Cakrawala

Keadilan dalam Sebongkah Tulang

Sebuah tulang yang busuk bisa mewujudkan keadilan. Membuat seorang pembesar negeri berlutut di depan rakyat biasa. Mungkinkah itu terjadi?

Adalah Amr bin Ash seorang gubernur Mesir di masa pemerintahan Umar bin Khattab. Ia dikenal sebagai panglima perang, pejabat dan juga politisi ulung di masanya. Ia sahabat dekat  Muawiyah bin Abu Sufyan.

Ketika menjabat gubernur  Mesir ia mengadakan pembangunan besar-besaran di negeri  sungai Nil itu. Salah satu yang dibangunnya adalah mesjid raya yang megah dan besar. Untuk melakukan pembangunan itu ia membebaskan sejumlah tanah milik masyarakat. Namun, pembangunan yang hampir tuntas tersebut sempat terkendala karena sebuah gubuk milik seorang Yahudi menolak untuk digusur dan dibebaskan. Gubernur melakukan dialog secara persuasif dan menawarkan ganti rugi yang tinggi. Namun, si Yahudi tetap bertahan tidak mau dipindahkan Gubernur yang kehabisan kesabarannya terpaksa membongkar secara paksa dan meneruskan pembangunan mesjid hingga selesai.

Ketika melihat gubuk reyotnya sudah lenyap si Yahudi merasa sedih dan tidak tahu kemana harus mengadu. Seseorang memberikan saran untuk melaporkan pada Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

Terdorong untuk mencari keadilan, si Yahudi tersebut berusaha menemui Khalifah Umar. Dengan berjalan kaki berbulan-bulan  sampailah ia di Madinah. Berjumpa dengan seorang yang sedang duduk bersandar di bawah pohon kurma, ia bertanya, “Maaf di mana saya bisa bertemu Khalifah Umar bin Khattab?”.

” Anda siapa,” orang itu balik bertanya.

Ia pun  menyebut namanya,  baru datang dari Mesir, dan  ingin bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab.

 ” Di sini,” orang itu menjawab.

Si Yahudi melanjutkan pertanyaan, setengah tidak percaya, “Anda siapa?”

Orang tersebut menjelaskan, “Saya adalah orang yang Anda cari, yaitu Umar bin Khattab.  Ada apa Anda ke mari?”

Di dalam hatinya si Yahudi masih kurang yakin, apa benar sosok khalifah hanya begini, sedangkan gubernur saja kantornya cukup mentereng.

Dengan menyampingkan rasa keraguannya, dipaksa hatinya untuk menjelaskan,”Ya, Umar, saya minta keadilan.”

 Belum selesai menjelaskan, Umar bin Khattab r.a. menyela, “Apa cukup keadilan saja, tanpa kesejahteraan?”

Si Yahudi melanjutkan, “Ya, saya minta keadilan dan kesejahteraan. Wahai Umar, Gubernur Amru bin Ash bertindak sewenang-wenang, tidak bisa melindungi rakyat terhadap hak-hak yang dimilikinya. Dia telah merampas hakku. Sebidang tanah telah dirampas Gubuk reot telah dihancurkan, padahal saya tidak .punya tempat tinggal yang lain. Semua dilakukan katanya untuk pembangunan. Demi Allah, sampai kapan pun saya tidak rida, tidak ikhlas. Oleh karenanya, jauh-jauh saya datang kemari untuk mencari keadilan.

Mendengar penjelasan tersebut, Umar bin Khattab menjadi sedih dan menangis. Dalam hatinya muncul rasa geram dan kesal, kemudian berkata ,”Saudara, carilah di tempat sampah, barangkali kau temukan tulang, ambil dan serahkan pada saya.”

Si Yahudi bahkan menjadi kaget, pasalnya dia mencari keadilan dan bukan mencari tulang yang busuk.

“Jangan ragu,   bila ada tulang, bawalah kemari,” kata Umar.

 “Ya Umar, saya minta keadilan, tolong perintahkan kepada Gubernur Amr bin Ash untuk membatalkan pembangunan dan pembongkaran itu,” kata si Yahudi menegaskan.

 “Ya sudah, tapi ambilkan dulu tulang itu ke sini,” kata Khalifah.

Dengan rasa  kesal, si Yahudi menuju ke tempat sampah. Dalam benaknya timbul pertanyaan, apa hubungan antara tulang dan keadilan?

Setelah tulang didapat diberikannya langsung kepada Umar bin Khattab, sambil menanti apa yang dilakukan dengan tulang itu. Umar bin Khattab menggambar huruf alif dan pedang pada tulang tersebut, seraya berkata, “Saudara, berikan ini kepada Gubernur Amr bin Ash. Katakan ini dari Umar bin Khattab”

Si Yahudi menerimanya  dengan kecewa karena yang dicari keadilan, tetapi yang diterima hanyalah sebongkah tulang yang harus diberikan kepada gubernur Mesir.  Melihat wajah yang masih tampak ragu, Umar menegaskan lagi, “Sudahlah, berikan saja kepada Amru bin Ash.”

“Tapi yang saya minta keadilan, ya Umar,” kata si Yahudi.

“Justru pada tulang itulah letak keadilannya,” jawab Umar.

Sesampai di Mesir, pembangunan sudah berjalan mulus, bangunan reot milik si Yahudi sudah tidak ada lagi. Pada saat bertemu Amr bin Ash, dia ditanya, “Bagaimana, mau mengambil uang ganti rugi karena rumah pun sudah tiada?”

“Demi Allah, sampai kapan pun saya tidak rela. Masalah ini saya telah ajukan kepada Khalifah Umar bin Khattab, walaupun rasanya sia-sia bertemu dengannya. Bukan keadilan yang saya dapatkan, tapi hanya sebongkah tulang saya terima dan katanya harus disampaikan kepadamu. Saya sungguh kecewa. Jauh-jauh mencari keadilan, yang didapat hanyalah tulang belaka!” kata si Yahudi.

Bersamaan dengan itu tulang diberikan kepada Amru bin Ash.

Mendengar nama Umar bin Khattab   disebut, Amr bin Ash kaget. Apalagi setelah melihat gambar pada tulang tersebut. Ia pingsan! Si Yahudi menjadi terkejut dan terheran-heran. Setelah gubernur siuman si Yahudi bertanya, “Pak Gubernur ada apa ini?”

“Bukankah kau minta keadilan pada Umar bin Khattab? Inilah keadilan yang ditampakkan beliau melalui tulang ini,” jawab gubernur.

“Ketahuilah Saudara, bahwa dengan tulang dan gambarnya punya kesan yang mendalam untuk saya pribadi dari seorang khalifah. Kesan yang tersirat adalah bahwa saya sebagai seorang khalifah harus berlaku adil dan lurus seperti huruf alif. Dan bila ternyata tidak bisa, maka akan dikirim pasukan untuk memenggal kepala saya, karena saya dianggap tidak berguna bagaikan tulang yang engkau serahkan ini,” kata gubernur.

Mendengar penjelasan tersebut, si Yahudi bertambah bingung dan terkagum-kagum. Dalam hatinya ia berkata, sungguh luar biasa Islam ini.

Dalam situasi seperti itu, selanjutnya gubernur memerintahkan. “Bongkar bangunan ini yang sudah berdiri dan dirikan rumah yang bagus untuk si Yahudi di tempat semula dengan biaya dari saya!”

“Sebentar, bukankah kamu telah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk pembangunan itu,” tanya si Yahudi.

“Karena semua ini adalah kesalahan saya, maka saya menebusnya dan saya minta maaf kepadamu,” jawab gubernur.

Kemudian si Yahudi mengucapkan dua kalimat syahadat.

Si Yahudi pun masuk Islam.  Selanjutnya ia berkata, “Wahai Amr bin Ash, demi Allah, sekarang saya tahu, bahwa Islam itu memang adil. Mulai hari ini dengan ikhlas dan penuh rida, saya serahkan tanah dan bangunan kepadamu sebagai wakaf saya.”

Intisari

Demikianlah keadilan Umar bin Khattab seperti dikisahkan dalam buku Kisahkisah dalam Khutbah (Khilma Pustaka, Jakarta, 2007). Sebuah kisah  yang berujung dengan peristiwa yang membahagiakan. Karena akhlak dan sikap yang bijaksana menimbulkan persaudaraan. Seorang masuk Islam karena kesadaran, terpukau dengan ketinggian budi pekerti pemimpin atau khalifahnya.

Selain itu menjadi contoh pula bahwa khalifah Umar bin Khattab menerapkan hukum yang adil. Ia tegas dan tidak tebang pilih, sekalipun itu pejabat tinggi kalau memang bersalah dan berlaku zalim kepada rakyat ia tidak sungkan untuk menindaknya. Hukumnya tajam ke atas dan adil ke bawah.  Sebuah teladan buat pemimpin sekarang dan sepanjang masa.  Allahu ‘alam bissawab.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda