Tasawuf

Petiklah Hikmah Timbalah Kearifan (2)

Hikmah adalah  hakikat ilmu, tapi ilmu yang lebih lanjut dan lebih dalam. Kata Umar ibn Khattab, selami samudera ilmu sebelum kedudukan  sosial membuatmu enggan belajar..

Ada yang menganggap hikmah sebagai sesuatu yang bisa menyingkirkan kebodohan dan kesalahan. Ini karena adanya ketepatan dalam kata dan tindakan, yang juga disebut arti hikmah sebenarnya. Jadi, apa yang diucapkan dan diperbuat orang yang berhikmah selalu tepat dengan situasi, kondisi, dan proporsi, juga terhindar dari kesalahan dan kebodohan. Karena itu orangnya disebut bijak atau arif. 

Diriwayatkan dari Abdullah ibn Mas’ud r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tidak boleh ada “dengki” (iri  hati) kecuali kepada dua orang: (1) seorang yang diberi Allah harta yang banyak dan menghabiskannya dalam jalan kebenaran; (2) seorang yang diberi Allah hikmah, lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya.”

Para nabi, seperti Ibrahim a.s., selain kitab suci, mereka juga mengajarkan hikmah. Yakni berupa butir-butir yang sangat halus atau mutiara-mutiara yang berhubungan dengan kitab suci tetapi tidak selalu tertulis di situ. Karena hikmah atau kearifan merupakan anugerah Allah, maka pengajarannya pun hanya akan berbuah jika si penerimanya mendapat berkah dari Allah pula. Kata orng, ilmu bisa diajarkan, tetapi kearifan tidak. Atau, banyak orang yang pandai, tapi hanya sedikit yang pandai sekaligus arif.

Tetapi, mengapa ilmu sering digandengkan dengan hikmah? Hikmah adalah sinonim yang menafsirkan ilmu. Ia hakikat ilmu, tapi ilmu yang lebih lanjut dan lebih dalam. Seperti dikatakan Umar ibn Khattab, “Selami samudera ilmu sebelum kedudukan  sosial membuatmu enggan belajar (baca kearifan).” Ya maklumlah, orang-orang yang punya kedudukan tinggi tidak sedikit yang maunya benar dan menang sendiri, tidak mau dipersalahkan dst. Jauh dari gambaran orang yang punya hikmah.    

Jika kita berpegang pada ucapan khalifah yang adil dan banyak melakukan terobosan alias inovasi itu, agak aneh juga jika sekarang muncul tuntutan agar para pemimpin di negeri ini bersikap arif. Jauh sebelum menjadi pemimpin, mereka seharusnya sudah menjadi orang-orang yang arif, punya ketepatan dalam perkataan dan perbuatan, sehinnga mereka terhindar dari kebodohan dan kesalahan. Kata yang sering kita dengar adalah “dungu” untuk menggambarkan pemimpin semacam itu.

Seorang teman pernah mengatakan, hampir dua dasawarsa yang lalu,  bahwa porak-porandanya negeri kita sekarang ini disebabkan oleh kebodohan dan kecerobohan para pemimpinnya. Apakah hal ini juga berlaku sekarang? Wallahu a’lam.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda