Hamka

Belajar Pendidikan Islam dari Hamka

Written by Iqbal Setyarso

Hamka dikenal otodidak, bukan hanya dalam soal agama Islam. Hamka dalam proses otodidaknya, menyerap berbagai bidang ilmu pengetahuan (filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik — baik Islam maupun Barat). Kemahirannya yang tinggi dalam bahasa Arab, membuat beliau mampu mendalami karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah. Dengan keragaman perspektifnya, tak salah kalau kita belajar dari Hamka tentang pendidik dalam pendidikan Islam. Mengapa mengedepankan pendidik? Karena yang utama dalam pendidikan adalah unsur subyek di dalam aktivitas itu.

Trah Pelopor Kebangkitan

Haji Rasul, ayahanda Hamka merupakan salah seorang ulama yang pernah mendalami agama di Mekkah. Hamka sendiri kelak termasuk pelopor kebangkitan kaum mudo dan tokoh Muhammadiyah di Minangkabau. Ia juga menjadi penasehat Persatuan Guru-Guru Agama Islam pada tahun 1920an. Aamka memberikan bantuannya pada usaha mendirikan sekolah Normal Islam di Padang pada tahun 1931. Hamka pula yang ikut menentang komunisme dengan sangat gigih pada tahun 1920-an dan menyerang ordonansi guru pada tahun 1920 serta ordonansi sekolah liar tahun 1932.

Sementara ibunya, Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria (w. 1934). Dari geneologis ini dapat diketahui, bahwa Hamka berasal dari keturunan yang taat beragama dan memiliki hubungan dengan generasi pembaharu Islam di Minangkabau pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX. Ia lahir dalam struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal. Oleh karna itu, dalam silsilah Minangkabau ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya.

Sejak kecil, Hamka menerima dasar-dasar agama dan membaca Al-Qur’an langsung dari ayahnya. Ketika usia 6 tahun tepatnya pada tahun 1914, ia dibawa ayahnya ke Padang panjang. Pada usia 7 tahun, ia kemudian dimasukkan ke sekolah desa yang hanya dienyamnya selama 3 tahun, karena kenakalannya ia dikeluarkan dari sekolah. Pengetahuan agama, banyak ia peroleh dengan belajar sendiri (autodidak). Tidak hanya ilmu agama, Hamka juga seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, ia dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah

Ketika Hamka berusia 10 tahun, ayahnya (Haji Rasul, nama yang lebih dikenal. Penyebutan lengkapnya, Haji Rasul bin Syekh Muhammad Amarullah bin Tuanku Abdullah Saleh) mendirikan dan mengembangkan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Ditempat itulah Hamka mempelajari ilmu agama dan mendalami ilmu bahasa Arab. Di sekolah  ini, yang menyediakan pendidikan sampai perguruan tinggi, mengupayakan dan memajukan beragam pengetahuan tentang Islam duniawi dan ukhrawi.

Dibentuk Lingkungan

Awalnya Sumatera Thawalib adalah sebuah organisasi atau perkumpulan murid-murid atau pelajar mengaji di Surau Jembatan Besi Padang Panjang dan surau Parabek Bukittinggi, Sumatera Barat. Namun dalam perkembangannya, Sumatera Thawalib langsung bergerak dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah dan perguruan yang mengubah pengajian surau menjadi sekolah berkelas. Menurut ceritanya, Hamka kecil gemar menonton film. Malahan, Hamka kecil tergolong yang tingkat kenakalannya cukup memusingkan kepala. Gemar keluyuran ke mana-mana. Bahkan, semula hendak ke surau berbeloklah niat itu jadi ke gedung bioskop untuk mengintip film bisu yang sedang diputar. Pokal lainnya, Hamka kecil sering memanjat jambu milik orang lain, mengambil ikan di kolam orang, kalau kehendaknya tidak dituruti oleh kawannya, maka kawannya itu akan terus diganggunya. Kelakuan itu niscaya kondang di seluruh penduduk kampung sekeliling Padang Panjang.  Tidak ada yang tidak kenal akan kenakalan Hamka. Meningkat seiring waktu, pada usia 12 tahun, kedua orangtuanya bercerai.

Hal itu terjadi karena perbedaan pandangan dalam persoalan ajaran agama. Di pihak ayahnya,  seorang pemimpin agama ketat, sedangkan di pihak ibunya pemegang adat yang sangat kental seperti berjanji, randai, pencak, menyabung ayam dan sebagainya. Secara formal, pendidikan yang ditempuh Hamka tidaklah tinggi. Pada usia 8-15 tahun, ia mulai belajar agama di sekolah Diniyyah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan Parabek. Diantara gurunya adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid, Sutan Marajo dan Zainuddin Labay el-Yunusy. Keadaan Padang Panjang pada saat itu ramai dengan penuntut ilmu agama Islam, di bawah pimpinan ayahnya sendiri. Pelaksanaan pendidikan waktu itu masih bersifat tradisional dengan menggunakan sistem halaqah. Pada tahun 1916, sistem klasikal baru diperkenalkan di Sumatera Thawalib Jembatan Besi. Hanya saja, pada saat itu sistem klasikal yang diperkenalkan belum memiliki bangku, meja, kapur dan papan tulis. Materi pendidikan masih berorientasi pada pengajian kitab-kitab klasik, seperti na­hwu, sharaf, manthiq, bayan, fiqh, dan yang sejenisnya. Pendekatan pendidikan dilakukan dengan menekankan pada aspek hafalan. Pada waktu itu, sistem hafalan merupakan cara yang paling efektif bagi pelaksanaan pendidikan. Meskipun kepadanya diajarkan membaca dan menulis huruf arab dan latin, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah mempelajari dengan membaca kitab-kitab arab klasik dengan standar buku-buku pelajaran sekolah agama rendah di Mesir. Pendekatan pelaksanaan pendidikan tersebut tidak diiringi dengan belajar menulis secara maksimal. Akibatnya banyak diantara teman-teman Hamka yang fasih membaca kitab, akan tetapi tidak bisa menulis dengan baik. Meskipun Hamka tidak puas dengan sistem pendidikan waktu itu, namun ia tetap mengikutinya dengan seksama.

Memilih Metode

Kejernihan berpikir, telah membawa Hamka “berwisata intelektual” melalui bahasa. Melalui bahasa Arab ia meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Pendekatan pendidikan dilakukan dengan menekankan pada aspek hafalan. Pada waktu itu, sistim hafalan merupakan cara yang paling efektif bagi pelaksanaan pendidikan. Meskipun kepadanya diajarkan membaca dan menulis huruf arab dan latin, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah mempelajari dengan membaca kitab-kitab arab klasik dengan standar buku-buku pelajaran sekolah agama rendah di Mesir. Pendekatan pelaksanaan pendidikan tersebut tidak diiringi dengan belajar menulis secara maksimal. Akibatnya banyak diantara teman-teman Hamka yang fasih membaca kitab, akan tetapi tidak bisa menulis dengan baik. Meskipun tidak puas dengan sistim pendidikan waktu itu, namun ia tetap mengikutinya dengan seksama.

Di antara metode yang digunakan guru-gurunya, hanya metode pendidikan yang digunakan Engku Zainuddin Labay el-Yunusy yang menarik hatinya. Pendekatan yang dilakukan Engku Zainuddin, bukan hanya mengajar (transfer of knowledge), akan tetapi juga melakukan proses ’mendidik’ (transformation of value). Melalui Diniyyah School Padang Panjang yang didirikannya, ia telah memperkenalkan bentuk lembaga pendidikan Islam modern dengan menyusun kurikulum pendidikan yang lebih sistematis, memperkenalkan sistim pendidikan klasikal dengan menyediakan kursi dan bangku tempat duduk siswa, menggunakan buku-buku di luar kitab standar, serta memberikan ilmu-ilmu umum (antara lain bahasa, matematika, sejarah dan ilmu bumi).

Wawasan Engku Zainuddin yang demikian luas, telah ikut membuka cakrawala intelektualnya tentang dunia luar. Bersama dengan Engku Dt. Sinaro, Engku Zainuddin memiliki percetakan dan perpustakaan sendiri dengan nama Zinaro. Pada awalnya, ia hanya diajak untuk membantu melipat-lipat kertas pada percetakan tersebut. Sambil bekerja, ia diizinkan untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut. Di sini, ia memiliki kesempatan membaca bermacam-macam buku, seperti agama, filsafat dan sastra. Melalui kemampuan bahasa sastra dan daya ingatnya yang cukup kuat, ia mulai berkenalan dengan karya-karya filsafat Aristoteles, Plato, Pythagoras, Plotinus, Ptolemaios, dan ilmuan lainnya. Melalui bacaan tersebut, membuat cakrawala pemikirannya semakin luas.

Banyak bacaan, kian memacu ketidakpuasan akan asupan pendidikan yang ia terima. Kegelisahan intelektual itu merangsang HAMKA merantau guna menambah wawasan. Tak heran pada usia muda –16 tahun—Hamka sudah melanglang buana. Pada usia 16 tahun itu –tepatnya tahun 1924, Hamka  sudah meninggalkan Minangkabau menuju Jawa tepatnya Yogyakarta. Ia tinggal bersama adik ayahnya, Ja’far Amrullah. Di sini Hamka belajar dengan Ki Bagus Hadikusumo, R. M. Suryopranoto, H. Fachruddin, HOS. Tjokroaminoto, Mirza Wali Ahmad Baig, A. Hasan Bandung, Muhammad Natsir, dan AR. St. Mansur. Dala masa-masa itu, Hamka pun berkenalan dengan Sarikat Islam (SI). Di Yogyakarta pula perkenalan Hamka dengan ide-ide pergerakan, hal yang turut mempengaruhi pemikiran HAMKA tentang Islam yang hidup dan dinamis. Hamka mulai melihat perbedaan nyata antara Islam di Minangkabau, yang terkesan statis, dengan Islam di Yogyakarta, yang dinamis.

Di sinilah mulai berkembang dinamika pemikiran keIslaman Hamka. Perjalanan ilmiahnya dilanjutkan ke Pekalongan, dan belajar dengan iparnya, AR. St. Mansur, seorang tokoh Muhammadiyah. Hamka banyak belajar tentang Islam dan juga politik. Di sini pula Hamka mulai berkenalan dengan ide pembaruan Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha yang berupaya mendobrak kebekuan umat. Rihlah Ilmiah yang dilakukan Hamka ke pulau Pulau Jawa selama kurang lebih setahun ini sudah cukup mewarnai wawasannya tentang dinamika dan universalitas Islam. Dengan bekal tersebut, Hamka kembali pulang ke Maninjau (pada tahun 1925) dengan membawa semangat baru tentang Islam. Ia kembali ke Sumatera Barat bersama AR. st. Mansur. Di tempat tersebut, AR. St. Mansur menjadi mubaligh dan penyebar Muhammadiyah, sejak saat itu Hamka menjadi pengiringnya dalam setiap kegiatan kemuhammadiyahan.

Di Padang Panjang, seolah tidak puas dengan berbagai upaya pembaharuan pendidikan yang telah dilakukannya di Minangkabau, ia mendirikan sekolah dengan nama Tabligh School. 12 Sekolah ini didirikan untuk mencetak mubaligh Islam dengan lama pendidikan dua tahun. Akan tetapi, sekolah ini tidak bertahan lama karna masalah operasional; Hamka ditugaskan oleh Muhammadiyyah ke Sulawesi Selatan. Dan baru pada konggres Muhammadiyah ke-11 yang digelar di Maninjau, maka diputuskan untuk melanjutkan sekolah Tabligh School ini dengan mengganti nama menjadi Kulliyyatul Muballighin dengan lama belajar tiga tahun. Tujuan lembaga ini pun tidak jauh berbeda dengan Tabligh School, yaitu menyiapkan mubaligh yang sanggup melaksanakan dakwah dan menjadi khatib, mempersiapkan guru sekolah menengah tingkat Tsanawiyyah, serta membentuk kader-kader pimpinan Muhammadiyah dan pimpinan masyarakat pada umumnya.

Sekelumit kiprah Hamka menjejakkan pendidikan, baik pendidikan dalam makna klasikal maupun pendidikan ummat. Sepakterjang yang tak kenal lelah itu pun diganjar lembaga-lembaga pendidikan tinggi bahkan hingga di mancanegara menunjukkan kesungguhan itu.

——————-

Rujukan:

H. Rusydi, Pribadi Dan Martabat Buya Prof. DR. Hamka, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983

Herry Mohammad, Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Islami, 2006

http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullah, diakses 27-01-2010

– Badiatul Roziqin, 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia, Yogyakarta: e-Nusantara, 2009

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda