Pengalaman Religius

Khofifah Indar Parawansa (1): Berijtihad Lewat Politik

Dua dasawarsa lebih Hj. Khofifah Indar Parawansa berkiprah di dunia politik. Mulai dari anggota DPR RI, dua kali menjadi menteri dalam pos dan presiden yang berbeda, dan kini gubernur Jawa Timur, yang ia menangi pada kali kedua pencalonannya. Boleh dibilang, kelahiran Surabaya 19 Juni 1965 dan lulusan FISIP Universitas Airlangga ini adalah contoh satu dari sedikit  perempuan   Indonesia yang tangguh dalam perpolitikan Indonesia yang umumnya dikuasai kaum laki-laki.

Nama Khofifah Indar Parawansa mulai dikenal secara luas berkat penampilannya pada Sidang Umum MPR RI 1997. Pada sidang yang agendanya antara lain memilih kembali Jenderal Besar Soeharto itu Khofifah tampil laksana singa podium yang, dengan intonasi yang jelas, menyuarakan pandangan fraksinya (PPP) di MPR, yang kebetulan pas dengan aspirasi rakyat yang telah lama terkungkung oleh otoritarianisme Orde Baru. Di luar itu pun Khofifah kerap menyampaikan pandangan-pandangannya yang kritis terhadap kekuasaan.

Bagi Khofifah, berpolitik tidak bisa dilepaskan dari tautannya dengan agama. Bahkan ia berpendapat politikus tergolong yang akan paling lama dihisab pada Hari Pengadilan kelak. Berpolitik menurutnya pula tak ubahnya berzikir: harus dilakukan secara istiqamah alias konsisten. Berikut penuturan pengalaman religiusnya yang pernah dimuat di Majalah Panji Masyarakat, 21 Juli 1999.

Sejak masa kanak-kanak sesungguhnya saya tak pernah bermimpi jadi seorang politikus. Saya sudah membayangkan, pertarungan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat pastilah tidak semudah orang membalik kedua telapak tangan. Namun suratan takdir memang tak bisa dielakkan. Orang Surabaya bilang, karier politik saya ibarat angin ribut. Melesat cepat sekali.

Entah kenapa orang begitu mudah memberi saya kepercayaan menduduki jabatan di lembaga legislatif yang terhormat itu. Pada 1990, untuk pertama kalinya saya bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berbasis ideologi Islam. Saya dipercaya di Biro Pendidikan dan Pengkaderan DPC PPP Surabaya. Dua tahun kemudian, tanpa saya sangka-sangka, saya sudah disodori dua formulir sekaligus untuk menjadi anggota DPRD dan DPR Pusat.

Seharusnya saya berbangga hati dan menerima kehormatan itu. Namun kepercayaan itu justru membuat hati saya tercengkeram ketakutan, karena manusia tidak akan bisa lepas dari tanggung jawab atas segala pikiran, ucapan dan perilakunya di dunia. Mereka akan mempertanggungjawabkan ini semua saat berkumpul di Padang Mahsyar pada hari akhir kelak. Menurut ajaran agama yang saya pahami, orang-orang kaya bakal menjalani hisab, perhitungan, paling lama. Ribuan pertanyaan seperti, “dari mana uang itu kau dapat, dan untuk apa uang itu dibelanjakan”, harus dijawab sebelum ada keputusan bakal masuk surga atau neraka mereka.

Saya justru berpikir, para politikus, pejabat negara,  dan wakil rakyat yang paling lama bakal dihisab. Betapa tidak. Mereka adalah orang-orang yang mewakili dan mewujudkan aspirasi rakyat. Kalau dinilai tidak mampu memperjuangkan dan melaksanakan aspirasi rakyat, bagaimana nasib mereka nanti saat dihisab?

Meski dilanda kebingungan dan ketakutan, saya tetap mengurus surat-surat administrasi pencalonan. Sepekan sebelum batas akhir penyerahan, formulir tidak saya isi. Bimbang hati saya, mau menerima atau menolak.

Bila manusia tengah dilanda keraguan, tak ada yang lebih baik selain berdoa, memohon bimbingan Allah, dan meminta nasihat kepada orang bijak. Maka datanglah saya ke tempat guru semasa SMA, Ibu Hj. Nur Zainab (kelak ketua Muslimat NU Jawa Timur, red), untuk minta saran.

“Apakah kami bakal dihisab paling lama saat hari akhir di Padang Mahsyar nanti? Kalau kami dianggap tidak mampu memperjuangkan aspirasi rakyat, bagaimana nasib kami nanti?” tanya saya.

“Khofifah,” jawab guru saya, “orang Islam itu harus melakukan ijtihad. Bilamana ijtihad itu benar, ia akan meraih dua pahala. Jika salah, ia dapat satu pahala. Tapi manusia harus berijtihad. Tidak diam, tidak tidur.”

Tiba-tiba hati saya dihinggapi keyakinan, keteguhan. “Ah, ya. Manusia memang harus berusaha,” sahut saya.

Sebelum itu sempat saya membayangkan perjalanan menuju surga tiba-tiba terhenti. Rakyat beramai-ramai menarik saya gara-gara ketidakmampuan saya memperjuangkan aspirasi mereka. Tapi ucapan Guru Nur Zaenab membuat rasa takut dan ragu itu sirna seketika. Menjelang tiba batas akhir penyerahan formulir, saya kembali mendapat telepon dari sekretaris DPW PPP Jawa Timur. “Mbak Khofifah bagaimana ini? Formulir sudah akan dikirim ke Jakarta pukul tiga sore ini,” katanya. “Baiklah, saya serahkan,” jawab saya. Dan terbawalah formulir itu ke Jakarta.

Bersambung

Penulis: Elly Burhani Faizal (wartawan  Majalah Panji Masyarakat, 1998-2001). Sumber: Panji Masyarakat, 21 Juli 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda