Tafsir

Tafsir Tematik: Umat Terbaik dan Tafsiran Baru (5)

Written by Panji Masyarakat

Adalah kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah…. (Q. 3: 110)

“Musuh-musuh Islam adalah tonggak yang ampuh dipakai. Untuk sebagian istilah itu terbentuk dari pengalaman konkret, sebagian sebagai hasil idealisasi.  Adalah kesadaran terhadap “musuh Islam”, atau, lebih netral, “golongan mereka”, yang menyebabkan amar makruf nahi mungkar terdinding dari semua kenyataan sejenis yang ditampilkan Kuntowijoyo. Hampir tidak satu kalangan Islam memperhatikan proses-proses yang disebutkannya. Dan hampir tidak satu kalangan yang berdakwah, beramar makruf dan nahi mungkar pada landasan persepsi ini.

Sebabnya: adanya “musuh Islam” yang tetap merupakan ancaman, yang mutlak mengharuskan persekutuan dengan pemerintah – yang alhamdulillah sudah “lebih Islam” dan “makin Islam”, terbukti dari tindakannya menyingkirkan mereka yang dinilai pernah menorehkan luka pada tubuh umat dan lebih menggenggam erat simbol-simbol agama. Majelis Ulama, misalnya, adalah jembatan ulama dan umara, alias pemerintah dan umat muslimin, yang setelah masuknya masa “bulan madu” pemerintah dan umat tinggal menjadi peneguh dan pemberi fatwa.

Di luar jantung-jantung umat di pelosok-pelosok, dunia “ulama resmi” tenteram dan damai di dalam kotak “pembangunan spiritual”. Bukan tak ada kegiatan nahi mungkar (judi, pelacuran, minuman keras, misalnya saja) dalam posisi mereka. Bukan isu-isu universal, memang, dan lebih dari itu yang lebih tertebar adalah budaya “memakai tiap kesempatan”, demi Islam, yang berarti fasilitas lewat kedekatan dengan pemerintah – hal yang juga dilakukan oleh kelompok-kelompok non-Islam dengan menteri-menteri yang seagama, paling tidak di hari0hari sebelumnya, khasnya menteri di pos-pos yang penuh duit. Berikutnya, sebagian ormas Islam mengambil keputusan-hidup mati membela pemerintah, “dengan pedang di tangan”.

Bisa dipahami bila, kalau saja tidak ada Amien Rais, anak ajaib yang cukup kontroversial dari ibu kandung Muhammadiyah, reformasi tidak datang dari umat mayoritas ini. Ribuan mahasiswa, penggerak utama, ratusan ribu mahasiswa, hanya sebagian kecil berada di bawah wibawa para pemuka Islam. Seakan ayat tentang ‘umat terbaik’ bukan untuk anak-anak muda ini. Amar makruf dan nahi mungkar bukan misi dengan subjek sasaran yang berada dalam pikiran mereka. Tak mereka sadari, barangkali saja,  justru mereka pembuka gerbang pelaksanaan ketiga tugas di dalam ayat yang oleh Kunto diberi tafsiran baru, sementara untuk yang sebagian mereka sendiri pelaksananya – sampai rezim yang lama (Orde Baru, ed) jatuh, dan Tanah air memasuki babakan baru. Tapi ini hanya satu fase.***        

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 2 Desember 1998.

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda