Tafsir

Tafsir Ayat-ayat Puasa (2): Kelas-kelas “Ekonomi, VIP, dan Supereksekutif”

Written by Panji Masyarakat

Angkatan-angkatan pertama Islam dahulu mampu membebaskan negeri-negeri Timur dan Barat, sementara mereka berpuasa di siang hari dan bersembahyang dan bertahajud di jauh malam.   

Sementara itu, dalam Islam, terdapat pandangan khas tentang tingkat-tingkat puasa. Ibadah dengan pengertian yang “hanya” meninggalkan makan, minum dan hubungan seksual itu biasanya disebut, seperti oleh pengarang Ruhul Bayan, ‘puasa orang awan’. Adapun ‘puasa orang-orang terkemuka’ (khawaashsh) alias golongan “VIP”, adalah menahan diri dari semua yang dilarang (di dalam maupun di luar puasa). Sementara itu puasa golongan “supereksekutif” (‘yang paling terkemuka’, khawaashul khawaaashsh) adalah menahan diri “dari semuanya, selain Allah”. (Lihat Burusawi, loc.cit.)

Pembagian seperti itu merupakan penemuan khas ulama tasawuf, seperti yang dalam Ihya ‘Ulumuddin  Ghazali diterangkan dalam Asrarul ‘Ibadah. Thanthawi Jauhari, di awal abad ke-20, mengkalimatkan puasa “orang khusus” itu sebagai ibadah mereka yang, di samping meninggalkan makan-minum dan hubungan seksual, juga “menjaga pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan, dari segala dosa.” Sedangkan puasa “khusus dari yang khusus” adalah puasa yang seperti itu ditambah “puasa hati dan seluruh keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi, dan usaha menghindarkannya dari semua yang selain Allah.”

Imam Al Ghozali

Itu memang lalu bisa memunculkan pertanyaan: bagaiamana mengkompromikan kewajiban menuntut ilmu, misalnya, dan mengembangkan segala sarana kemakmuran, serta menjaga umat muslimin  agar tidak membiarkan semua itu dimonopoli orang Eropa, yang akhirnya berkemampuan menguasai wilayah-wilayah muslimin dan menjarah kekayaan mereka, seperti yang banyak dituliskan Syekh Thanthawi sendiri di paro pertama abad ini, dengan anjurannya yang sebaliknya, yakni agar “meninggalkan semua yang yang selain Allah” dan “tidak memikirkan apa pun selain Allah”?

Hendaklah diingat, jawab Thanthawi, semua urusan duniawi yang bersifat tak-boleh-tidak bagi kehidupan agama, pemeliharaannya dan keberadaannya yang kekal, “menjadi urusan agama dan bukan urusan dunia”. Demikianlah maka penciptaan segala sarana kemajuan yang benar, dan segala ilmu yang diperlukan sebagai syarat perwujudannya, merupakan fardhu kifayah bagi umat muslimin. Tetapi pertanyaan seperti itu baru muncul, pada bangsa-bangsa muslimin mutakhir, oleh ketiadaan pemahaman kegamaan  mereka dan oleh kebiasaan mereka mengambil ibarat hanya dari yang lahir. Sebab, kalau tidak, bagaimana angkatan-angkatan pertama Islam dahulu mampu membebaskan negeri-negeri Timur dan Barat, sementara mereka berpuasa di siang hari dan bersembahyang dan bertahajud di jauh malam?  Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain menerjemahkan Barjanzi yang dipenaskan Bengkel Teater ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 5 Januari 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda