Cakrawala

Dialog Agama untuk Kemanusiaan

Di negara yang masyarakatnya menganut agama yang tidak homogen, persoalan kerukunan antar umat beragama perlu disikapi dengan baik. Sebab, agama disamping menjadi faktor membentuk persatuan, juga bisa menjadi segi pemecah atau disintegratif.

Jika agama menjadi faktor pemecah persatuan maka ini tentu saja keadaan yang tidak menguntungkan. Dengan demikian perlu upaya yang serius memberikan pamahaman keagamaan yang inklusif dan moderat, menghindari konflik dan komunikasi yang rigid atau kaku antar umat beragama.

Penelahan secara psikologis menunjukkan bahwa di kalangan penganut agama terdapat sikap yang mendua atau standar ganda (double standards). Standar ganda tersebut yang terdapat dalam setiap penganut agama, yakni menganggap agama sendiri yang paling benar dan baik, sedangkan agama lain tidak sebaik agama yang dianutnya sendiri alias dianggap menyimpang. Adanya kondisi standard ganda dalam beragama ini diuraikan oleh Budhy Munawar Rahman (1996) dengan mengutip analisis High Goddard, dosen di Nottingham University, Inggris .

Adanya standar ganda di masing-masing penganut agama ini bisa menimbulkan perilaku agresifitas. Yaitu adanya dorongan untuk melebarkan ajaran agama, dalam arti ini maka agama terlibat dalam kompetisi untuk berebut jumlah pengikut. Dalam hal ini, menurut Arief Budiman (1993), ada dua hal yang penting diperhatikan dalam agama.

Pertama, agama sebagai ajaran mengajarkan kepada manusia untuk selalu berbuat baik. Kedua, sebuah kenyataan agama telah menjadi organisasi sosial yang membutuhkan dana, pengikut  dan lainnya. Begitu agama menjadi organisasi, ia akan bersaing dengan agama lain. Menurut Arief Budiman, agama merupakan salah satu lembaga yang paling kuat mempengaruhi perilaku masyarakat.

Disamping itu dalam tiap agama ada semacam panggilan suci untuk berdakwah, yang dalam makna yang maksimal tentu menarik orang lain ke  dalam agamanya masing-masing. Apalagi ada ungkapan bahwa orang lain yang tidak memeluk agamanya dianggap sebagai domba  yang sesat yang perlu diselamatkan.

Pemerintah Indonesia pernah membuat semacam aturan untuk mengatur dakwah ini, yaitu melalui SKB (Surat Keputusan Bersama) antara Menteri Agama dengan Menteri Dalam Negeri yaitu SKB No.1 Tahun 1979 yang isinya bahwa dakwah agama tidak boleh disampaikan pada orang sudah menganut agama.

Bisa dimaklumi bahwa ketentuan ini untuk mencegah adanya persaingan dalam memperebutkan penganut agama. Kalau tidak ada regulasi yang mengatur hal ini dikhawatirkan timbul konflik dan ketegangan antara penganut agama. Hai ini tentu akan membahayakan persatuan bangsa, integrasi nasional dan stabilitas masyarakat dan bangsa.

Disamping pendekatan secara hukum, pendekatan yang terbaik dalam membangun kerukunan antar umat beragama adalah dengan menciptakan dialog, namun dialog yang mana. Tentu pada pilihan yang disepakati bersama. Bukan yang akan mengundang pertengkaran dan ketegangan.

Jika dialog membincangkan doktrin, kepercayaan dasar atau segi teologi, dalam beberapa kasus memang pernah terjadi, umumnya bagi orang yang memang ingin mencari kebenaran dan kemantapan dalam beragama. Dan, hal ini umumnya dilakukan dengan penuh kesadaran dan keterbukaan, berharap dapat memeluk aqidah dengan berdasar argumentasi yang kuat mampu memantapkan pikiran dan hatinya.

Tetapi jika dialog semata hanya ingin menambah pengikut, dan dengan keyakinan bahwa agamanya sendiri paling benar, paling mampu membawa keselamatan bagi umat manusia, maka pola dakwah seperti ini yang bisa memantik ketegangan dan  terganggunya harmonisasi hubungan antar umat beragama.

Karena itu suatu  dialog yang ingin memasuki area yang sensitif, kepada aspek teologis dan doktrin, ada baiknya itu biarlah berkembang secara alamiah dan atas kesadaran masing-masing personal penganut agama.

Untuk sementara yang perlu  dikembangkan adalah konsep dialog yang terkait problem besar umat manusia, problem kemanusiaan  yang dihadapi masyarakat.

Dalam wilayah inilah dialog  umat beragama bisa dibangun dan saling bekerja sama. Setiap agama pasti punya  konsep dasar untuk memotivasi umatnya melakukan kebajikan. Dalam Islam misalnya seperti terdapat dalam Alquran dan Hadis amat banyak himbauan amal saleh. Amal shaleh merupakan konsep inti dalam Islam. Kata iman dan salat dalam Quran selalu dirangkaikan dengan amal shaleh. Bahkan dalam Quran juga disebut ciri orang bertakwa adalah melakukan amal saleh. Dan amal shaleh itu adalah orang yang cenderung berbuat kebajikan, menolong orang yang susah, membantu orang miskin, serta suka memberikan hartanya untuk berinfak dan bersedekah. Konsep amal saleh ini perlu ditekankan dalam rangka mengatasi problem kemanusian yang dihadapi masyarakat modern sekarang ini seperti masalah kemiskinan, pengangguran, kesehatan dan bahkan musibah bencana alam yang akhir-akhir ini banyak timbul di beberapa daerah.

Agama lain tentu punya konsep dasar pula untuk berbuat kebajikan. Ajaran Kristen misalnya memiliki ajaran inti yaitu Cinta dan Kasih. Jika konsep ini dielaborasi untuk hal-hal kemanusiaan dan problem penderitaan  umat manusia yang menghadapi kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan dan sebagainya maka ini akan menjadi kontribusi yang sangat berarti untuk mengatasi problem kemanusiaan.

Persoalan yang dihadapi sekarang adalah apakah semua penganut agama bisa berlapang dada, membuka hati, mata batinnya untuk terpanggil dan tersentuh dengan persoalan kemanusiaan. Jika persoalan ketimpangan sosial dan penderitaan umat manusia dapat menyinari batin setiap umat beragama, maka penderitaan dan ketimpangan sosial yakin bisa diatasi.

Bukankah setiap umat beragama menjadikan  dunia ini  sebagai ladang beramal. Yang hasilnya dipetik pada kehidupan akhirat nanti. Dengan balasan surga yang menyenangkan?

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda