Adab Rasul

Bukan Soal Kaya atau Miskin

Written by A.Suryana Sudrajat

Suatu hari Rasulullah s.a.w. didatangi Jibril. Malaikat petugas pembawa wahyu ini menyampaikan pertanyaan dari Allah SWT. Yakni manakah yang paling dia sukai: Menjadi nabi yang kaya-raya sebagaimana Sulaiman a.s. atau jadi nabi miskin seperti Ayub a.s.?

Rasulullah s.a.w. tidak menjawab apakah dia   ingin seperti Nabi Sulaiman yang tajir atau Nabi Ayub yang kere. Melainkan bahwa dia lebih suka makan sehari dan lapar sehari.

“Mengapa begitu?” Jibril bertanya

“Di waktu kenyang saya bersyukur kepada Allah, dan di waktu lapar saya mohon ampun kepada-Nya,” Rasulullah menjawab.

Bagi Rasulullah s.a.w. baik kekayaan maupun kemiskinan kedua-duanya sama nikmat. Menurut istilah orang sekarang, Nabi sudah mengalami proses transendensi. Tak lagi terbelit ikatan dunia. Sudah terbebaskan dan hanya terhubung dengan Allah SWT. Yang demikian ini juga tampak  dalam kehidupan para aulia.

Nabi pernah menyatakan bahwa kaya itu bukan lantaran banyak harta, sebab kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. Orang yang berjiwa demikian disebut qana’ah. Yakni, seperti dikatakan Buya Hamka (Tasawuf Modern) orang yang menerima dengan rela apa yang ada; memohon kepada Tuhan tambahan yang pantas , dan berusaha; menerima dengan sabar ketentuan Tuhan; bertawakal; dan tidak tertarik tipu daya dunia. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Qana’ah adalah harta yang tak akan berkurang, dan mahkota yang tidak akan lenyap (HR Thabrani).

Jadi, orang yang telah memiliki sifat qana’ah, ia telah memagar hartanya sekadar apa yang ada di dalam tangannya, dan tidak menjalar pikirannya kepada yang lain. Tapi Tuan Jangan salah paham. Agama tidak melarang Tuan bekerja mencari penghasilan. Tidak menyuruh berpangku tangan  lantaran sudah ada harta. Yang demikian itu bukanlah qana’ah tapi malas. Bekerjalah. Sebab manusia dikirim Tuhan ke dunia untuk bekerja. Tetapi tenangkan hati, dan yakinlah bahwa di dalam pekerjaan itu ada kalah dan menang. Jadi, Tuan bekerja bukan lantaran memandang harta yang ada belum mencukupi . Tetapi bekerja lantaran orang hidup tak boleh menganggur. Demikian Hamka.  

Qana’ah yang dimaksudkan Buya Hamka adalah qana’ah hati. Bukan qana’ah ikhtiar. Sebab bukankah di antara sahabat Nabi tidak sedkit yang berharta miliun, punya banyak rumah-sewa, ladang pertanian, ternak, berniaga sampai luar negeri, dan seterusnya. Dan mereka tetap qana’ah.  Dan jangan lupa: qana’ah sungguh besar faedahnya ketika harta yang melimpah itu terbang tiba-tiba.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda