Cakrawala

Makna Jihad dan Syahid untuk Mencegah Bom Bunuh Diri

Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makassar (28/3-21) cukup.mengejutkan. Menimbulkan korban pada sekitar 20 orang, pelakunya menurut polisi  diduga pasangan suami isteri yang bernama Lukman dan Yogi Sahfitri Fortuna.

Selang sehari setelah bom katedral Makassar, polisi juga menangkap empat orang terduga teroris di Condet dan Bekasi dengan barang bukti bom aktif.

Menurut polisi motif pelaku bom diri Katedral Makassar  — berdasarkan surat wasiat yang disampaikan pada orang tuanya–karena ingin mati secara syahid.

Kasus bom di gereja Katedral Makassar bukanlah bom bunuh diri pertama. Sebelumnya,  tahun 2009 juga terjadi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Ritz- Carlton yang menewaskan 9 orang dan melukai 50 orang. Pada bom Bali 1 dan bom Bali 2 tahun 2002 dan 2005 masing- masing menewaskan 202 dan 23 orang,  sedangkan yang luka 209 dan 196 orang.

Sampai saat ini  menjadi tanda tanya,  benarkah setiap pelaku bom bunuh diri melakukan tindakan brutal tersebut karena keyakinan agamanya. Dan kalau benar sejauh mana tindakan tersebut dibenarkan.Tidakkah itu tindakan yang salah?

Para pelaku bom bunuh diri umumnya menolak kalau dikatakan itu bom bunuh diri. Mereka menyebutnya sebagai bom syahid.

Pemahaman syahid sebagai konsekuensi dari  jihad sebagai disebut dalam Al-Quran dan Hadis memiliki nilai kemulian yang tinggi. Karena itu jihad dan syahid menjadi sebuah doktrin yang menjadi motivasi pelaku bom teroris.

Namun, dalam hal ini jihad tidak selalu diartikan dengan perang. Makna jihad, menurut A.M. Hendropriyono dalam desertasinya tentang terorisme, harus dipahami dalam konteks mengantarkan umat Islam sebagai khalifah Allah untuk membangun peradaban agung. Sejauh ini, peradaban Islam adalah suatu usaha konkret menancapkan ajaran jihad di setiap sudut dunia. Hanya, menurut Hendropriyono, dalam sejarah peradaban pula, ajaran jihad tereduksi menjadi gerakan teror yang dilandasi oleh rasa kebencian dan dendam, bukan terkait erat dengan kondisi tertentu yang menuntut pertahanan dan pembelaan diri (A.M. Hendropriyono, Terorisme Fundamentalisme Kristen, Yahudi, Islam, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2009, hal. 414-415).

Sementara jihad dalam arti perang dalam Quran disebut qital. Dan qital dalam Islam hanya dibolehkan untuk mempertahankan diri. Hal ini dengan tegas dikatakan dalam Al-Quran surat al-Hajj ayat 39-41 dan al-Baqarah ayat 193.

Dengan jelas disebutkan, perang hanya diizinkan untuk.menangkis serangan, menghentikan kezaliman, penganiayaan, melawan karena diperangi, diusir dari negerinya  karena tidak bisa menjalankan agamanya. Kalau kekacauan ini sudah berhenti dan tidak ada lagi penyerangan maka perang wajib dihentikan.

Dengan demikian ada perbedaan makna yang jelas antara jihad dan qital. Tampaknya qital tidak bisa disinonimkan dengan jihad. Jihad bukanlah qital atau harb atau darul harb (perang). Jika dirujuk ke sejarah Rasul maka qital dalam arti perang ketika beliau sudah ada di Madinah mengendalikan pemerintahan. Ketika di Makkah, Nabi Muhammad saw sangat menderita, termasuk pengikut dan sahabatnya dalam situasi penuh ancaman, tetapi tidak dilawannya kezhaliman musuh, padahal dia menjadi sasaran dan jiwanya  setiap hari terancam.  Hanya, ketika telah hijrah ke Madinah Nabi melakukan peperangan, itupun karena kaum musyrik berusaha menghancurkan agama Islam yang dikembangkan Rasul.

Ini artinya, ketika Nabi di Makkah ia telah menjadikan jihad sebagai  keyakinan teologis untuk perjuangan mensyiarkan Islam. Sehingga,  betapapun penderitaan yang dialami Nabi dan para pengikutnya mereka tidak kendor semangatnya untuk tetap memeluk Islam dan mendakwahkan pada yang lain.

Makna jihad  yang jauh dari perilaku  kekerasan dimaknai pula oleh para komunitas sufi dalam bentuk dua dimensi, yaitu jihad asghar dalam arti perang, dan jihad akbar dalam makna semua aktifitas batin untuk mensucikan jiwa dari segala hawa nafsu dan ketidak sempurnaan, atau aktifitas batin yang berujung pada pengembangan etik-moralitas luhur. Jihad akbar memiliki keutamaan lebih ketimbang dari jihad melawan musuh dalam peperangan ( A.M. Hendropriyono, ibid. 415-416). Nabi Muhammad sepulang dari Perang Badar, sebuah perang besar  pertama dalam Islam mengatakan, ” Kita baru pulang dari sebuah perang kecil menuju perang besar. Sahabat bertanya, apa itu perang besar ya Rasul. Nabi menjawab,” Perang melawan nafsu” (Raja’na min jihadil asghar ila jihadil akbar. Jihadun nafsu).

Makna jihad yang dilakukan dalam bentuk teror sesungguhnya memiliki kelemahan. Disamping mengorbankan diri sendiri, sasarannya sering terkena orang yang tidak bersalah. Citra dan stigma Islam dan orang Islam menjadi negatif yang lekat dengan kekerasan.

Bagi Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Maarif, menempuh jalan hidup radikal, apalagi dengan melakukan harakiri bukanlah pilihan yang bijak. Cara itu dianggap sebagai keputusasaan dan ketidakmampuan untuk hidup yang bermakna. Radikalisme atas nama agama menunjukkan kekurangberanian menghadapi kehidupan yang bergerak dengan sangat cepat dengan berbagai tantangan yang memang tidak sederhana (Lihat dalam KH Dr.dr. Tarmizi Taher,dkk,  Meredam Gelombang Radikalisme, CMM dan Penerbit Karsa Rezeki, Jakarta, 2004, hal.54).

Namun, bagi Prof. Azyumardi Azra, CBE, kasus semacam bom bunuh diri di gereja Katedral  Makassar adalah perbuatan biadab, kejahatan kemanusiaan, pelanggaran agama dan hukum negara. ” Aparat Polri agar segera dapat menemukan jaringan dan otak sel-sel teroris dan membawa mereka ke meja hijau,” tandas, cendekiawan muslim ini.

Dalam jangka panjang mengatasi radikalisme dan  terorisme adalah dengan mengembangkan wawasan keagamaan yang luas dan komprehensif. Pemahaman agama yang simplistik merupakan salah satu penyebab munculnya  radikalisme yang dengan mudah membenarkan tindakan kekerasan  dengan alasan agama.

Pemahaman agama yang moderat dan menumbuhkan sikap  toleransi  salah satu upaya mencegah munculnya bibit radikalisme. Termasuk dalam hal ini makna jihad harus dipahami bukan dalam arti perang  dan kekerasan, tapi maknanya harus ditekankan pada usaha serius dan sungguh-sungguh  berbuat kebaikan, amal shaleh dan fastabiqul khairat.

Jihad kebaikan dan kemanusiaan pasti menarik simpati pada Islam dan umat Islam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda