Tafsir

Tafsir Ayat-ayat Puasa (4): Agar Kamu Memelihara Diri

Written by Panji Masyarakat

Seluruh kesabaran (sikap tahan uji) di dalam hidup,  50%-nya didapat dalam atau lewat puasa. Menjadi jelas bahwa tujuan puasa dalam Islam semata-mata pendidikan (dari Allah) dan pemurnian jiwa. Dan bukan penyiksaan diri.

Wahai orang-orang beriman, dituliskan atas kamu puasa sebagaimana dituliskan atas mereka yang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu memelihara diri (Q. 2:183).

Ada cerita tentang puasa di kalangan umat Nasrani. Fakhrudin Ar-Razi (544-604 H.) memuat dalam tafsirnya bahwa puasa yang diwajibkan kepada mereka, dahulu, tak lain puasa Ramadan juga. Tetapi kemudian mereka terganggu terik matahari, sehingga mereka memindahkannya ke waktu yang tidak berubah (menurut Al-Khanzin, ke musim semi — lihat Khazin, Lababut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil,I,112). Untuk pengubahan itu mereka menambah 10 hari.

Nah, pada suatu masa, raja mereka ditimpa penyakit. Lalu bernazar, kalau Tuhan menyembuhkannya, puasa akan mereka tambah tujuh hari lagi. Dan demikianlah mereka lakukan. Lalu datang raja yang lain, yang berkata: “Yang tiga hari ini, tanggung amat?” Lalu ia pun menambah masa puasa menjadi 50 hari. Riwayat itu diambil dari Al-Hasan (21-110 H.; 642-728 M.).

Itu satu versi. Versi lain: mereka berpuasa satu bulan. Kemudian oleh satu alasan, mereka tambahi satu hari di muka dan satu hari di belakang. Lalu generasi-generasi berikutnya mengikuti sunnah angkatan terdahulu; menambah terus-menerus hari puasa, sehingga menjadi 50 hari. Ini dinukil dari Asy-Sya’bi rekan sezaman Al-Hasan. (Razi, At-Tafsirul Kabir, V, 75).

Agak mengherankan betapa umat Kristen itu getol benar berpuasa; bukannya mengurangi jumlah hari, malahan selalu menambah, walaupun mulanya dikatakan sudah melakukan pengubahan. Tidak jelas dari mana Al-Hasan (Al-Bashri), “ulama induk andalan”, maupun Asy-Syabi,  ulama besar Hadis, mengambil sumber mereka. Tapi mengingat begitu banyaknya — begitu tercecer-cecernya — aliran agama Nasrani, yang di kitab-kitab Islam klasik selalu terkesan sebagai umat ahli ibadah (berbeda dari Yahudi, atau dari Kristen sekarang), lebih-lebih sebelum abad ke-7 Masehi itu, tidak ada alasan untuk memastikan ketidakabsahan seluruh bagian riwayat-riwayat tersebut.

Keterangan dari para ulama kontemporer bisa ditambahkan. Saiyid Rasyid Ridha, misalnya, menyatakan syariat puasa Nasrani pada awalnya sama dengan pada Yahudi: (tidak) makan pada hari dan malamnya sekaligus. Kemudian mereka ubah, menjadi puasa mulai tengah malam sampai tengah hari. (Rasyid Ridha, Al-Manar, I, 144). Sedangkan dalam praktek yang berjalan kini, seperti disebut Rasyid, puasa itu sudah berarti hanya meninggalkan makanan-makanan tertentu — sementara dana yang seharusnya digunakan buat konsumsi tersebut, bisa kita tambahkan, disisihkan dan dihimpun untuk aksi-aksi amal.

Yang mana pun yang  terjadi, tapi dengan begitu maka ungkapan ‘mudah-mudahan kamu memelihara diri’, di akhir terjemahan ayat di atas (yang biasanya ditulis sebagai ‘agar kamu bertakwa’, dan memang ‘memelihara diri’ adalah arti asal taqwa,) bisa berarti antara lain memelihara diri dari meniru tindak pengubah-pengubahan kalangan Nasrani — salah satu makna yang ditawarkan Al-Khazin (loc., cit.). Itu berarti bahwa puasa Islam, dan hanya puasa Islam, sebagaimana semua ibadat dalam agama ini, terhitung tetap asli. Itu juga bisa dilihat dari aturan-aturannya yang seperti dikatakan Abdullah Yousuf Ali, “paling ketat dibanding puasa-puasa lain” (The Glorious Kur’an, 72n).

Diperlukan Kejujuran

Paling ketat itu bisa berarti paling berat. Puasa menjadi berat karena ia “memecahkan syahwat yang merupakan sumber seluruh maksiat” (Al-Jalalain, Tafsirul Quranil’ Azhim, 25). Karena itu ungkapan “mudah-mudahan kamu memelihara diri” dalam ayat di atas itu juga, atau terutama, berarti agar kita mampu memelihara diri dari segala maksiat — arti yang paling umum digunakan. Sebab, seperti juga dikatakan Rasyid Ridha, dengan melawan nafsu-nafsu yang sebenarnya mubah (dibolehkan), orang diharapkan lebih mudah meninggalkan nafsu-nafsu yang tidak dibolehkan. Teoretis, ia menjadi lebih tangguh. Karena itulah Nabi s.a.w. bersabda, “Puasa itu separo kesabaran”, seperti diriwayatkan Ibn Majah. Artinya, dari seluruh kesabaran (sikap tahan uji) di dalam hidup,  50%-nya didapat dalam atau lewat puasa. Menjadi jelas bahwa tujuan puasa dalam Islam semata-mata pendidikan (dari Allah) dan pemurnian jiwa.

Dan bukan penyiksaan diri. Soal yang terakhir ini disebut Abduh sehubungan dengan puasa para pemeluk agama berhala, yang mereka lakukan untuk memadamkan kemarahan dewa-dewa mereka, atau membuat para dewa meridai tujuan-tujuan mereka dan dan menolong mereka — dengan keyakinan bahwa keridaan dan sikap manis itu didapat lewat penyiksaan diri dan tindakan membunuh hak-hak jasad. Kepercayaan terakhir itu, menurut Abduh, juga menyebar di kalangan ahli kitab. Sampai kemudian Islam datang dan mengajar kita bahwa puasa, dan ibadah-ibadah lain itu, difardukan semata-mata untuk kebahagian kita sendiri, dengan lantaran takwa, dan bahwa bukan Allah-lah sebenarnya yang membutuhkan kita maupun amal ibadah kita. (Rasyid, op., cit., 145). Dengan kata lain, di situ arti ibadah (ritus) dibalikkan: dari upacara lahirlah-wadak menjadi tindakan yang berhubungan dengan hati. Sebab kata Rasulullah s.a.w., “At-taqwaa haahunaa (Takwa itu di sini)” — sambil menunjuk ke dada. Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda