Adab Rasul

Tuntunan Sebelum dan Sesudah Tidur

Urusan tidur? Sepintas seakan sesuatu yang sederhana. Tidak demikian bagi Islam. Agama ini mengaturnya dengan saksama. Banyak teladan soal bagaimana tidur dalam Islam. Ada sejumlah postulat tentang tidur bagi muslim. Kita umatnya tentu meneladani Radulullah s.a.w.  termasuk dalam soal tidur. Islam menyediakan teladan bagi muslimin. Muslimin dalam kesehariannya mengajarkan mengajarkan umatnya “sejak membuka mata sampai menutup mata.” 

Edukasi muslim tentang adab menjelang tidur demikian rapi tersusun. Kitab Minhajul Muslim misalnya – karya Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri – antara lain menjelaskan, jika hendak tidur di malam hari, Nabi Muhammad s.a.w.tidak menyukai tidur sebelum menunaikan shalat Isya atau mengobrol sesudahnya. Tak hanya itu, Nabi juga berusaha tidak tidur sebelum berwudhu. Hal ini sebagaimana hadis: Idza ataita madhja’aka fatawadha’ wudhu-aka lishalati – Apabila engkau hendak tidur, maka berwudhulah [terlebih dahulu] sebagaimana wudhumu untuk shalat.

Yang Sunnah tentang Tidur

Sejumlah hal disunnahkan untuk dilakukan. Baik sebelum tidur maupun sesudahnya. Kapan muslim sebaiknya tidur. Nabi Muhammad s.a.w. mengajarkan tentang pola tidur. Waktu yang paling baik untuk tidur, setelah makanan tercerna. Ada baiknya, untuk mengawali tidur dengan berbaring pada lambung kanan. Aisyah berkata bahwa Nabi Saw biasa memulai tidurnya dengan berbaring pada sisi kanan beliau dan menghadap Mekah. Jadi, posisinya seperti mayat ketika dishalati dan dikubur supaya ingat kepada kematian.

Pada saat hendak memulai tidurnya,  Nabi memulai dengan memiringkan sebelah kanan badannya dan berbantalkan tangan kanannya. Tidak mengapa jika kemudian berbalik ke sebelah kiri badan setelah tidur lelap, sebab Rasulullah s.a.w. pun pernah mengungkapkan perkara itu kepada Al-Bara bin Azib. Nabi bersabda: Tsumma idhthaja’a ala syiqqika al-aimani (kelanjutan dari hadis di atas), maka berbantallah dengan tangan kananmu. Bagaimana dengan posisi tengkurap. Nabi tidak menganjurkannya. Tidur tengkurap di malam hari maupun siang hari dilarang oleh Nabi. Rasulullah SAW bersabda: Innaha dhij’atu ahli-nnari, Sesungguhnya [berbaring dengan tengkurap] itu adalah berbaringnya penghuni neraka.

Hadits lainnya, Nabi juga mencontohkan kepada umat Muslim sebelum tidur untuk membaca dzikir. Salah satu dzikir yang dibaca Nabi adalah dengan membaca: Subhanallahi wal-hamdulillahi wa la ilaha illallahu wallahu akbar. Dzikir ini dibaca sebanyak 33 kali.

Lalu umat bertanya, baik atau tidakkah tidur siang? Menurut buku Terapi Sehat Ala Nabi karya Bisri M Djaelani, disebutkan, Nabi mengingatkan bahwa tidur siang itu kurang baik karena mempengaruhi raut wajah, mengundang penyakit, dan menjadikan orang malas. Ini sekecuali pada waktu tengah hari yang sangat panas sesuai dengan sabdanya, “Tidurlah barang sedikit, karena setan tidak akan pernah tidur“. Sabdanya lagi, “Jadikanlah dirimu mudah bangun malam untuk shalat dengan tidur sejenak di siang hari.”

Dengan demikian, tidur siang itu buruk apabila dilakukan terlalu lama, tidurlah sekadarnya saja supaya merasa segar, lalu kembali beraktivitas kemudian untuk bangunlah tengah malam untuk tahajjud.

Tidur di sore hari kurang baik. Aisyah berkata, “Barang siapa pergi tidur pada senja hari, maka dia akan gila, dan untuk itu ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Tidur juga dilarang sesudah fajar hingga matahari terbit. Juga Nabi membenci tidur sebelum fajar dan waktu isya“.

Hal Teknis tetang Tidur

Musliminmendapat arahan tentang tidur. Beberapa diantara: 1. Tidurlah Tanpa Lampu. Cara sehat tidur ala Rasulullah,salah satunya adalah memadamkan lampu ketika tidur. Ternyata ini ada maksudnya. Hadis yang diriwayatkan Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda: Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur malam, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman.

Apa hikmah ajaran Rasulullah s.a.w. ini? Mematikan lampu pada saat tidur bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Seorang pernah meneliti (ahli biologi Joan Robert) mengatakan, tubuh baru bisa memproduksi hormon melatonin pada saat tidak ada cahaya. Hormon melatonin diproduksi oleh kelenjar pineal dan antara lain berfungsi untuk mengatur ritme tidur, meningkatkan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan jantung, menghambat peningkatan kolesterol, dan berfungsi sebagai antikanker.

Jurnal Cancer Genetics and Cytogenetics menerangkan, penerangan yang menggunakan cahaya buatan akan berdampak pada jam biologis tubuh dan dapat menjadi pemicu ekspresi berlebihan dari sel-sel yang dikaitkan dengan pembentukan sel kanker.

Riset yang lain, Society for Neuroscience, di San Diego tahun 2010 menjelaskan tentang korelasi antara cahaya lampu dan tingkat depresi. Pekerja shift malam dan orang lain yang selalu terkena cahaya di malam hari akan meningkatkan risiko gangguan mood atau depresi.

Semua penelitian ilmuan barat ini tentu menjadi penguat dari hadist Nabi Muhammad SAW untuk tidur di dalam gelap. Padamkanlah lampu saat akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman (HR.Muttafaq ‘alaih).

Peneliti di Universitas Stanford di California, Amerika Serikat, menjelaskan: cahaya lampu yang menyala saat tidur dapat mempengaruhi hormon dalam tubuh, mengganggu kesehatan mata, dan bahkan berisiko meningkatkan pertumbuhan sel kanker dalam tubuh. Dilansir dari Vemale, ada fakta mengejutkan bahwa wanita yang tidur dengan lampu menyala bisa memiliki risiko kanker payudara lebih tinggi dibandingkan mereka yang memilih gelap atau memakai cahaya remang-remang saat tidur.

2. Posisi Tidur Miring ke Arah Kanan. Sesuai dengan sunnah Rasullullah SAW, posisi tidur yang sangat dianjurkan adalah miring ke kanan. Lalu bagaimana jika suami tidur bersama istrinya sesuai sunnah Rasullullah SAW? “Posisi tidur suami istri yang sesuai sunnah Nabi, suami istri tetap miring ke kanan. Sang istri ada di depan, sang suami ada di belakang sambil memeluk istrinya. Jadi keduanya dapat sunnah posisi tidur miring ke kanan,” ungkapnya.

Berdasar studi yang dilakukan pada 2003 pada The Journal of American College of Cardiologi –yang dimuat New York Times 21 Februari 2011, tidur dengan posisi miring ke kanan lebih aman daripada miring ke kiri. Tidur dengan posisi miring ke kanan bisa mengurangi risiko kegagalan fungsi jantung. Sebab, saat posisi tubuh miring ke kanan, membuat jantung yang berada di bagian kiri tidak tertindih oleh organ yang lainnya.

Postulat lainnya, HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710, Nabi  bersabda: Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu. Pada zaman dahulu, orang mungkin berpikiran bahwa Islam memang mengutamakan kanan dibanding kiri, sehingga anjuran ini merujuk pada keutamaan tadi. Namun ternyata, perintah Nabi ini memberikan efek medis yang begitu menakjubkan. Ilmuan menemukan manfaat-manfaat itu pada zaman now, padahal Nabi mengatakan hal itu sejak 1400 tahun silam.

3. Jangan Tidur dengan Posisi Tengkurap. Larangan itu muncul dari kisah Ya’isy bin Thikhfah Al-Ghifari. Dalam suatu kesempatan dia bercerita, “Bapakku menceritakan kepadaku bahwa ketika aku tidur di masjid di atas perutku (tengkurap), tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan kakiku dan berkata, ‘Sesungguhnya tidur yang seperti ini dimurkai Allah.’ Bapakku berkata, ‘Setelah aku melihat ternyata Beliau adalah Rasulullah SAW’,” (HR. Thabrani).

Tidur secara tengkurap, kata Imam Tirmidzi, membawakan hadits yang didapat Abu Hurairah. Saat Nabi melihat seorang Muslim tidur tengkurap, Nabi berkata, ” Ini adalah cara tidur yang tidak disukai oleh Allah.” Ulama sekaligus pakar kedokteran, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, berkata, tidur dengan posisi miring dan ke sebelah kiri juga kurang baik bagi kesehatan. Sebab, tidur dengan posisi miring dapat membahayakan jantung.

Ilmu kedokteran modern membuktikan tidur tengkurap berbahaya. Tengkurap otomatis membuat otot dada atau otot pernafasan tidak dapat mengembangkan. Sehingga aliran oksigen menjadi lebih sedikit dan berakibat sesak nafas. Tidur pada sisi kiri badan juga berbahaya. Sebab, organ-organ bisa menghimpit jantung sehingga sirkulasi darah terganggu dan mengurangi pasokan darah ke otak.

Seseorang yang tidur dengan cara tengkurap di atas perutnya setelah suatu periode tertentu akan mengalami kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya akan menekan ke arah dada yang menghalangi dada untuk merenggang dan berkonstraksi saat bernafas. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya kekurangan asupan oksigen yang dapat mempengaruhi kinerja jantung dan otak

Peneliti dari Australia, Dr. Zafir al-Attar menyatakan bahwa terjadi peningkatan kematian pada anak-anak sebesar tiga kali lipat saat mereka tidur tengkurap dibandingkan jika mereka tidur dengan posisi menyamping. Tidur dengan posisi tengkurap pada periode tertentu akan menyebabkan perut kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya menekan ke arah dada.

4. Tidak Tidur dengan Posisi Terlentang. Nabi  juga melarang umatnya untuk berlama-lama tidur terlentang. Setelah dikaji secara media, ternyata tidur dengan posisi ini menekan atau menyesakkan tulang punggung, bahkan kadangkala bisa menyebabkan kita ingin ke toilet.

Selain itu, menurut penelitian Dr. Zafir al-Attar, seseorang tidur dengan cara terlentang akan menyebabkan seseorang bernafas melalui mulutnya. Padahal manusia harusnya bernafas melalui hidung, bukan mulut. Hal ini dikarenakan pada hidung terdapat bulu-bulu halus dan lendir yang dapat menyaring kotoran yang ikut terhisap bersama udara yang kita hirup.

Bernafas melalui mulut merupakan salah satu penyebab seseorang rawan terkena flu. Selain itu bernafas lewat mulut akan menyebabkan keringnya rongga mulut sehingga dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada gusi.

5. Meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan. Ternyata Nabi lebih senang tidur dengan beralaskan tikar yang terbuat dari dari kulit binatang yang diisi dengan sabut. Posisi tubuhnya jika tidur menghadap ke arah kanan dan tidak pernah bertelungkup. Kepalanya diberi alas sebagai bantal.

Di balik kesederhanaan ini, ada manfaat medis yang coba diajarkan Nabi. Ternyata tidur beralaskan tangan akan membuat posisi kepala, leher dan punggung tercipta garis lurus. Memang, leher yang tidak lurus pada saat tidur menyebabkan sakit leher pada saat bangun atau biasa disebut tengengen dan hal ini terkadang sampai berhari–hari lamanya, sehingga mengganggu aktifitas.

6. Tidur lebih awal Selepas Salat Isya. Rasulullah menganjurkan agar umat islam secepatnya tidur setelah Isya jika tidak ada urusan lain. Jika dikaji dari segi kesehatan, malam adalah ekskresi hati dalam menetralkan racun, sehingga perlu kadaan yang tenang. Namun apabila kita begadang maka sekresi ini tak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Sehingga dalam kurun waktu yang panjang dapat menyebabkan penyakit kanker hati.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda