Tafsir

Tafsir Tematik: Umat Terbaik dan Tafsiran Baru (4)

Adalah kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah…. (Q. 3: 110)

Tetapi, di manakah para ulama, kiai, ustad, dai, modin, para mubalig? Tersebar. Degan catatan: mereka yang berada di lapis terbawah, dalam persentase paling  kecil dan rata-rata dengan kualitas sekadar pas untuk melayani kebutuhan ritual minimal (dan sejatinya bukan pemimpin jamaah), tak lebih berpengaruh dibanding desakan keperluan hidup yang menghimpit saudara-saudara urban yang merupakan butir-butir yang barangkali sebagian besarnya dari jenis yang di Jawa dikenal tempo hari sebagai kaum abangan, atau pokoknya yang berada di luar lingkungan yang masih bisa disebut santri.

Sebagian lagi: dari komunitas Islam jenis NU yang terpelanting dari jamaah di kampung dahulu dan bisa menjadi “rusak”. Sedangkan yang lain campur aduk dari luar Jawa, termasuk Indonesia Timur. Desakan pencarian rezeki, yang mendorong mereka berperilaku hampir sepenuhnya di luar kontrol  agama, menyebabkan walaupun tetap saja bisa dilakukan kegiatan amar makruf (dalam pengertian minimal dan tradisional), jenis yang nahi mungkar hampir tidak berbekas.

Sementara itu para ulama lingkungan khas santri memimpin daerah-daerah jantung umat Islam yang sebagiannya, seperti bagian besar yang berada dalam jamaah NU, berada di luar wibawa pemerintah. Tidak berarti pengaruh keruntuhan akhlak tidak menjamah lingkungan besar ini: banyak sekali para warga yang bergiat dalam kehidupan luar pesantren, juga yang berhubungan dengan pendidikan, yang ada kaitannya dengan instansi pemerintah dan “tidak boleh tidak” kena percikan, atau dilumuri oleh, atau basah kuyup dengan, budaya sogok-suap-upeti di tengah keharusan loyalitas atau, bagi sebagian besar yang seratus persen swasta, kemestian melakukan kolusi alias kongkalingkong dan uang pelicin.

Kalangan beragama jenis Muhammadiyah, yang banyak duduk di birokrasi, tidak terkecuali: selalu jauh lebih sedikit, di lingkungan jamaah jenis apa pun, yang benar-benar berada dalam pelukan ajaran, untuk soal pencarian rezeki  dan bukan dalam ibadah formal, di banding gelombang besar umat yang “terpaksa” menempuh kemestian-kemestian yang dituntut oleh lingkungan (yang pada akhirnya turut mereka ciptakan).

Sesudah itu, ritualisme (memperbanyak laku ibadah resmi dan bukan ibadah sosial), khasnya pada lingkungan-lingkungan besar sekitar tarekat, atau mendekatkan diri kepada kiai, meramaikan acara-acara syi’ar  sebagai peneguhan simbol-simbol agama, atau turut  “membela Islam” dalam wujud perjuangan hingar-bingar kelompok,  melawan  “musuh-musuh Islam” atau musuh golongan, bisa menolong  “menyeimbangkan” kehidupan kejiwaan mereka dan memberikan rasa aman di dalam ikatan solidaritas. 

Bersambung.

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 2 Desember 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda