Hamka

Hamka “Menengahi” Marx dan Tjokroaminoto

Indahnya Islam “takkan sanggup” dibuat bercacat oleh ideologi lainnya. Komunisme sekalipun. Adalah Haji Oemar Sa’id (H.O.S) Tjokroaminoto, satu dari sekian orang yang tidak alergi terhadap pemikiran Marx. H.O.S. (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto sendiri digelari “Yang Utama”, beliau diakui sebagai guru para pendiri bangsa ini. Bahkan beliau berpandangan bahwa ajaran Islamlah yang pantas mengajarkan Sosialisme yang sejati, bukan yang lain. ”Bagi kita orang Islam, tidak ada Sosialisme atau rupa-rupa isme yang lain-lainnya yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia selain sosialisme yang berdasarkan Islam.” (Tjokroaminoto, dalam buku fenomenalnya: Islam dan Sosialisme, yang terbit pertama kali pada tahun 1924). Pemikiran HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) bagi penikmat/intelektual abad XI bisa menjadikan salah satu karya yang terbesarnya, Tasawuf Modern menyandingi penyanding pemikiran Tjokroaminoto.

Ikhtiar “menengahi” ini, terutama karena HAMKA telah mempelajari marxisme melalui kursus kader Sarekat Islam – organisasi yang pernah di pimpin Tjokroaminoto. Dalam kursus yang diikuti HAMKA, selain Tjokroaminoto yang mengampu Islam dan Sosialisme, juga mengajarkan Ilmu Sosiologi (diampu Soerjopranoto), serta Dasar-dasar Pokok Hukum Islam (diampu K.H. Fachruddin).

Dalam kursus itu HAMKA mengungkap pandangannya dengan jernih tanpa tendensi minor. Katanya tentang pengajarnya itu,”Ketiga guru saya adalah orang-orang pergerakan yang telah memandang Islam dengan cara baru. Waktu itulah saya mulai mengenal Komunisme, Sosialisme, Nihilisme. Waktu itulah saya mulai mendengar nama Marx, Engels, Prudhon Bakounin, dan lain-lain,” ungkapnya dalam Amelz (1952).

HAMKA pun mengatakan,“ Beliau dalam kursusnya tidak mencela (Karl) Marx dan (Friedrich) Engels, bahkan berterima kasih kepada keduanya sebab teori Histori Materialisme Marx dan Engels telah menambah jelasnya bagaimana kesatuan sosialisme yang dibawa Nabi Muhammad, sehingga kita sebagai orang Islam merasa beruntung sebab tidak perlu mengambil teori yang lain lagi,” sebut Malik, nama HAMKA saat masih menjadi peserta kursus kader Sarekat Islam, sebagaimana disitir Amelz (1952)

“Bilamana tiba giliran beliau Tjokroaminoto, mulailah majelis tenang dan diam, dan mulailah timbul kegembiraan di wajah-wajah para kursusisten (peserta kursus)….” Amelz melanjutkan, mengutip HAMKA    ”…saya seakan-akan bermimpi,” masih menyebut penukilan kesan HAMKA muda, sosok yang sangat mengagumi Tjokroaminoto. Amelz masih meneruskan nukilannya,“…akhirnya bertemu juga olehku orang yang telah lama namanya mempengaruhi jiwaku. Dengan asyik, beliau menerangkan sosialisme dari segi Islam berdasarkan ayat dengan menuliskan nomor-nomor ayat, dengan hadis dengan menuliskan arti dan perawinya,” demikian HAMKA bercerita seperti tertera dalam kutipan Amelz.

Dari sekian banyak artikel yang pernah ditulis Tjokroaminoto, ada dua judul yang paling mencuri perhatian, yakni “Apakah Sosialisme Itu” dan “Sosialisme Berdasar Islam.” Dua tulisan ini dimuat di surat kabar resmi SI, Oetoesan Hindia, yang terbit perdana pada 1 Januari 1913. Selanjutnya, pada November 1924, Tjokroaminoto menerbitkan buku dari hasil pemikirannya dengan judul Islam dan Sosialisme.

Tjokroaminoto tidak pernah alergi dengan sosialisme yang memang sedang bersemi di Indonesia pada awal dekade ke-2 abad ke-20 itu. Ia bahkan dengan serius mempelajari sosialisme, kendati turunan dari paham inilah yang akhirnya membelah organ dalam SI dan melahirkan wadah baru yang nantinya memakai nama Partai Komunis Indonesia (PKI).

Mendamaikan Tasawuf dan Fiqih

Rentang masa HAMKA bersua Tjokro, memang jauh. Proses intelektual HAMKA juga membuat bersua dengan berbagai pandangan. Tersebutlah salah satunya, kitab klasik karya Al-Jauzi, Ta’lim al-Muta’alim menyatakan,

Tafaqqah fainna al-fiqha afdali qaidi/ila al-birri wa tuqa wa a’dalu qashidi/huwa al-ilmu al-hadi ila sunan al-huda/wa khismu yunji mkin jami’ al-syadaidi/belajar fiqih, karena sesungguhnya fiqh itu merupakan sebaik-baiknya pemandu/Ke arah kebaikan dan ketakwaan/Fiqh adalah ilmu yang mengantarkan manusia ke jalan Allah/Dan benteng yang sanggup melindungi manusia dari segala siksa dan nestapa/

Dalam pandangan masyarakat Muslim sendiri, yang disebut ulama selaku panutan umat, pada kenyataannya adalah para ahli fiqh (Hafidz dkk, 2020). Maka, ketika kehidupan beragama terjatuh pada acara berpikir fiqh, yang hampir menekankan tuntutan keabsahan formal-lahiriah, maka reaksi balikpun tidak bisa dielakkan. Dalam sejarah Islam abad pertengahan, mengkritisi sikap Muslimin yang terlalu berorientasi kukuh pada standar-standar fiqhiyah, sehingga muncul gerakan keagamaan yang secara ekstrem menekankan segi-segi esoterik-batiniah. Demikian juga munculnya gerakan kebatinan di tanah air dalam ukuran tertentu juga bisa dijelaskan dari proses tarik-menarik secara dialektis dengan kecenderung batiniah dan lahiriah dari keberagamaan yang dibidangi oleh fiqh.

Reaksi itu sepenuhnya bisa difahami dan menyehatkan, karena yang pada akhirnya yang dituntut adalah keseimbangan antara dimensi lahiriah dan batiniah dari keberagamaan. Dimensi batiniah dicoba ditegakkan kembali oleh gerakan tasawuf ini mencakup dua aspek; moralitas dan spiritualitas. Moralitas sasarannya untuk menjamin kualitas prilaku manusia atas sesama, dan terhadap alam semesta. Peneguh spiritualitas dimaksudkan untuk                menjamin kualitas hubungan ke atas, dengan Tuhan sebagai sumber eksistensi diri dan juga semesta.

Dua dimensi prilaku ini tidak bisa dipisahkan. Spiritualitas merupakan basis dari yang moralitas sedangkan moralitas merupakan wujud yang sangat otentik dari spiritualitas. Dalam ungkapan yang tipikal sufisme dikatakan bahwa esensi keberagamaan adalah keluhuran budi dan kedekatan dengan Tuhan. Ulama pun berikhtiar menghadapi “kontras diametral” kecenderungan fiqhisme versus sufisme dengan menyeru:

Man tafaqqaha bi ghairi tashawwufin tafassaqa; waman tashawwafa bi ghari tafaqquhin tazandaq/ barangsapa ber-fiqh tanpa tasawuf, maka bisa menjadi fasik, bertasawuf tanpa ber-fiqh bisa menjadi zindiq.”

Pembaca modern (abad 21) merasakan elan yang sama dengan harapan yang pernah dititipkan HAMKA melalui Tasawuf Modern (1937-an, diterbitkan kembali oleh penerbit (Republika Penerbit, 2015). Masyarakat modern pun bak menemukan oase intelektualnya –antara lain pada pustaka Karya HAMKA. Khalayak diyakini masih menyerap penerbitan kembali karya HAMKA itu, sebagaimana optimisme yang muncul dari pihak Republika Penerbit ketika menerbitkan karya HAMKA pertama kali pada event Islamic Book Fair 2015 silam.  Karya yang ditunggu, yang menjadi klasik sekaligus karya terbesar HAMKA: Tafsir al-Azhar (5 jilid). Ini karya gemilang HAMKA. Tafsir Al-Quran 30 juz itu (tafsir itu dimulainya tahun 1960, salah satu dari 118 lebih karya yang dihasilkan Buya HAMKA semasa hidupnya). Keragaman bidang yang diulas HAMKA juga kompleks. Antara lain: politik (Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret, Urat Tunggang Pancasila), sejarah (Sejarah Ummat Islam, Sejarah Islam di Sumatera), budaya (Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi ), akhlak (Kesepaduan Iman dan Amal Salih), dan ilmu-ilmu keislaman (Tasawuf Modern). Saat tidak beraktivitas termasuk politik, HAMKA pun mengisi kuliah subuh di Masjid Al-Azhar di Jakarta Selatan.

Membaca Tjokroaminoto dan Sosialisme

Kembali pada Tjokroaminoto. Pemaknaan sosialisme, kata Tjokroaminoto,”…pokoknya sosialisme yang sejati, yaitu sosialisme cara Islam (bukan sosialisme cara Barat).” Beliau menerangkan empat rupa Islam,” 1. Islam –menurut pokok kata aslama, menurut kepada Allah dan kepada utusanNya dan kepada pemerintahan yang dijadikan daripada umat Islam (Ya ayyuhalladzina amanu athi’ullaha wa’athiur-rasula wa ulilamri minkum). 2. Islam –menurut pokok kata salima, makna: selamat. Tegasnya: apabila orang dengan sungguh-sungguh menjalankan perintah-perintah agama Islam, maka tak boleh tidak ia akan mendapat keselamatan di dunia ini dan keselamatan di akhirat, karena orang Islam itu harus bertabi’at selamat, begitulah menurut hadits sabda Nabi yang suci Muhammad s.a.w.: Afdhalul mukminina islaman man salimal muslimuna min lisanihi wayadihi, artinya” orang mukmin yang teranggap utama dalam pada menjalankan agama Islam, ialah mereka yang mempunyai tabi’at selamat, yang menyelamatkan sekalian orang Islam, karena daripada bicaranya dan tangannya; 3. Islam, menurut pokok kata salmi, maknanya rukun. Tegasnya: orang yang menjalankan agama Islam haruslah rukun (An aqimuddina wala tatafarraq fihaI. Hendaklah kamu mendirikan agama (Islam) dan janganlah (kamu) sama berselisihan. 4. Islam, menurut pokok kata sulami yang maknanya” tangga, ialah tangga atau tingkat-tingkat untuk mencapai keseluruhan dunia dan keseluruhan akhirat. Jikalau orang Islam dengan bersungguh-sungguh mejalankan agamanya, maka tidak boleh tidak mereka akan mencapai derajat yang tinggi sebagai yang telah dijalankan oleh khulafaurrasyidin.” (dalam Herdi Sahrasad [editor], 2000)

Pada bagian yang sama, lanjutan pandangan Tjokroaminoto pada subbab Islam dan Anasir-anasir Sosialisme. Tjokroaminoto menguraikan kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan.

Kemerdekaan: Tiap-tiap orang Islam tidak harus takut kepada siapa atau apa pun juga, melainkan diwajibkan takut kepada Allah saja. “Lahaula wala kuwwata illa billah.” (Tidak ada pertolongan dan kekuatan, melainkan dari[ada Allah belaka). “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. (Hanyalah Tuhan saja yang kita sembah dan hanyalah Tuhan sendiri yang kita mintai pertolongan).

Beberapa orang Arab, yang tidak biasa tinggal berumah tetap, belum pernah melihat rumah batu, yang dulu dengan pakaiannya yang buruk dikirimkan menghadap raja-raja Persi dan Roma yang berkuasa, meskipun raja-raja ini memertunjukkan kekuasaan dan kebesarannya, orang-orang Arab tadi tiadalah menundukkan badannya dan kelihatan tidak takut bertakut sedikit pun juga di mukanya raja-raja tadi…. Quran yang suci menyatakan: “Kemurahan, yang Tuhan akan mengaruniakan sebanyak-banyak kepada manusia, tiadalah dapat dicegahkan oleh siapa pun juga; varang apa yang Tuhan mempertegahkan. Tiadalah dapat dikaruniakan kepada manusia kalau tidak dengan perantaraan Tuhan, dan Dialah yang kuasa dan berpengetahuan (Surah XXXV)

Persamaan: Tentang “persamaan” maka orang-orang Muslimin dalam zaman dulu bukan saja semua anggap dirinya sama, tetapi mereka semua juga anggap menjadi satu. Diantara orang-orang Muslimin tidak ada sesuatu perbedaan yang mana pun juga macamnya. Dalam pergaulan hidup bersama diantara mereka tidak ada perbedaan derajat dan tidak ada pula sebab-sebab  yang boleh menimbulkan perbedaan klas. Tentang hal ini Khalifah Sayidina Umar r.a. adalah sangat kerasnya. Salah satu suratnya menceritakan satu perkara yang menunjukkan asas-asas dengan seterang-terangnya….

Persaudaraan: Persaudaraan diantara orang-orang Islam satu sama lain adalah sangat bagusnya. Rasa cinta diantara mereka itu seperti rasa cinta saudara yang sebenar-benarnya. Di dalam firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan sendiri menaruh kecintaan dan rasa persaudaraan di dalam hatinya tiap-tiap orang Islam akan dan mencintai dan merasa bersaudara kepada sesama Islam. “Dan Tuhan menaruh kecintaan di dalam hati mereka itu. Meskipun kamu (Muhammad) telah memberikan segala apa yang ada di dalam dunia, tiadalah kamu akan dapat menjadikan kecintaan di dalam hati mereka. Tetapi Tuhan telah menjadikan kecintaan diantara mereka itu,” begitulah firman Tuhan di dalam Al-Quran. Adalah pula satu dua ayat di dalam Quran, yang maksudnya harus saya buka di sini seperti yang berikut,

“Peganglah kokoh tali Tuhan yang mengikat semuanya, janganlah menimbulkan percerai-beraian dan ingatlah akan kemurahan Tuhan kepada kamu, ketika Tuhan menaruh kecintaannya di dalam hatimu pada kalanya kamu bermusuhan satu sama lain, dan sekarang kamu menjadi saudara karena karunia Tuhan.”

                Sabda Nabi kita tentang persaudaraan:

“Orang-orang Islam adalah saudara di dalam agama dan tidak boleh tindas-menindas satu sama lain, juga tidak boleh melalaikan tolong-menolong satu sama lain, juga tidak boleh hina-menghina satu sama lain.”

“Barang siapa tidak mencintai makhluk Tuhan dan kepada anak-anaknya sendiri, Tuhan tidak akan mencintai dia.

“Tidak seorangpun mempunyai kepercayaan yang sempurna, sebelum ia mengharapkan bagi saudaranya barang yang dia mengharap bagi dirinya sendiri.

Cita-cita persaudaraan yang disiarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah begitu luasnya, sehingga Nabi kita telah minta kepada orang-orang yang mengikuti dia, hendaklah mereka berlaku di atas dia sebagai saudaranya sendiri (Sahrasad [editor], ibid.)

Tokoh kelahiran Sungai Batang, Tanjung Raya, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 ini, telah berpulang  di Jakarta, 24 Juli 1981 pada usia 73 tahun. Cuplikan dari pandangan H.O.S. Tjokroaminoto ini, kalau ditilik zaman sekarang, menyadarkan kita kedalaman refleksi beliau atas Islam (dan sosialisme [Islam]). Dengan “tafsir” seorang HAMKA, sangat realistis kalau jauh sesudah era H.O.S. Tjokroaminoto berlalu, “jejak pemikiran” HAMKA muncul dalam Tasawuf Modern yang didedikasikan untuk zaman pasca Kemerdekaan (getarannya masih terasa, baik saat terbit pertama kali maupun saat ini). Menautkan perspektif Tjokroaminoto-HAMKA, seolah menyegarkan publik bagaimana kedua tokoh itu –dengan sosialisme sekaligus Islam- saling berkelindan.

Rujukan:

Amelz, H.O.S. Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya, 1952

Hafidz, Masykuruddin, dkk, Kiai Masdar Membumikan Agama Keadilan, 2020

Sahrasad, Herdi, Islam, Sosialisme dan Kapitalisme, Madani Press, 2000

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda