Jejak Islam

Ragam Seni Mushaf Nusantara (2)

Written by Panji Masyarakat

Sejumlah Mushaf Nusantara yang dibuat para ulama kita pada abad-abad 17-18 kini tersimpan di ruang pamer Museum Bayt al-Quran di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Jakarta Timur. Lembar-lembar teks Alquran yang  memiliki nilai seni tinggi tampak rapuhdimakan rayap. Kehadiran kitab-kitab kuno itu memang bukan untuk dibaca, tapi untuk dinikmati keindahannya. Mungkinkah?

Kitab-kitab dengan kover warna cokelat kusam itu tampak rapuh. Dan kotak kacalah yang menghalangi tangan-tangan yang tergoda untuk menyentuh atau membuka-bukanya. Untunglah kitab-kitab itu terbuka — karena itu kita bisa membacanya, walaupun hanya dua halaman — dan tampak lembaran-lembaran kertas berwarna coklat muda yang di sana-sininya terdapat bercak hitam. Bagian pinggir lembaran-lembaran kitab itu sudah gripis dimakan rayap, seperti tak kuat dimakan usia.

Orang  lekas paham bahwa kitab-kitab itu barang kuno. Sistem pencahayaan memadai menjadikan kitab-kitab tersebut tampak hidup dan menarik.

Itulah pemandangan di ruang pamer Museum Bayt al-Quran, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Kitab-kitab itu memang bukan untuk dibaca, tapi untuk dilihat. Dan tentu saja untuk dinikmati keindahan tulisannya yang beraneka.    

Kitab-kitab antik yang menghuni kotak kaca itu tidak lain Alquran. Lembaran-lembaran di dalamnya, merupakan tulisan tangan para penyebar Islam di bumi Nusantara pada abad-abad ke-17-19 M.  Ada yang mengatakan, pada abad ke-16 M mushaf sudah ditulis di Nusantara, yaitu pada masa Kerajaan Islam Ternate. Namun Mushaf Maluku, demikian orang kemudian menamakannya, sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya.

Lembar-lembar Alquran yang ditulis beberapa abad lalu itu disebut Mushaf Nusantara. Daya tarik mushaf-mushaf Nusantara tidak hanya terletak pada kekunoannya, melainkan juga ragam seni yang mengelilingi teks-teks Alquran pada tiap lembarnya. Setiap mushaf juga mem perlihatkan ciri-ciri asal daerahnya. Jadi, seperti halnya ada Mushaf Maluku tadi, maka ada pula Mushaf-mushaf Aceh, Sunda, Jawa, Kalimantan, dan seterusnya.

Selain beberapa mushaf  kuno, di ruang pamer museum tersebut juga terdapat beberapa jenis mushaf yang belum berusia sepuluh tahun. Berbeda dengan jenis warna yang digunakan pada pembuatan mushaf kuno, mushaf kontemporer tersebut telah menggunakan warna yang lebih kompleks. Ini disebut Mushaf Nusantara kontemporer. Meskipun dibuat belakangan, ragam seninya tidak sama sekali meninggalkan corak ragam pada mushaf kuno.

“Tapi, apa iya sih, indahnya mushaf bisa membangkitkan gairah mengkaji kitab suci itu,”  ujar Syarifah  dari Bekasi. Tujuan ibu dua anak ini berada di Museum Bayt al-Quran  itu tak beda dengan niatan puluhan pengunjung lainnya, yakni sekadar berekreasi bersama keluarga. Bayt al-Quran, yang dibuka pada tahun 1997, memang tempat penyimpanan dan pameran berbagai jenis mushaf  Nusantara. Meski tak pernah amat ramai, museum ini tak pernah tanpa pengunjung. “Sambil berekreasi di kawasan ini, aku  hanya pingin tahu aja seperti apa sih Alquran kuno itu,”ujar Nadia, salah seorang pengunjung. “Wow, boleh juga selera seninya. Rumit,” komentar pengunjung lainnya bernama, Iwan, dengan nada khas ke- ABG-an-nya, tapi tampak serius.

Apresiasi Iwan boleh dibilang maju. Sebab tidak semua orang bisa mengikuti secara tepat filosofi berbagai jenis mushaf Nusantara itu dibuat. Soalnya, tidak sebagaimana seni membaca Quran atau qiraah yang tiap orang bisa langsung menikmati keindahan alunan nadanya. Ornamen-ornamen dalam mushaf Nusantara memiliki gaya sendiri-sendiri, meski masing-masing mempunyai kekhasan karakter dan mencerminkan budaya lokal.

Bersambung     

Penulis: Agung Y. Achmad, wartawan majalah Panji Masyarakat, 1997-2001, redaktur majalah Panjimas, 2002-2003.. Kini penulis lepas, atara lain untuk kolom bahasa majalah Tempo. Sumber: Panjimas, 6-19 Februari 2003.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda