Bintang Zaman

Bisri Syansuri (3): Mendahulukan Teman

Written by Iqbal Setyarso

Perbedaan pendekatan dalam menghadapi persoalan, membuat Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Wahab Hasbullah sering berbeda pendapat. Di antaranya tentang pembubaran DPR dan pembentukan DPR GR  oleh Bung Karno. Mengapa ia menolak jadi rais aam PBNU?

Bisri Syansuri berteman dengan Wahab Chasbullah di pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Waktu itu Bisri berusia 15. Keduanya lantas mengikat persahabatan yang kukuh. Di situ ada Bisri, di situ hampir selalu ada Wahab. Kebetulan mereka punya semangat keilmuan yang sama-sama tinggi.

Persahabatan mereka terus terjalin kuat setelah mondok di pesantren Syaikhona. Wahab yang usianya empat tahun lebih tua, mengajak sahabatnya itu nyantri kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Kedua sahabat ini kemudian bersama-sama melanjutkan studi di Mekah. Keduanya punya guru yang sama pula. Persahabatan antara keduanya semakin erat setelah Bisri dijodohkan Wahab dengan adiknya, Nur Khodijah. Bisri dan Nur Khodijah menikah di Mekah, saat adik perempuan Wahab itu menunaikan haji.

Ikatan batin antara keduanya terus terjaga sampai tua, ketika keduanya menjadi ulama yang disegani, khususnya di kalangan warga NU. Wahab yang suka bersantap di warung makan, hampir tak pernah lupa minta dibungkuskan makanan yang paling enak, sebagai oleh-oleh untuk sang adik ipar. Dan kalau mereka menikmati hidangan bersama, Wahab tak segan-segan mengambilkan lauk-pauk yang paling enak ke piring Bisri, dan baru mengambil untuk dirinya sendiri.

Bisri dan Wahab sama-sama cakap, getol mengasah nalar, serta piawai dalam berdiskusi. Biasanya dalam forum-forum musyawarah, keduanya terlibat perdebatan sengit. Tidak hanya ketika masih mondok, tapi juga sesudah mereka jadi orang, berkiprah di masyarakat dan bergiat di organisasi.

Maklumlah keduanya memiliki pendekatan berbeda. Wahab berparadigma multisektoral, cenderung memilih hukum (Islam) paling ringan. Wahab berpandangan, untuk apa menerapkan hukum yang berat, kalau ada hukum yang lebih  ringan yang sejalan dengan kesanggupan umat menanggungnya. Bukankah tujuan hukum untuk dipraktikkan?

Sebaliknya Bisri berparadigma fikih dalam segala urusan, lebih berhati-hati dan cenderung memilih hukum yang paling berat. Bisri mendasarkan pengambilan hukum pada faktor mental manusia. Manusia cenderung menghindari hukum, seringan apa pun hukum itu. Maka lebih baik, diterapkan hukum yang lebih berat, toh bakal ditawar lagi, sehingga kalaupun seseorang melanggarnya, ia masih bisa ditampung oleh hukum yang lebih ringan. Bisri diidentikkan dengan pengaju fatwa-fatwa keras karena hanya memberikan dua pilihan, halal atau haram.

Perbedaan pendekatan itu tampak saat mereka menyikapi keputusan sepihak Presiden Soekarno membubarkan DPR yang tak cocok dengan selera politiknya dan menggantikannya dengan DPR Gotong Royong (DPR GR). DPR GR prosesnya bukan dipilih rakyat meski namanya Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi diangkat oleh sang Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, Wahab yang kala itu menjadi rais aam NU, memandang pembubaran itu bisa berarti kekosongan kekuasaan sehingga NU perlu mengisi DPR GR tanpa mempersoalkan pengangkatan (yang tak lazim) itu. Sebaliknya Bisri Syansuri bersikukuh dengan pendapatnya bahwa menggusur wakil rakyat seenaknya dan mengangkat penggantinya bertentangan hukum fikih tentang pemeliharaan hak rakyat. Meski demikian Bisri selaku wakil rais am, sebatas menyatakan sikap, tetapi sikapnya itu tak mempengaruhi kesetiaannya kepada NU. Berbeda di dalam, tetapi keluar tetap satu NU.

Tak selamanya mereka berseberangan pendapat. Boleh jadi, dengan ketetapan hati berlandaskan fikihlah mereka memutuskan NU keluar dari Masyumi pada periode 1952-1953 dan memilih menjadi partai politik tersendiri. Pada Pemilu 1955, terbukti NU keluar sebagai salah satu partai besar, di samping PKI, PNI, dan Masyumi.

Pemikiran boleh berbeda, bak bumi dan langit, tapi persahabatan tetap tak terganggu. Di forum mereka boleh beradu argumentasi, di luar mereka adalah dua sahabat tak terpisahkan. Keduanya saling mengasihi dan saling menghormati bak kakak dan adik. Keduanya ibarat dwitunggal yang saling mengisi. Makanya ketika Kiai Wahab terpilih jadi rais aam (Syuriah PBNU), menggantikan KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri dipilih sebagai wakilnya.

Bisri memang tak pernah mau mendahului sahabatnya itu. Kalau keduanya kebetulan sedang berjalan, Bisri tak pernah mengambil posisi sejajar, selalu agak ke belakang. Bisri pun tak pernah mau menjadi imam salat selama masih ada Wahab, kendati kakak iparnya sendiri yang meminta.

Pada muktamar NU di Bandung, 1967, peserta muktamar memilih Bisri Syansuri sebagai rais am, karena Wahab Hasbullah menderita sakit mata, dianggap sudah uzur. Bisri langsung berdiri menuju podium. “Saya tidak bersedia dicalonkan maupun dipilih menjadi rais  selagi KH Wahab Chasbullah masih ada,” katanya lantang.

Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 28 Juli 1999.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda