Cakrawala

Menjaga NU Hingga Akhir

Written by Iqbal Setyarso

Jelang akhir penjajahan Jepang, persisnya saat Belanda ingin kembali menguasai bercokol di Nusantara, tentu telah terpikir dibenak mereka sejumlah komoditas dagang yang masih tersebar di Nusantara hasil politik tanam paksa (kultuurstelsel) di sejumah daerah — seperti Temanggung dan Wonosobo. Sementara itu Jepang sendiri tengah fokus pada Perang Asia Timur Raya melawan Sekutu. Adalah KHR As’ad Syamsul Arifin (1897-1990) juga sedang menurunkan kesibukannya di pesantren dan mulai serius di kancah pergerakan dan perlawanan melawan penjajah. Beliau memimpin pasukan Pelopor dan Hizbullah baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan.

Umat nahdliyyin niscaya masih mengingat pesan masyhur dari Kiai As’ad. “Saya ikut NU tidak sama dengan yang lain. Sebab saya menerima NU dari guru saya, melalui sejarah. Tidak lewat talqin atau ucapan. Kalian santri saya, harus ikut saya! Saya ini Nahdliyyin, jadi kalianpun harus NU juga!” Demikian pesan legendaris dari Kiai As’ad. 

Membaca Kiai As’ad, memutar narasi sejarah kebangsaan. Dalam fragmen penjajahan, tersebutlah Sekutu mendarat di Jakarta lalu membombardir Surabaya pada 10 November 1945. Itulah moment yang sangat dikenal, terutama episode Hadratusy-Syaikh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Pada saat itu Belanda juga melakukan agresi militer hendk merebut Irian Barat sekaligus merongrong kedaulatan NKRI.

Mata-mata Jepang beraksi demikian jeli. Mereka telah memegang nama-nama dan peta pergerakan Kiai-kiai, tokoh pergerakan, pimpinan pejuang, khususnya aktivis BPUPKI. Dalam perhitungan Jepang, mengendalikan para Kiai berarti menguasai Indonesia. Ini menjadi kesimpulan penguasa Jepang. Dari data yang mereka miliki, oknum pejabat yang diangkat pemerintah Hindia Belanda selama pendudukan VOC, sebagian tokoh pergerakan, aktivis dan bahkan beberapa pentolan ormas di luar Nahdlatul Ulama memilih bersikap lunak kepada penjajah dengan iming-iming dijanjikan kemerdekaan dan jabatan. Dokumen ini dipelajari betul dan dikembangkan oleh Jepang selama berkuasa di Indonesia.

Kembali ke Pesantren

Situasi negara berangsur mereda, Kiai As’ad pun kembali ke pesantren, terutama setelah ayahnya berpulang wafatnya pada 5 Maret 1951. Kiai As’ad fokus mengembangkan pesantren rintisan ayahnya. Langkahnya tidak keliru, dalam tempo singkat ribuan santri berdatangan ke Sukorejo dari berbagai penjuru Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Namun demikian, sebagai salah seorang tokoh muda yang turut membidani berdirinya jam’iyyah NU lantaran ditunjuk menjadi narahubung antara Bangkalan-Jombang, Kiai As’ad pernah terjun ke politik praktis. Hal ini semata karena beliau telah mewakafkan diri untuk NU—yang tak lain adalah pesantren besar, sementara pesantren adalah NU kecil.

Ketika NU keluar dari Masyumi dan memutuskan menjadi partai politik pada 1952, Kiai As’ad dan banyak lagi ulama Nusantara seangkatan beliau yang mengembangkan dan memperluas pengabdian dari sekadar politik kebangsaan dan kerakyatan menuju politik kenegaraan. Bahkan, Kiai As’ad menjadi juru kampanye partai NU, anggota konstituante (1957-1959), serta dipercaya mengemban amanat sebagai penasehat pribadi Wakil Perdana Menteri KH Idham Khalid.

Konsekuensi berpolitik menjadikan Kiai As’ad kian jarang pulang ke pesantren, namun ia menunjuk kader-kader terbaiknya untuk memimpin pesantren sebagai lurah pondok. Mereka antara lain Kiai Baihaqi (1950), Kiai Ahmadin (1953), Kiai Chudlori (1953-1958), Kiai Zahir (1958-1960), dan Kiai Sholeh (1960-1962). Kiai As’ad sendiri kian, antara lain melakukan konsolidasi nasional dengan para ulama.

Kiai As’ad meyakini, bagi umat Islam mendukung partai NU wajib ‘ain dengan mencoblosnya dalam Pemilu, karena NU berasaskan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah dan konsepsi pemikiran yang diajukan dalam sidang konstituante bersumber dari ajaran Islam serta para calon yang diusung dari kalangan Ulama nasionalis. Alasan inilah yang melandasi perjuangan Kiai As’ad melakukan gerilya dari satu daerah ke daerah lain, dari satu pesantren ke pesantren lain demi membela NU di gelanggang politik nasional. Pendekatan ini mengingatkan kita kepada KH Wahab Chasbullah yang keliling Nusantara selama dua tahun (1924-1926) untuk mengajak, memohon doa dan mensosialisasikan NU kepada seluruh ulama Nusantara sebelum deklarasi berdirinya NU. Yang menakjubkan, baik Wahab Chasbullah maupun Kiai As’ad sama-sama merogoh kocek pribadi demi kepentingan NU.

Meneladani Asaatidz

Sepak terjang Kiai As’ad dan para Kiai muda NU dalam politik praktis terus berlanjut sampai partai NU memiliki basis (antara lain di Jawa, Madura, Bali, sebagian di Sulawesi, Andalas serta Borneo. NU yang meraksasa – ketika itu – membuat presiden Soekarno menawari beliau menjadi Menteri Agama, akan tetapi beliau menolak secara halus. “Yang Mulia Bapak Presiden, saya menolak, karena untuk jabatan resmi bukan saya orangnya. Memang jiwa-raga saya untuk Indonesia, tapi saya lebih cocok memimpin Pondok Pesantren,” ujar Kiai As’ad. Presiden Soekarno tidak mendesak, menghormati keputusan Kiai As’ad.

Pembawaan Kiai As’ad yang tidak haus jabatan dan gila pangkat menaladani para gurunya. Di antara guru-guru beliau yang paling berpengaruh membangun kepribadian (syakhshiyah) belia:  Syaikhona Kholil Bangkalan dan Hasyim Asy’ari (Tebuireng). Khususnya dalam strategi perjuangan, pengkaderan dan membangun pesantren, Kiai As’ad mewarisi KH Hasyim Asy’ari, sedang dalam akhlak dan pelayanan kepada masyarakat luas, beliau meneladani Syaikhona Kholil (Bangkalan), dalam ranah zikir dan suluk, Kiai As’ad takzim pada KH Djazuli (Pamekasan), sementara dalam disiplin keilmuan beliau berkiblat kepada KH Khozin (Sidoarjo).

Kiai As’ad tak hanya tinggal di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah saja, namun meneruskan tradisi keliling kampung, Jawa dan bahkan Nusantara dalam berdakwah atau sewaktu bertemu jamaah haji dan santri yang belajar di Haromain, tak segan-segan beliau menegaskan pentingnya berjuang dan membela NU sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia yang juga dipelopori para Kiai. Kembali ke khittah. Demikian seruan Kiai As’ad kepada para ‘Alim Nusantara (yang beliau utarakan dalam berbagai kesempatan ceramah dan pengajian) —setelah tidak berpolitik praktis—yakni seruan agar para Kiai kembali ke khittah, yakni meneladani Sunan Ampel, kalau tidak bisa meneladani orang-orang ‘alim dari kalangan NU seperti: Syaikhona Kholil, Mbah Hasyim, Mbah Mutamakkin Kajen, Kiai Mahfudh Anwar Paculgowang, Kiai Abbas Buntet atau Kiai Raden Asnawi Kudus serta ulama-ulama Nusantara lainnya.

Wasiat Kiai As’ad

Umat NU faham NU dikitari “jangkar-jangkar”, yakni para ‘alim. Mereka ibarat belantara, punya pawang.  Para kiai NU itulah para awliya’—pawangnya. Sebagai pawang, tentu mereka bijak bestari, berpikir panjang dalam memutuskan sesuatu. Mengapa Kiai As’ad sering menegaskan pentingnya kembali ke khittah serta urgensi meneladani Walisongo, karena Sunan Ampel sendiri berhasil mendidik, menempa dan melahirkan kader-kader handal, antara lain: Sunan Kudus (ulama, ahli fikih, diplomat dan ahli tata negara), Sunan Giri (ulama, pakar ilmu falak, ekonom, serta ahli kemaritiman), Sunan Gunung Jati (ulama, panglima perang, ahli pengobatan), Sunan Bonang (Ulama, ahli Hadits, seniman dan budayawan, pendiri panti asuhan yatim piatu pertama kali), Raden Patah (ulama, negarawan, ahli tata kota, raja Islam pertama di Jawa), Sunan Kalijaga (ulama, seniman, budayawan, filosof, arsitek, diplomat dan panglima perang), Sunan Drajat (ulama, ahli tafsir, pakar ekonomi), dll. Inilah politik kebangsaan Kiai As’ad yang diwarisi dari para leluhur.

Dalam sebuah kesempatan pengajian, Kiai As’ad pernah menceritakan mimpi Sunan Ampel berjumpa kanjeng Nabi Muhammad Saw dan beliau berpesan agar Sunan Ampel membawa Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah ke negeri Jawi (Nusantara), karena di tempat asalnya (Arab Saudi) sudah banyak yang menolak. Nah, jejak perjuangan para pewaris Nabi dan Walisongo inilah yang harus kita teladani sebagai santri milenial, yakni tetap menjadi santri sampai mati dan menjadi nahdliyyin ila yaumid-din. Inilah khittah.

KHR As’ad Syamsul Arifin wafat pada hari Sabtu, 13 Muharram 1411 H bertepatan dengan 4 Agustus 1990, pukul 07.25 WIB setelah dirawat di RSI Surabaya. Beliau menerima gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2016 berdasarkan SK Presiden nomor 90/TK/Tahun 2016. Pesantren beliau menjadi saksi kembalinya NU ke khittah 1926 dalam Muktamar 1984. Dan, salah satu nasehat serta wasiat Kiai As’ad yang masih menggelegar hingga kini adalah, “Santri saya yang keluar dari NU, kelak jangan harap berkumpul dengan saya di akhirat.” Dengan wasiat itu, terasa loyalitas Kiai As’ad dalam memperjuangkan NU.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda