Bintang Zaman

Bisri Syansuri (4): Ikut Membidani Kelahiran NU

Written by Iqbal Setyarso

Bisri Syansuri adalah kiai pertama di Jawa Timur yang membuka pesantren putri. Dia selalu berhasil meyakinkan Kiai Hasyim Asy’ari, termasuk saat mendirikan NU yang nyaris gagal. Toh ia tak selalu mengikuti perintah sang guru.   

Tak lama setelah menikah dengan Nur Khodijah di Mekah, Muhammad Bisri Syansuri pulang ke Tanah Air. Dia putuskan untuk menetap di desa istrinya, Tambak Beras, Jombang, setelah sempat diombang-ambing dengan pilihan untuk menetap di kampung halamannya di Pati, Jawa Tengah. Dua tahun ia menetap di Tambak Beras membantu mertuanya, Kiai Chasbullah,  mengajar dan bertani.

Atas dorongan mertua dan izin gurunya, Kiai Hasyim Asy’ari, Muhammad Bisri mendirikan pesantren di Denanyar, masih di kawasan Jombang, pada 1917. Mula-mula ia hanya menerima santri putra, seperti halnya pesantren lain di Jawa Timur. Tapi tiga tahun kemudian ia melakukan eksperimen. Yakni membuka kelas khusus untuk santri putri, yang ia tempatkan di belakang rumahnya. Santriwati ini umumnya adalah anak-anak para tetangga. Ternyata itulah kelas khusus santri putri pertama di Jawa Timur. Langkah ini sempat dicermati Kiai Hasyim Asy’ari. Namun tak pernah terdengar kritik atau teguran, padahal Kiai Bisri tak pernah minta izin untuk eksperimennya itu.

Ketika Wahab Chasbullah kembali di Air dan kemudian aktif dalam forum diskusi Tashwirul Afkar di Surabaya bersama KH Mas Mansyur, Bisri selalu diajak serta. Begitu juga ketika Kiai Wahab bersama sejumlah kiai (yang kemudian menjadi pemrakarsa berdirinya NU) membentuk Komite Hijaz. Ini adalah delegasi ke Mekah saat terjadi perubahan kekuasaan di Semenanjung Arabia yang dikhawatirkan akan membawa implikasi, termasuk dalam hal tata pelaksanaan syariat Islam. Mereka bertugas melobi Raja Ibnu Sa’ud, yang beraliran Wahabi, agar memberi keleluasaan dalam pelaksanaan syariat Islam berdasarkan empat mazhab.

Muhammad Bisri juga terlibat dalam pertemuan 31 Januari 1926 di Kertopaten, Surabaya, yang diprakarsai Kiai Wahab Chasbullah. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan jam’iyah atau perkumpulan para ulama yang diberi nama Nahdlatul Ulama (NU), Kebangkitan Ulama.

Sebelum itu pun Bisri setia mendampingi Wahab Chasbullah. Ia banyak berperan sebagai penghubung kakak iparnya itu dengan Kiai Hasyim, karena Hadratusy Syekh mula-mula tidak menerima begitu saja gagasan  pendirian organisasi ulama. Ada situasi kritis saat pertemuan di Kertopaten, akhir Januari 1926  Itu.  Menjelang acara dimulai, Kiai Hasyim yang dituakan belum muncul jua sehingga pembentukan organisasi terancam gagal. Pengalaman sebelumnya membuktikan, jika ada gagasan yang belum mendapat restu Kiai Hasyim, Bisri-lah yang diminta melakukan pendekatan – dan selalu berhasil. Maka diutuslah Bisri untuk mengemban tugas menjemput sang guru di Tebuireng. Dan pilihan itu tepat. NU pun lahir sebagai jam’iyah yang di kemudian hari sangat berpengaruh dalam perkembangan dakwah dan politik di Tanah Air.

Begitu NU terbentuk, Bisri dipercaya sebagai a’wan (pembantu) dalam susunan Hoofdbestuur (pengurus besar). Ia aktif menjadi penghubung PB dengan pengurus NU di Surabaya dan di daerah pantai utara Jawa Tengah, daerah kelahirannya.

Ketika Kiai Hasyim Asy’ari selaku pemimpin pucuk NU membuka “kelas musyawarah” untuk kiai-kiai muda dari berbagai daerah, Bisri dan Wahab aktif mengikuti. Tak jarang, kedua kiai muda yang memiliki pendekatan berbeda ini, terlibat perdebatan seru. Kiai Bisri dengan pendekatan fikihnya yang ketat, dan Wahab dengan pendekatannya yang longgar. Biasanya kalau pendekatan berlangsung sedemikian rupa alias memanas, Kiai Hasyim menengahi. Dan perdebatan pun selesai.

Pernah satu waktu Bisri dan Wahab kena tegur Kiai Hasyim. Ini gara-gara kedekatan mereka dengan tokoh Muhammadiyah  Jombang, Kiai Abdul Mu’thi. Biasanya mereka sangat menurut pada ucapan Hadratusy Syekh. Tapi untuk satu ini tidak rupanya. Kiai Wahab malah sempat membantah, sedang Bisri diam meskipun diam-diam tetap berhubungan dengan Kiai Mu’thi. Ia bahkan tetap memberi kesempatan kepada tokoh Muhammadiyah itu untuk mengisi acara keagamaan di Pesantren Denanyar yang kala itu baru tumbuh.

Di kalangan warga NU, kenangan penuh teladan ihwal KH Muhammad Bisri Syansuri yang kemudian lebih akrab disapa Mbah Bisri itu amatlah banyak. Mengupas sikap-sikapnya semasa hayatnya terasa tetap aktual di zaman sekarang., kendati ia sudah lama berpulang: 25 April 1980, di usianya yang 94. Padahal waktu itu belum genap satu tahun sejak ia dikukuhkan menjadi Rais Aam PB NU pada muktamar di Semarang.

Bersambung.

Sumber: Panji Masyarakat, 28 Juli 1999

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda