Hamka

Hamka tentang Kematian

Written by Panji Masyarakat

Apabila seseorang telah meninggal dunia dan telah menghembuskan nafasnya yang penghabisan, bukanlah berarti bahwa jiwanya atau nyawanya telah habis berlalu begitu saja dalam hembusan angin, laksana nyala korek api bila apinya telah padam.

Apa yang dikatakan mati menurut pandangan Islam? Mati adalah perpisahan ruh  kita dengan jasmani kita. Sebab nyawa meninggalkan badan kita. Tubuh kita yang kasar akan kembali kepada anasirnya bermula, yaitu tanah. Dan ruh kita kembali kepada  yang menyuruhnya datang, yaitu Tuhan. Oleh sebab itulah jika kita mendengar berita kematian seseorang kita dianjurkan menyebut: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un” (Sesungguhnya kita kepunyaan Allah dan kita akan kembali kepada Allah).

Oleh karena demikian, maka mati bukanlah pupus, bukanlah hilang dan habis. Mati hanya pergantian sifat hidup, dari yang sifatnya fana (sementara) ke yang baqa (abadi). Dari dunia ke akhirat. Kita mesti akan mengalami mati, dan mati tidak bisa kita tolak. Satu alamat yang tidak akan pernah berubah di langit yaitu Tuhan. Satu alamat yang  tidak akan pernah berubah-ubah di bumi yaitu kubur. Ke mana pun kita melangkah pergi, kemampuan kita menyembunyikan diri, ke benua mana pun kita menghindar, namun bila tiba waktunya, maka tepat pada saat itu, pintu kubur menganga menunggu kedatangan kita. Biar kubur bumi, atau perut ikan atau mana saja, sama saja.

Mati adalah laksana suatu pintu gerbang perbatasan di antara hidup yang fana ini, akan menuju kehidupan yang luas dan baqa, yaitu hidup akhirat. Sesudah mati yang sekali itu, kita tidak akan mati-mati lagi. Kalau kita pikirkan hal ini dengan tenang, tidak ada alasan buat kita takut mati. Kita takut menghadapi mati hanya  karena melihat jasad yang terbujur, bangkai terhantar, mukanya telah pucat kuning karena darah dalam badannya tak berjalan lagi. Kita takut mengenang mati, karena memikirkan bahwa bangkai atau jasad yang telah mati itu akan dimasukkan ke dalam liang lahat dan akan tinggal sepi sendiri, tiada berteman di dalam kubur.

Itulah sebabnya, agaknya, ada seorang maharaja di negeri Tiongkok beribu tahun yang lalu menitahkan para menterinya mencari suatu tempat yang di sana tidak akan didatangi kematian. Dia ingin kekal, tetapi dia tidak mau memasuki gerbang yang memisahkan yang tidak kekal ini dengan hidup yang sebenar kekal.

Ada pula yang menyangka bahwa hidup hanya inilah! Di belakang ini tidak ada hidup lagi. Bila mati telah datang, tamat dan berakhirlah hidup manusia. Masuk ke dalam suatu masa yang di sana tidak ada perasaan lagi, tidak ada syu’ur. Bila manusia telah mati, samalah dengan seekor kucing yang mati, atau sapi yang dipotong dan dimakan. Setelah itu habis, segalanya berakhir.

Soal mati bukanlah soal habis, mati boleh dikatakan penutup dari hidup yang khayali dan pembukaan dari hidup yang hakiki. Pasti tiba waktunya ruh kita bercerai dengan badan kita, tetapi insan tidaklah berubah karena itu.  Mati hanyalah pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tidak mengurangi akan kesadaran seseorang atau hakikat wujud, dan tidak akan pula mengurangi akan perasaannya, bahkan bertambah jelas dan nyata baginya, sebab dia telah terlepas  dari ikatan  belenggu.

“Allah-lah yang memelihara jiwa-jiwa ketika matinya” (Q.S. 39: 42). Maka apabila seseorang telah meninggal dunia dan telah menghembuskan nafasnya yang penghabisan, bukanlah berarti bahwa jiwanya atau nyawanya telah habis berlalu begitu saja dalam hembusan angin, laksana nyala korek api bila apinya telah padam.

Oleh karena itu, maka akan insaflah semua orang yang beriman. Lalu mereka menggunakan kesempatan hidup yang diberikan Allah untuk mengisi sebaik-baiknya  dengan amal saleh, sehingga tidak ada yang terbuang begitu saja. Sehingga jika tiba-tiba seketika panggilan Allah datang, didapati dia masih tetap dalam kesibukan mengisi hidup dengan perbuatan dan amal yang berfaedah bagi sesama.

Langkah yang penghabisan sekali kita meninggalkan dunia ini adalah langkah permulaan bagi kita menuju alam keabadian, khulud. Di permulaan langkah tiba, di sana dimulai perhitungan. Nyatalah nilai kebajikan yang kita kerjakan selama ini, dan nyata pula kebejatan. Semuanya duibayar kontan, tidak ada yang tersembunyi.

Sumber: Ensiklopedia Buya Hamka (2019)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda