Tafsir

Tafsir Ayat-ayat Puasa (3): Zuhud Lewat Puasa

Tujuan ideal keberagamaan seorang muslim tidak membiarkan ruh  tenggelam dalam materi, peristiwa dan hal-hal, tapi menjaganya agar tetap berada di atas semuanya, sehingga ruh menjadi kuat, mengendalikan, dan bukan dikendalikan. Itulah pengertian zuhud, ascetism, yang sehat, dalam Islam, dan bukan harus menyingkiri dunia dan hidup bermiskin-miskin.   

Di Mesir, tutur Thanthawi, dahulu terdapat tak kurang dari 10.000 serdadu Romawi. Toh negeri itu bisa dibebaskan oleh hanya 12.000 pejuang Arab. Dituturkan pula oleh pencatat sejarah, bahwa Mukaukis, gubernur Romawi Timur di situ, yang orang Yunani, menanyai para utusannya yang menemui panglima Islam Amr ibn Ash: “Bagaimana kalian melihat mereka?”

“Kami sudah melihat satu kaum,” jawab para utusan itu, “yang lebih mencintai mati dibanding hidup, dan lebih mencintai sikap rendah hati dibanding kemegahan. Tidak ada pada mereka itu kegemaran maupun minat kepada dunia. Mereka hanya duduk di tanah! Mereka makan di punggung-punggung kuda! Komandan mereka sama saja dengan siapa pun di antara mereka: tidak bisa dikenali mana  yang ‘amir’ dan mana yang jelata, mana yang orang bebas dan mana yang sahaya. Nah kalau sudah diserukan sembahyang, tidak ada yang ketinggalan seoang juga: mereka mencuci-cuci badan dengan air, lalu tenggelam dalam sembahyang mereka.”

Maka komentar Mukaukis: “Kalau orang-orang seperti itu dihadang oleh sederetan bukit, mereka akan menghapus bukit-bukit itu. Ya, tidak akan ada yang tahan berperang dengan orang-orang ini.”

Jadi, lihatlah, bagaimana zuhud di dunia, sikap meninggikan diri di hadapan materi, dan kekhusuyukan dalam salat justru menjadi sebagian sebab-sebab keberhasilan dalam merebut dunia dan kemudian memimpinnya. “Seakan-akan manusia, setiap kali jiwa mereka lebih dekat kepada sikap berlepas diri (tajrrud) dan meninggikan diri dari ketenggelaman dalam materi, pada kali itu pula mereka akan mampu menguasai segala-galanya (Thanthawi Jauhari, Al- Jawahir fi Tafsiril Quranil Karim, I, 173-174).

Benar,  sebagian perang yang dilakukan Nabi s.a.w. dilaksanakan di bulan puasa, dan dapat dipastikan sebagian sahabat  tetap dalam puasa mereka. Tetapi juga bisa diingat, dalam keadaan yang tak boleh tidak, apalagi kalau pertempuran berlangsung di satu jarak perjalanan (safar), puasa dan tidak puasa merupakan pilihan yang sah. Bukankah  dalam hal perjalanan saja (belum lagi yang dilakukan sambil berperang) Nabi sendiri mencela puasa seorang musafir yang, karena memaksakan diri, tidak urung jatuh pingsan?”

Yang diterangkan Thanthawi sebenarnya sikap religius para pejuang yang digambarkan itu—dan bukan bahwa para pejuang itu pasti berpuasa saat berperang di bulan Ramadan, meski hal itu bukan tidak ada contohnya. Benar bahwa sebagian perang yang dilakukan Nabi s.a.w. sendiri dilaksanakan di bulan puasa, dan dapat dipastikan sebagian sahabat (besar atau kecil) tetap dalam puasa mereka. Tetapi juga bisa diingat bahwa dalam keadaan yang tak boleh tidak, apalagi kalau pertempuran berlangsung di satu jarak perjalanan (safar), puasa dan tidak puasa merupakan pilihan yang sah. Bukankah bahwa dalam hal perjalanan saja (belum lagi yang dilakukan sambil berperang) Nabi sendiri mencela (dengan ungkapan “bukan termasuk kebajikan”) puasa seorang musafir yang, karena memaksakan diri, tidak urung jatuh pingsan?

Tetapi memang benar bahwa memusatkan kehidupan kepada Allah semata-mata, dengan menganggap seluruh dunia ini sebagai hanya sarana untuk itu, tidak membiarkan ruh kita tenggelam dalam materi, peristiwa dan hal-hal, tapi menjaganya agar tetap berada di atas semuanya, sehingga ruh menjadi kuat, mengendalikan, dan bukan dikendalikan (dan itulah pengertian zuhud, ascetism, yang sehat, dalam Islam, dan bukan harus menyingkiri dunia dan hidup bermiskin-miskin), merupakan tujuan ideal keberagamaan seorang muslim. Sedangkan puasa, sepanjang menurut syariat Islam, merupakan sarana yang bukan main bagus untuk itu. Karena itulah Allah “memaksakan” latihan itu untuk kita lakukan (dan kemudian, pelan-pelan, kita nikmati) di bulan Ramadan, lebih-lebih untuk yang tidak biasa melaksankannya di bulan-bulan lain.

Bahkan tidak hanya nilai instrumentalnya yang menentukan ketinggian puasa. Tapi sejak dari nilainya yang intrinsik. Ungkapan penghormatan kepada ibadah yang sebuah itu kita dapati dalam firman Allah lewat hadis qudsi, yang dikalimatkan Nabi s.a.w., seperti diriwayatkan antara lain oleh Bukhari: “Semua amal keturunan Adam menjadi miliknya, kecuali puasa. Puasa itu milik-Ku, dan Akulah yang akan memberikan balasannya.” Hadis lain, juga dari rekaman Bukhari: “Demi Dia yang diri Muhammad dalam Tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa (yang terpaksa ditanggungnya karena keadaan perutnya yang kosong) lebih bagus pada pandangan Allah dibandin minyak kesturi. ‘Ia telah meninggalkan makannya dan minumnya dan syahwatnya hanya karena Aku. Maka Akulah yang akan memberikan balasannya’.” Amin.  Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain menerjemahkan Barjanzi yang dipenaskan Bengkel Teater ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 5 Januari 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda