang ungkapan verbalnya. Tapi apakah rasa syukur kita cukup diekspresikan melalui sujud syukur serta ucapan “alhamdulillah”? Tidak, kata ibu saya. Syukur kita kepada Allah harus disertai proses penerimaan secara ikhlas, bahwa memang sedemikian itulah rezeki, pemberian,  Allah hari ini.

Syukur adalah sebuah bentuk pengakuan akan kemahagungan Allah. Tapi tidak sedikit manusia yang belum mensyukuri nikmatnya. Krisis moneter yang berkepanjangan dan kini telah menjelma menjadi krisis multidimensi, saya pikir, terjadi arena penduduk di negeri kita ini antara lain karena sudah tidak lagi bersyukur terhadap nikmat-nikmat yang diberikan Allah, dan bahkan mengingkarinya. Perumpamaannya: “Suatu negeri yang dulu aman dan tenteram, yang rezekinya datang dari segala penjuru dunia, namun mereka kufur terhadap nikmat Allah, maka kemudian Allah melilitkan rasa lapar dan rasa takut akibat perbuatan mereka sendiri.” Apakah pernah terbayangkan bahwa 200 juta jiwa lebih penduduk Indonesia diserang kelaparan?

Tiba-tiba orang diliputi rasa takut dan tidak aman. Ini akibat mereka tidak mampu mensyukuri rezeki dan gemar melakukan berbagai penyimpangan. Korupsi dan kolusi meruyak di negeri kita. Terjadi di mana-mana. Adakah di antara kita yang masih bisa menolak kenyataan, bahwa krisis yang terjadi di negara kita ini adalah azab Allah. Kita, manusia, perlu ber-tawazun, alias menimbang-nimbang. Rasa syukur ini membawa saya mampu melintasi setiap masa-masa sulit. Dan saya percaya, dengan itulah kita bisa mencapai keseimbangan hidup, antara dunia dan akhirat.

Berdiri di Depan Ka’bah

Pada awal 1997 Allah memberi kami, saya dan suami (Ir. H. Indar Parawansa, kini almarhum, red), kesempatan melaksanakan ibadah umrah. Ya bertepatan dengan bulan Ramadan. Kami berumrah usai melakukan lawatan dinas ke berbagai negara.

Buat kami, itu merupakan rezeki yang berganda. Sebab saat itu saya sedang mengandung anak kami yang ketiga, Yusuf Mannagalli. Dokter memperkirakan, saat umrah nanti usia kandungan saya genap sembilan bulan 10 hari. Berkali-kali dia meminta saya menunda keberangkatan. Tetapi saya berkeras. “Saya ingin sekali umrah di bulan Ramadan, Dok,” kata saya.

Saat melihat Ka’bah, saya meneteskan air mata. Haru sekaligus bahagia. Rasanya saya tidak percaya, saya tengah berdiri di depan Ka’bah waktu itu. Terasa benar, betapa manusia tidak memiliki makna di hadapan keagungan Allah. Dan saya yakin, tak seorang pun manusia beriman yang bisa menahan haru saat menginjakkan kaki di Tanah Suci – dan dekat Baitullah.

Setelah mampir ke pondokan dan beristirahat sejenak, rombongan kami langsung menjalankan ibadah umrah yang, menurut hadis,  jika dilaksanakan di bulan Ramadan pahalanya sama seperti ibadah haji itu. Berada di Tanah Suci, apalagi  di sekitar Baitullah, tempat doa-doa dikabulkan, saya dipesani seorang teman agar tidak sekali pun berbicara atau berpikiran buruk terhadap orang lain. Alhasil, jangan berkata atau berpikiran buruk, sebab jangan-jangan hal itu menjadi doa dan kemudian dikabulkan Tuhan.

Ini sebuah contoh kecil. Dalam rombongan kami ada seorang ibu yang tidak terkena batuk-pilek, padahal yang lain sudah seperti paduan suara saja.  “Saya sendirian yang tidak sakit ini,” kata si ibu itu, sedikit menyombong. Eh, tak berapa lama dia pun kena.  

Bersambung

Penulis: Elly Burhani Faizal (wartawan Majalah Panji Masyarakat, 1998-2001, kini bekerja di The Jakarta Post). Sumber: Panji Masyarakat, 21 Juli 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda