Cakrawala

Isma’il-Lamya: Dibunuh di Malam Turunnya Al Quran

Written by Iqbal Setyarso

Dua intelektual muslim, Isma’il Al-Faruki dan Lamya Al-Faruki, diganjar atas jasa menyumbangkan karya intelektual bagi masyarakat muslim. International Institute of Islamic Thought (IIIT), Washington, DC, sejak 1993 merintis penganugrahan penghargaan bagi karya-karya akademis  yang istimewa bagi staf International International University Malaysia (IIUM) dengan Isma’il Al-Faruqi Award. Pihak  International Islamic University Malaysia (IIUM) dan International Institute of Islamic Thougt (IIIT) akan menganugerahkan Lamya Al-Faruki Award sebagai penghargaan bagi karya akademis bermutu. Mengapa dua orang ini diabadikan dengan sebuah award? Tak berlebihan jika pada Ramadhan ini kita ikut mengapresiasi karya mereka.

Keduanya sempat membetot publik Amerika, khususnya publik di wilayah Cheltenham, Philadelpia pada 17 Ramadhan 1406/1986. Subuh dini hari menjelang sahur, tiga orang tak dikenal menyelinap masuk ke dalam rumah suami-istri Isma’il Raji dan Lois Lamya Al-Faruki. Dengan kejam, kedua orang ini, keduanya guru besar studi-studi Islam pada Universitas Temple, dibunuh orang tak dikenal dan meninggal seketika. Isma’il Raji Al-Faruki ditikam dan disayat lebih dari tiga belas kali. Dua diantaranya membuatnya wafat seketika mengenai jantungnya. Begitu pula dengan Lamya, bu dosen ini ditusuk delapan kali, dua diantaranya mengenai dadanya.

Kaum Muslim di seluruh dunia, khususnya di Amerika, benar-benar kehilangan dua orang sarjana, pemikir, dan pemimpin yang tidak kenal lelah mendakwahkan Islam sepanjang hayat mereka. Mereka yang menghadiri takziyah Al-Faruki pada hari Jum’at bulan Ramadhan itu praktis mewakili seluruh komunitas dunia: dari Asia, Eropa, Afrika, Amerika , berkulit hitam ataupun putih. Semuanya hanyut dalam doa yang dipanjatkan bagi keduanya. Pasangan syuhada ini berhak atas sepenuhnya atas segala hormat dan doa itu, mereka lebih dari sekadar pasangan ilmuwan yang hangat dan menyenangkan. Semasa hidup, mereka adalah “orangtua” bagi Muslim Amerika. Tapi maut menjemput mereka secara amat tragis. Keduanya, bukan saja dibunuh, tapi dibunuh dengan amat keji.

Isma’il Raji Al-Faruki

Lahir pada 1921 dari sebuah keluarga terpandang di Jaffa, sebuah daerah di Palestina sebelum direbut orang-orang Israel. Karena keterikatannya yang kuat pada Palestina, Isma’il Raji Al-Faruki menentang Zionisme dan sampai kematiannya tetap berkeyakinan bahwa negara Israel harus dirobohkan dan rakyat Palestina berhak melakukan aksi melawan mereka.

Pendidikan pertama AL-Faruki di masjid dan kemudian sekolah biara yang menggunakan Bahasa Prancis sebagai Bahasa pengantar. Dari masjid ke biara, jelas perubahan yang berbeda, namun memberikan bakal dalam memandang agama dan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Sebagai orang yang berpendidikan baik, berasal dari keluarga terpandang, dan reputasi yang kian meroket, Al-Faruki muda segera diajak bergabung dalam kegiatan politik. Pada usia duapuluh empat tahun, ia menjadi gubernur Galilea. Tetapi sebelum dia matang sepenuhnya, pembentukan Negara Israel memaksanya untuk meninggalkan masyarakatnya. Mula-mula dia berpindah ke Lebanon, di mana ia mendaftar di American University of Beirut dan kemudian ke Amerika untuk mengambil gelar doktor di bidang filsafat. Kesulitan keuangan membuatnya berhenti sekolah dan menjadi pegawai selama beberapa tahun. Tapi, kerinduannya pada dunia akademis tak pernah pupus. Al-Faruki pun kembali ke sekolah, ke Indiana University di Bloomington, dan menyelesaikan doktornya di bidang filsafat Barat.

Kehidupan akademis Al-Faruki pada awalnya sangatlah produktif. Pada 1962, dia menerbitkan buku pertamanya, On Arabism, ‘Urabah and Religion. An Analysis of the Dominant of Ideas of Arabism as it’s Highest Moment of Conciousnes; pada 1964, Usul al-Suhuniyyah fi al-Yahudi (Analytical Study of the Growth of Particularism in Hebrew Scripture); dan pada 1967, Christian Ethics lalu diikuti dengan buku Histotical Atlas of the Religions of the World. Selain itu Al-Faruki juga penulis bersama dalam buku Historical Atlas of the World, The Great Asian Religions and The Cultural Atlas of Islam.

Al-Faruki, tipe intelektual yang lahap dan penulis produktif. Selama hidupnya dia telah menulis sebanya seratus artikel. Hampir semua bidang ilmu dijelajahinya, dari etika, seni, ekonomi, metafisika, politik, sosiologi, dan lain-lain. Dan semua disajikan dalam bentuk yang lebih komprehensif dan saling berhubungan. Menjelang akhir hayatnya, Al-Faruki telah berhasil menuangkan konsep-konsep pemikiran yang dia miliki dalam karya terbesarnya, Tawhid: It’s Implication for Thought and Life.

Kiprahnya di bidang pemikiran keislaman juga diakui demikian berbobot. Dia adalah guru besar pad Depertement of Religion di Temple University. Selin itu,  semasa ahayatnya, Al-Faruki mendirikan Institute of Islamic Thought (Lembaga Pemikiran Islam Internasional), Association of Muslim Social Scientist (Perkumpulan Ilmuwan Muslim). Dan kelompok studi-studi keislaman pada American Academy of Religion. Dia pernah mengajar di McGill University (Kanada), Central Institute of Islamic Research (Pakistan), dan Al-Azhar University (Kairo). Selain itu, kemampuan Bahasa Arab, Prancis dan Inggrisnya memperkaya ceramah-ceramahnya, dan memberikan ekspresi yang kuat, dan mempengaruhi emosi.

Dalam bukunya, Islamization of Knowledge (Islamisasi Pengetahuan), Al-Faruki menjelaskan gagasannya secara panjang-lebar. Yang perlu ditekankan disini adalah bahwa Islamisasi pengetahuan versi Al-Faruki tidak bersifat teoretis semata, tetapi justru cenderung kepada perencanaan praktis, sesuatu yang jarang kita temui. Memang sumbangan terbesar yang diberikan Al-Faruki terletak pada konsep-konsep yang bersifat praktis dan mudah dilaksanakan tanpa mengurangi bobot teoretisnya.

Memilih Islam Secara Sadar

”Seperti telah ditakdirkan”, demikian majalah Islam Panji Masyarakat (Agustus 1987) menurunkan laporan tentang pembunuhan Isma’il-Lamya ini. Dalam laporannya dari New York, Azyumardi Azra melanjutkan laporannya, “gadis Barat ini harus menjadi teman sehidup–dan benar-benar semati—dengan seorang pemuda dari belahan Timur, Palestina. Lois Ibsen—belakangan terkenal sebagai Lamya Al-Faruki—istri tercinta Dr. Isma’il R. Faruki itu, menjadi representasi Muslimah, yang memadukan fungsi ibu dan wanita karier yang sukses. Visi keislamannya tentang budaya dan posisi sosial wanita, perlu dipertimbangkan.”

Lois Ibsen lahir di Montana, Amerika Serikat, 25 Juli 1926. Adalah keturunan langsung dramawan terkenal, Hendrik Ibsen. Duapuluh lima tahun kemudian, ternyata ia pun menjadi istri Dr. Isma’il R, Al-Faruki, yang lahir di belahan dunia lain, Palestina. Mengambil nama “Lamya” setelah memeluk Islam, ia bukan hanya menjadi pasangan akademis yang kukuh bagi Isma’il R. Faruki, tetapi juga “teman” semati, ketika keduanya wafat di rumahnya.

Sosok Lamya khas khas wanita asli Amerika, dengan penuh kesadaran memilih Islam sebagai jalan hidup, cita-cita, pun perjuangannya. Dan itu tentu bukanlah sebuah langkah mudah, karena melingkupi keimanan, pandangan hidup, pandangan hidup, sejumlah kebiasaan sehari-hari, dan banyak hal lainnya. Sebegitu pun, Lamya melakoni  semua itu demi mewujudkan keislamannya. Suatu ketika Lamya membisikkan perasaannya,”Apakah kita bisa hidup benar-benar secara Islami di Amerika Serikat?” Pelan tapi pasti, Lamya tanpa keraguan mengekspresikan identitas Muslimah yang terpuji.

Karier akademis Lamya Al-Faruki berawal pada 1944 ketika ia memasuki University of Montana untuk mempelajari musik. Di sana ia meraih gelar BA dengan memuaskan dan MA dengan pujian. Di tahun 1960—setelah menikah dengan Isma’il R. Al-Faruki—Lamya melanjutkan pelajaran dalam Kajian Islam di McGill University Montreal, Kanada. Selanjutnya, ia pindah University of Pennsyilvania, dan Syracuse University tempat ia meraih gelar doktor (1974) dalam suatu program interdisipliner yang berpusat pada music, seni, dan agama. Disertasi doktorya berjudul The Nature of Musical Art of Islamic Culture (Watak Seni Musik dalam Kebudayaan Islam).

Lamya Al-Faruki, adalah teladan wanita Muslim yang sukses dala karier dan rumah tangga. Melahirkan, mengasuh dan membesarkan lima orang anak, Lamya mampu mengembangkan profesinya sebagai dosen di berbagai universitas, seperti Temple, Butler, Indiana, dan lain-lain. Ia bukan saja sosok pendidik dan ibu anak-anaknya, tetapi juga “Mama” bagi mahasiswa dan mahasiswi di Philadelpia. Bersama suaminya, ia bukan sekadar memberi bekal akademis untuk mahasiswa Muslim, namun juga membantunya mencarikan perumahan, beasiswa, dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan lain mereka. Kedekatan para mahasiswa dan mahasiswi itu ditunjukkan dengan menyebut kedua pasangan ini “Mama” dan “Baba”.

Semasa hidupnya, di tengah kesibukan mengatur berbagai kegiatan dan menghadiri berbagai seminar tentang seni Islam dan pendidikan, Lamya pun seorang penulis yang produktif. Ia telah menerbitkan tidak kurang dari empat puluh artikel ilmiah, yang diantaranya berjudul “Aksentuasi dalam Qira’at Al-Quran, Studi tentang Tawazun”; “Wanita Muslim di tengah Lingkungan yang Berubah”; “Sumbangan Inu Sina dalam Teori Musik”; dan “Keluar Batih, Model dari Kebudayaan Islam”.

Sebagian karyanya yang lain adalah: Annotated Glossary of Arabic Musical Term, Islam and Art, dan satu kajian tentang musik Islam untuk proyek UNESCO yang akan terbit: Music in the Life of Man: A world History, serta Women Society and Islam

Kedua intelektual Muslim ini, demikian kuat jejak karyanya, dan membuktikan kesalingterikatannya, dan karya kolaboratif mereka begitu kontributif bagi dunia Islam. Secara futuristik, karya Ismai’il-Lamya begitu monumental, dunia Islam benar-benar kehilangan. Kepulangan keduanya, bukan hanya dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswi asuhannya di Amerika Serikat, tetapi juga oleh komunitas Islam di seluruh dunia. Kontribusi dan warisan kekayaan intelektual Islam yang sangat tinggi nilainya dari keduanya bagi  umat Islam akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi pemuda-pemudi Islam di seluruh dunia.

Rujukan

Azyumardi Azra, Panji Masyarakat, Dr.  Lamya Al-Faruki: Mama 150 Mahasiswa (Agustus 1987)

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda