Mutiara

Ulama, Rahib dan Setan

Written by A.Suryana Sudrajat

Ada kalanya agama diperkuat orang-orang durhaka. Bagaimana dengan orang yang bermain di batas garis wilayah terlarang? Selain sikap kritis terhadap diri sendiri agar niat untuk berbuat baik itu tidak membawa akibat yang fatal, diperlukan mekanisme atau sistem untuk mengontrol niat baik itu.

 “Di antara pepohonan, ada satu yang tidak pernah gugur daunnya. Dia seperti seorang Muslim,” kata Nabi s.a.w. kepada para sahabat, seperti dituturkan Abdullah ibn Umar. “Coba sebutkan, pohon apakah itu?” tanya Nabi menguji.

Orang-orang pun, kata Ibn Umar, mulai berpikir tentang pepohonan di gurun. “Terlintas dalam diriku, pohon itu kurma. Tapi aku malu. Lalu mereka bertanya, ‘Pohon apa, ya Rasulullah?’”

“Itulah kurma,” jawab Nabi.

Tamsil atau perlambang yang dimaksudkan sabda Nabi itu jelas: seorang Muslim adalah seseorang yang seharunya memberi berkah kepada sekelilingnya baik berupa manfaat ilmu maupun amal sosial lainnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika seorang berilmu yang tersiksa pada Hari Kiamat adalah orang yang tidak diberi oleh Allah kemanfaatan atas ilmunya. Imam Al-Ghazali menyebutnya ulama atau ilmuwan yang terkena tipu dayanya sendiri. Masuk kategori ini adalah ulama yang melakukan amalan lahiriah dan meninggalkan maksiat, tapi enggan menghapus sifat-sifat tercelanya. Seperti sombong, riya, dengki, ambisius dalam mengejar kedudukan, dan suka popularitas.

Soalnya, bagaimana seorang ulama bisa terpedaya? Bukankah dia berilmu tinggi dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan?

Setan pula rupanya yang mengetahui pintu-pintu rahasia menuju hati manusia. Dalam menggarap ulama, misalnya, setan mengajukan proposal kejahatannya dalam kemasan kebaikan sehingga keduanya sulit dibedakan. Setan jelas tidak bakal mampu mengajak mereka untuk melakukan perbuatan yang nyata-nyata jahat. Inilah bisikannya:

“Tidakkah kamu lihat, betapa hati manusia hampir mati, hancur akibat kelalaian mereka, dan berada di tepi jurang neraka? Tidak ada lagikah rasa kasihmu terhadap hamba-hamba Allah? Tidakkah sebaiknya kamu ikut menyelamatkan mereka dari marabahaya melalui nasihat-nasihatmu? Bukankah Allah telah mengaruniamu dengan hati yang terbuka dan sadar, lidah yang fasih, dan bahasa yang menarik? Bagaimana mungkin kamu mengingkari karunia Allah dan membuka diri untuk menerima murka-Nya dengan menolak menyebarkan ilmu dan menyeru manusia ke jalan yang lurus?”

Upaya-upaya persuasif itu dilakukan secara kontinu sehingga akhirnya ulama kita itu rajin berceramah di mana-mana.

Aksi berikutnya, menurut Al-Ghazali dalam kitabnya “Aja’ibul Qalb, seran menyarankan si ulama agar berpenampilan oke, memperindah ungkapan-ungkapannya, selain menonjolkan dirinya yang suka mengerjakan kebajikan-kebajikan.

“Jika kau tidak melakukannya, mereka tidak bakal mendengar ucapan-ucapanmu. Akibatnya, mereka sukar menemukan kebenaran,” kata setan.

Dorongan-dorongan halus itu dipompakan berulang-ulang kepada sang ulama. Dalam waktu yang sama setan juga memasukkan nuansa-nuansa riya, kekaguman orang banyak kepadanya, dan kenikmatan mencapai kedudukan, dan banyaknya pengikut. Akhirnya, sampailah ia pada satu perasaan bahwa dirinya sudah sedemikian mulia, seraya memandang rendah orang lain. Ulama itu mengira bahwa tujuan-tujuannya untuk kebaikan, padahal sebenarnya demi mengejar kedudukan dan kehormatan. Akhirnya ia jatuh ke jurang kehinaan.

“Ada kalanya Allah memperkuat agama ini dengan orang-orang yang durhaka,” demikian sabda Nabi.

Syahdan, inilah kisah seorang rahib dari kalangan Bani Israil. Suau hari setan mendatangi seorang gadis. Setan mencekik gadis itu sampai kerasukan. Ia lalu membisiki keluarganya bahwa sang rahiblah yang bisa menyembuhkan anak itu. Rahib, yang bukan tabib, menolak. Tapi atas desakan keluarganya yang tak kenal menyerah, rahib akhirnya bersedia mengobati si gadis di rumahnya. Setan lalu berusaha mendorong rahib menyentuh gadis itu, dan akhirnya menyetubuhinya sampai hamil. (Ingat dukun cabul di ini zaman!)

“Rahin, engkau berbuat keji. Keluarganya pasti akan tahu,” kata setan kemudian. “Karena itu, bunuh saja gadis itu. Kalau mereka tanya, katakan ia meninggal.”

Sang rahib lalu membunuhnya dan menguburkannya. Setan kemudian mendatangi pihak keluarga dan membisikkan  bahwa rahib utu telah menghamili, membunuh, dan mengubur anak perempuan mereka. sia-sia rahib menyangkal. Ia pun tidak berkutik ketika mereka meringkus dan membawanya untuk dihukum mati.

“Pathlah kepadaku kalau kau ingin selamat dari mereka,” kata setan.

“Bagaimana caranya?” tanya rahib.

“Sujudlah kepadaku dua kali.”

Setelah rahib melaksanakan perintah itu, pada waktu itu pula setan membisikkan pada si rahib bahwa pihaknyalah yang dulu mencekik si gadis dan membisikkan ke dalam hati keluarganya. Setan lalu berkata, “Aku berlepas dri dirimu.”

Melakukan sesuatu dengan keyakinan berbuat baik tampaknya tidak cukup. Terlebih yang berhubungan dengan orang banyak. Akan selalu masuk unsur-unsur kepentingan pribadi, yang pada ujung-ujungnya akan bertabrakan dengan kepentingan umum. Selain sikap kritis terhadap diri sendiri agar niat untuk berbuat kebaikan itu tidak membawa akibat yang fatal  — seperti pada kisah ulama dan rahib di atas – diperlukan mekanisme atau sistem untuk mengontrol niat baik itu

“Orang yang bermain di sekitar garis batas tempat yang terlarang, dikhawatirkan akan terseret ke dalamnya,” kata Nabi. 

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda