Jejak Islam

Ragam Seni Mushaf Nusantara (4)

Model mushaf di suatu tempat bisa dipakai untuk melacak jejak sejarah jati diri bangsa, sekaligus memberikan penjelasan penting  tentang tingkat pencapaian kebudayaan, intelektual dan seni pada rentang waktu tertentu. Tidak berlebihan jika Mushaf Nusantara menjadi kekayaan budaya bangsa. Bukan semata kekunoannya tetapi juga keindahannya.

Mushaf Jawa Timur juga unik. Manuskrip ditulis seperti berada di dalam dua bola mata. Ini penggambaran bahwa Allah itu Maha Melihat, tidak satu objek pun yang terdapat di dunia ini yang lepas dari penglihatan atau sepengetahuan Sang Maha Pencipta.

Mushaf Al-Banjari yang dikenalkan sendiri oleh Muhamad Arsyad Al-Banjari, bersifat naratif, bahkan imajinatif. Mungkin karena usianya yang paling muda. Sebagaimana mushaf-mushaf  Nusantara lainnya. Mushaf Al-Banjari juga kuat menyajikan pesan-pesan lokal. Dalam setiap lembar manuskripnya selain ada gambar masjid juga terdapat gambar Ka’bah. Lalu, gambar kapal dan matahari terbit. Ini cerita perjalanan syekh pengarang kitab Sabilul Muhtadin itu, yang semasa mudanya merantau ke berbagai negeri di Timur Tengah, selama 30 tahun. Masjid yang tertuang di situ adalah masjid yang dia bangun pada abad ke-19. Dan Baitullah adalah tujuan pengembaraannya. Ragam hias mushafnya adalah hasil perenungannya yang bersifat sufistik, seperti pada umumnya manuskrip mushaf Alquran dibuat

Karena itu model mushaf di suatu tempat bisa dipakai untuk melacak jejak sejarah jati diri bangsa, sekaligus memberikan penjelasan penting tentang berbagai hal kepada generasi terkemudian tentang tingkat pencapaian kebudayaan, intelektual dan seni pada rentang waktu tertentu. Tidak berlebihan jika Mushaf Nusantara menjadi kekayaan budaya bangsa. Bukan semata kekunoannya (kini berusia 100-400 tahun) yang kalau kita melihatnya sekarang mungkin akan memberikan getaran spiritual, tetapi juga keindahannya.

Beberapa warna dominan dalam Mushaf Nusantara yang kuno, seperti hitam, cokelat, krem, atau merah berkaitan dengan kemajuan teknologi ketika itu. Warna-warna ini bisa didapat dari alam di sekeliling. Misalnya akar buah mengkudu atau pace, yang bisa menghasilkan warna coklat muda, coklat kemerah-merahan sampai coklat tua.  Tetapi yang tidak pernah ketinggalan adalah warna emas. Warna ini diyakini sebagai warna otentisitas Tuhan. Mereka meyakini bahwa warna emas adalah warna yang tak pernah bisa menirunya. Ini mengibaratkan lambang keagungan Tuhan, yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun.

Mushaf Nusantara memang berbeda dari mushaf Timur Tengah yang umumnya menggunakan, atau didominasi, atau setidaknya terdapat di dalamnya warna biru. Namun dari segi makna, mushaf- mushaf Arab itu tidak berbeda dengan mushaf asli Nusantara. Warna biru adalah lambang keabadian, yang juga dipergunakan untuk mewakili keabadian Tuhan.

Tapi Mushaf Nusantara Kontemporer, yang pembuatannya dilakukan sebelum digelarnya Festival Istiqlal 1, disebut Mushaf Istiqlal, telah pula menggunakan warna biru. Mushaf ini dibuat atas permintaan Ibu Tien Soeharto. Seluruhnya memakai iluminasi alam khazanah ragam hias Nusantara, mulai dari Aceh sampai Timor, dari Tidore dari Ternate hingga Papua  yang terdapat pada arsitektur rumah-rumah adat, tekstil, perabot rumah tangga, perhiasan, tosan aji dan lain-lain.

Mushaf Aceh (sumber : seamushaf.kemenag.go.id)

Tak berlebihan jika Sayyed Hossein Nashr, pemikir Islam dari Iran  yang bermukim di Amerika, merasa terkesan saat menyaksikan Festival Istiqlal II.  Kata dia, “Salah satu aspek yang paling berkaitan dengan pesan spiritual seni Islam saat ini adalah kemampuannya untuk menyampaikan esensi Islam melalui cara yang lebih langsung dan dapat dipahami daripada bila dibandingkan dengan penjelasan ilmiah yang rumit.”

Kurang Mendapat Perhatian

Sementara Mushaf Nusantara Kontemporer tidak begitu jelas arah kelanjutannya (meskipun dulu para gubernur tampak berlomba-lomba membuat proyek pembuatan mushaf Nusantara di daerah masing-masing), manuskrip-manuskrip mushaf asli peninggalan para ulama Nusantara kini semakin hari semakin tak jelas rimbanya. Beberapa mushaf kuno bahkan diketahui telah berada di sebuah museum di Malaysia. Negeri jiran ini diperkirakan juga berhasil memboyong manuskrip kuno asal Jawa Timur dan Madura. Sedangkan mushaf asli Palembang kini berada di sebuah museum di Timur Tengah. Aksi jual beli ini sungguh menyedihkan.

Mushaf Sunan Giri Jawa Timur

Keterbengkalaian mushaf-mushaf Nusantara itu disebabkan manuskrip-manuskrip Alquran asli yang dibuat berabad-abad lalu itu dianggap sebagai benda waris oleh para pemiliknya. Mereka umumnya tidak memiliki kesadaran memadai untuk merawat karya yang telah tua dan bersejarah itu. Tak mengherankan jika manuskrip-manuskrip itu kian hari kian lapuk dimakan waktu. Sayangnya, pihak pemerintah, tidak terlihat ada kemauan untuk melakukan konservasi budaya terhadap manuskrip-manuskrip Alquran kuno.

Dulu, pada awal 1990-an, memang pernah ada upaya pemerintah untuk melestarikan dan mengembangkan mushaf-mushaf Nusantara dengan menggelar Festival Istiqlal. Tapi upaya ini seperti selesai pada tingkat seremonial. Jika pada Festival Istiqlal I (1991) pihak penyelenggara bisa menampilkan 15 mushaf asli dari berbagai daerah, pada festival berikutnya (1996) mereka hanya mampu memamerkan 5 mushaf kuno. Menyangkut festivalnya sendiri, sampai sekarang belum ada tanda-tanda apakah perhelatan itu akan diselenggarakan lagi.***

Penulis: Agung Y. Achmad, wartawan majalah Panji Masyarakat, 1997-2001, redaktur majalah Panjimas, 2002-2003.. Kini penulis lepas, atara lain untuk kolom bahasa majalah Tempo. Sumber: Panjimas, 6-19 Februari 2003.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda